{"id":10555,"date":"2019-08-21T12:30:36","date_gmt":"2019-08-21T05:30:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=10555"},"modified":"2022-01-31T14:59:33","modified_gmt":"2022-01-31T07:59:33","slug":"siapa-sangka-kalau-deadliner-adalah-simulasi-underpressure-menuju-dunia-kerja-yang-sesungguhnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/siapa-sangka-kalau-deadliner-adalah-simulasi-underpressure-menuju-dunia-kerja-yang-sesungguhnya\/","title":{"rendered":"Siapa Sangka Kalau Deadliner adalah Simulasi Underpressure Menuju Dunia Kerja yang Sesungguhnya"},"content":{"rendered":"<p>Pertama-tama, saya perlu memperkenalkan diri saya yang bukan <em>deadliner<\/em>. Saya bukan tipikal orang yang bisa mengerjakan tugas karena kepentok <em>deadline<\/em>. Sama sekali tidak! Sebab bagi saya, mengerjakan pekerjaan dengan <em>deadline<\/em> yang mepet justru membuat inspirasi buntu karena tersumbat <em>keriweuhan<\/em> dan <em>kegupuhan<\/em> saya. Tulisan ini adalah bentuk kesepakatan hati dan pikiran saya tentang teman-teman saya yang dominan <em>deadliner<\/em>.<\/p>\n<p>Mulanya saya berpikir bahwa orang-orang yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/prokrastinasi-menunda-pekerjaan-yang-hanya-menabung-kesengsaraan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">suka menunda tugas<\/a> hingga mendekati masa <em>deadline<\/em> adalah orang-orang malas. Termasuk teman-teman saya yang biasanya suka menunda tugas. Mereka seringkali mengerjakan tugas dalam jangka waktu beberapa jam dari batas <em>deadline<\/em> yang ditentukan. Contohnya ya saat mengerjakan tugas kuliah. Kebetulan yang kami kerjakan waktu itu adalah ujian akhir <em>take home<\/em> yang dikumpulkan lewat WAG kelas.<\/p>\n<p>Saya menyiapkan tugas itu jauh-jauh hari sebelum <em>deadline<\/em> pengumpulan semakin dekat. Namun berbeda dengan teman saya. Ia sengaja menunda tugas ujian akhir karena merasa sama sekali belum mendapat inspirasi. Jadilah ia mengerjakan tugas ujian akhir itu beberapa jam menjelang batas pengumpulan. Ajaibnya, ia berhasil menyelesaikan tugas itu dengan tepat waktu dan ia memperoleh nilai A untuk mata kuliah tersebut.<\/p>\n<p>Saya yang sempat <em>suuzon<\/em> bahwa teman saya ini adalah seorang yang <em>mbeler<\/em> alias kurang disiplin. Akhirnya saya jadi menyadari sesuatu jika sebenarnya dia yang bertipikal <em>deadliner<\/em> ini justru lebih disiplin di bawah tekanan, dari pada saya yang akhirnya berleha-leha di sisa waktu. Akhirnya iseng saya ngobrol sama teman saya yang <em>deadliner<\/em> ini soal apa motivasinya bisa mengerjakan tugas dalam waktu yang sesingkat itu.<\/p>\n<p>Katanya, bagi seorang <em>deadliner<\/em>, bekerja di bawah todongan <em>deadline<\/em> bukan karena mereka pemalas. Hanya saja memang mereka benar-benar baru menemukan inspirasi pada detik-detik terakhir. Lagi pula menjadi <em>deadliner<\/em> juga bisa menjadi simulasi dalam dunia kerja yang penuh tekanan. Jadi, jangan memandang <em>deadliner<\/em> sebelah mata dengan menganggap mereka adalah barisan orang-orang <a href=\"https:\/\/tirto.id\/bukan-generasi-pemalas-bldX\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">pemalas<\/a>. Jauhkan asumsi buruk itu dari mereka.<\/p>\n<p>Menurut teman saya menjadi <em>deadliner<\/em> memilki banyak keuntungan <del>kalau jeli menyadari<\/del>. Tidak selamanya bekerja karena kepentok <em>deadline<\/em> terlihat buruk. Orang-orang awam pun (selain golongan <em>deadliner<\/em>) pasti tidak menyadari keuntungan ini.<\/p>\n<p><strong>1. Membiasakan diri bekerja di bawah tekanan dan <em>deadline<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Kalau kalian pernah membaca lowongan kerja yang pada kolom persyaratan mencantumkan \u2018dapat bekerja di bawah tekanan\u2019, para <em>deadliner<\/em> ini justru maju di garda terdepan. <em>Lha piye Jeh? Wong<\/em> mereka ini sudah terbiasa sama tekanan yang mereka ciptakan sendiri. Mengatasi diri mereka yang penuh tekanan tugas saja sudah terlatih, ya saatnya <em>mundhak<\/em> level tekanan dong. Hidup kan nggak selamanya adem ayem <del>kayak hubunganmu sama doi.\u00a0<\/del><\/p>\n<p>Ya begitu. Para pekerja <em>deadline<\/em> ini bisa menjadikan kebiasaan nugas mepet <em>deadline<\/em> ini sebagai simulasi di dunia kerja. Jadi, jangan suuzan dulu gais. Kalau ada teman kalian yang suka nunda-nunda tugas sampai mepet <em>deadline<\/em>, percayalah jika teman kalian ini para <em>survivor<\/em>. Alias, hidupnya kurang lengkap tanpa tekanan\u2014tekanan <em>deadline<\/em> misalnya.