{"id":105886,"date":"2021-02-11T08:03:30","date_gmt":"2021-02-11T01:03:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=105886"},"modified":"2021-02-11T07:42:45","modified_gmt":"2021-02-11T00:42:45","slug":"indie-nesian-idol-bukti-lagu-indie-mulai-diterima-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/indie-nesian-idol-bukti-lagu-indie-mulai-diterima-masyarakat\/","title":{"rendered":"Indie-nesian Idol: Bukti Lagu Indie Mulai Diterima Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p><em>Ternyata, Indonesian Idol sekarang bukan dipenuhi lagu pop, doang. Kini sudah merambah ke lagu indie.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saya terakhir kali mengikuti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesian Idol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pas yang juara itu Mbak Novella, tapi yang lebih terkenal malah Virzha. Ketika saya googling sudah tujuh tahun lalu (2014). Selepas itu sampai sekarang saya sudah tidak melihat secara istikamah kompetisi ini. Jadwal yang terlalu malam adalah sebab utamanya, sudah begitu iklannya lama jadi makin malas untuk menontonnya. Sampai ketika saya iseng-iseng membuka kanal YouTube <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesian Idol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> musim 2021 kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi pandemi tidak menyurutkan kompetisi ini. Walaupun tanpa penonton sekalipun tetap dianggap seru dan menarik. Gimik-gimik dari para juri dan host seakan mengganti bagaimana sorakan dan teriakan dukungan selepas kontestan selesai bernyanyi. Katanya sih begitu, tapi saya tidak ingin membahas itu di tulisan ini. Oke, kembali ke fokus bahasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas membuka kanal YouTube saya baru tahu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesian Idol <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sudah sampai babak Spekta 3. Cukup cepat juga padahal rasanya baru kemarin audisi. Lalu saya lanjut scroll-scroll sampai pada satu judul menarik. Kontestan bernama Kelvin membawakan lagu \u201cSesuatu di Jogja\u201d-nya Adhitia Sofyan. Saya langsung kaget, hah beneran ini lagu dinyanyiin di Idol? Langsung saya buka dan benar dinyanyikan dengan pembawaan yang beda nan megah. Gokil sih ini, baru pertama kali saya melihat kontestan membawakan lagu indie dan diapresiasi sebegitu bagusnya oleh para juri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas menikmati penampilan Kelvin, akun YouTube saya merekomendasikan lagu lain di kanal ini. Muncul kemudian lagu yang dibawakan Femila yaitu \u201cHalu\u201d dari Feby Putri. Waduh lagu indie lagi, nih. Setelah itu saya buka lagi cari lagu lain dan saya menemukan berbagai macam lagu dari musisi indie. Lagu-lagu dari Hindia, Fiersa Besari, Payung Teduh, Pamungkas, Nadin Amizah, dan Diskoria pernah dibawakan oleh masing-masing kontestan di Idol dengan berbagai ciri khas mereka tentunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang menarik adalah di tiga babak Spekta berturut-turut tak pernah absen dari lagu-lagu indie ini. Tak sampai itu, rata-rata lagu yang dibawakan kontestan berhasil memuaskan banyak juri dan penonton. Anda bisa lihat berapa jumlah views yang didapat di masing-masing lagu indie tersebut. Apabila dibandingkan dengan lagu mainstream tak kalah jauh lah, ya, bahkan ada yang tembus sejuta dua juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya ini adalah sebuah kabar baik bagi khazanah permusikan Indonesia. Lagu-lagu yang dulunya hanya dinikmati kalangan tertentu kini bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Sebuah langkah maju bagi musisi indie yang karya mereka bisa diapresiasi dengan cukup elegan. Susah loh untuk bisa membuat karya kita sendiri dikenal banyak orang, di TV lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran saking terbawa suasananya, saya mencari-cari lagu-lagu apa saja sih yang pernah dibawakan oleh kontestan musim ini. Lalu saya perbandingkan dengan musim sebelumnya. Kebetulan di musim sebelumnya saya pernah melihat ada yang pernah membawakan lagu indie juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, sayang di musim sebelumnya tidak dikomentari dengan baik oleh para juri. Malah mereka tidak terlalu mengerti makna dari lagu yang dibawakan dan malah rada ngenyek kalau lagu itu tidak cocok buat Idol. Kata mereka kalau tidak salah rasanya hanya seperti lagu di kafe doang. Sakit hati saya pas mendengar komentar juri itu. Bisa saya maklumi kemudian hari, mungkin aransemennya masih kurang pas, soalnya mungkin juga memang baru pertama kali dibawakan oleh band pengiring di Idol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya cek-cek di Wikipedia, ternyata cukup lengkap juga merangkum lagu-lagu yang pernah dibawakan peserta. Musim lalu, saya hitung-hitung ada delapan lagu dari musisi indie yang pernah dibawakan oleh kontestan dari babak Showcase. Iya saya patoki di situ karena mulai dari babak itulah aransemen lagu oleh band pengiring mulai digunakan. Mungkin lebih apabila memasukkan babak-babak sebelumnya. Dari musim itu juga musisi-musisi indie seperti Fourtwnty dan Fiersa Besari bisa tampil di panggung Idol, mungkin pertama kalinya sejak Didi Kempot yang berduet dengan Dion di tahun 2012.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian kalau saya bandingkan dengan Idol musim ini dan hasilnya membuat saya berdecak kagum. Sudah total dua belas lagu, kalau tidak salah hitung, dari musisi indie yang pernah dibawakan kontestan. Perlu diingat ini baru masuk babak Spekta 3 loh, Hyung. Apabila dibandingkan dengan musim lalu jelas ini lonjakan yang signifikan sekaligus menggembirakan. Ini membuktikan kalau lagu-lagu dari musisi indie sudah sah, saya kira, bisa diterima oleh masyarakat masa kini. Tak sampai di situ, kebanyakan juga atau hampir semua malah, lagu-lagu yang dipilih oleh kontestan adalah berbahasa Indonesia. Tambah wow, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu saya pribadi berharap ini terus dilanjutkan oleh para kontestan. Bahwa di Idol, pilihan-pilihan lagu yang dibawakan jadi akan semakin banyak dan beraneka macam variasi, terutama dari lagu indie ini. Dari kolom komentar netizen juga berkoar kalau tinggal lagu dari Ardhito yang belum dibawakan. Sebuah statement yang kuat juga kalau masyarakat kita mulai serius memandang lagu-lagu indie. Dan semoga hal ini membantu musisi-musisi ini untuk terus berkarya lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sukses terus Indonesian, eh, Indie-nesian Idol. Hahaha!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maju terus dunia musik Indonesia. By the way, sekali-kali dong bawain lagunya Jason Ranti, tapi jangan ada sensor yaaa. Woyooo!!!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/indonesian-idol-harusnya-ubah-nama-jadi-indonesian-pop\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Indonesian Idol Harusnya Ubah Nama Jadi Indonesian Pop<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/kevin-winanda-eka-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kevin Winanda Eka Putra<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hal yang menarik dari &#8216;Indonesian Idol&#8217; adalah di tiga babak Spekta berturut-turut tak pernah absen dari lagu-lagu indie ini.<\/p>\n","protected":false},"author":1324,"featured_media":107280,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3817,10657],"class_list":["post-105886","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-indonesian-idol","tag-lagu-indie"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105886","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1324"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105886"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105886\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105886"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105886"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105886"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}