<\/p>\n<p><strong>2. Mengasah kreatifitas dan <em>problem solving<\/em> dalam waktu singkat<\/strong><\/p>\n<p>Sudah bukan rahasia umum, jika para <em>deadliner<\/em> ini sukanya menyelesaikan pekerjaan mereka ya dengan sistem SKS alias sistem kebut semalam. Dengan bekerja kepentok <em>deadline<\/em> mereka bisa membiasakan diri dengan munculnya masalah yang tiba-tiba dan proses pemecahan masalahnya pun mereka dapat dalam waktu singkat. Bingung ya?<\/p>\n<p>Jadi begini my luv, mereka yang suka bekerja dibawah tekanan <em>deadline<\/em> jadi terbiasa memecahkan masalah dalam waktu yang singkat meskipun pada detik-detik terakhir. Inspirasi yang datangnya <em>mbontot<\/em> di detik-detik akhir <em>deadline<\/em> bisa membuat mereka berpikir cepat untuk menyelesaikan pekerjaan. Tentu ini baik untuk persiapan sebelum memasuki dunia kerja. Kita tidak akan pernah tau, masalah apa yang bisa tiba-tiba muncul saat berada di dunia kerja.<\/p>\n<p><strong>3. Menjadi pribadi dengan kemampuan <em>multitasking<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Keuntungan selanjutnya saat menyelesaikan tugas karena kepepet <em>deadline<\/em> adalah menjadi pribadi yang multitasking. Kita sangat tahu, jika kemampuan <em>multitasking<\/em> tidak semua orang memilikinya. Namun, para <em>deadliner<\/em> ini bisa mendapatkan kemampuan itu dari kebiasannya yang suka menyelesaikan pekerjaan di ujung-ujung <em>deadline<\/em>.<\/p>\n<p>Mereka dapat melakukan banyak hal dan menyelesaikan pekerjaan lain yang juga kepentok <em>deadline<\/em> dalam jangka waktu yang berdekatan. \u2018Sekalipun kelarnya mepet, nggak masalah kan? Dari pada nggak dikerjakan sama sekali?\u2019 begitulah kiranya kata mereka untuk memotivasi dirinya sendiri demi mengejar <em>deadline<\/em>.<\/p>\n<p><strong>4. Menjadi pribadi yang tepat waktu, disiplin, dan bertanggung jawab<\/strong><\/p>\n<p>Menurut pengamatan saya terhadap teman-teman saya yang para <em>deadliner<\/em> ini, biasanya mereka menyelesaikan tugas di akhir-akhir batas pengumpulan karena memang mereka memilki tanggung jawab lain di luar satu tugas kuliah. Mereka bisa saja sedang bekerja <em>part time<\/em>, menjadi pengurus organisasi kampus, atau masih berkutat dengan tugas kuliah lain yang lebih <em>deadline<\/em>. Pokoknya mereka ini tidak sedang malas-malasan, gais.<\/p>\n<p>Mereka para <em>deadliner<\/em> dapat mengasah kebiasan mereka untuk tepat waktu, menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban dan amanah-amanah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Meskipun diselesaikan dengan <em>deadline<\/em> mepet, toh pada akhirnya mereka tepat waktu juga. Tanggung jawab pun terselesaikan semua dengan tepat waktu. <em>Good job<\/em>!<\/p>\n<p><strong>5. Melatih kecerdasan intrapersonal<\/strong><\/p>\n<p>Dengan bekerja di bawah tekanan <em>deadline<\/em> mereka jadi mempunyai kecerdasan memahami diri mereka sendiri. Mereka juga dapat berlatih menguasai diri dari kepanikan-kepanikan karena menjelang deadline. Ini berdasarkan pengamatan saya yang melihat teman-teman saya meskipun dikejar deadline juga santuy santuy aja tuh. Rasanya berbeda dengan teman saya yang bukan <em>deadliner<\/em> tapi suka gopoh karepe dewe alias suka panik sendiri (ini termasuk saya, sih).<\/p>\n<p><strong>6. Menjadi pribadi yang optimis<\/strong><\/p>\n<p>\u201c<em>Wes to, mari mari. Sing tuenang,<\/em>\u201d artinya sudahlah, semua akan selesai. Tenang saja. Benar kan? Selain santuy, optimis juga jadi keistimewaan para <em>deadliner<\/em> ini. Mereka jadi sering berdoa biar nutut <em>deadline<\/em> dan jadi insan yang bertawakal. Ya kan sudah tugas semua manusia untuk bertawakal? Memang sih, tapi belum tentu semuanya bisa. Tapi untuk barisan <em>deadliner<\/em> ini sudah pasti bisa, ye khan?<\/p>\n<p>Dengan bekerja mepet <em>deadline<\/em>, mereka bisa jadi pribadi yang optimis saat di dunia kerja. Optimis kerjaan yang numpuk bakal kelar juga\u2014misalnya.<\/p>\n<p>Biasanya juga <em>ndilalah<\/em>. Banyak kejadian-kejadian yang ajaib pada teman saya yang <em>deadliner<\/em> ini. Entah dosen yang tiba-tiba memundurkan batas <em>deadline<\/em>, dosen absen di kelas, atau bahkan tugasnya dibatalin dan diganti tugas lain yang lebih mudah. <em>Pokoke ngger optimis wae<\/em>.<\/p>\n<p>Begitulah sobat-sobat <em>seqalean<\/em>. Menjadi <em>deadliner<\/em> tidak selamanya buruk. Tulisan ini juga tidak bermaksud mengatakan bahwa jadi pemalas banyak keuntungan. Namun, beberapa keuntungan di atas adalah bentuk kesepakatan diri saya terhadap <em>deadliner<\/em> yang sering disalah persepsikan sebagai barisan pemalas. Tidak begitu, <em>my luv.<\/em><\/p>\n<p>Tapi tetap\u2014bagi saya, selama pekerjaan dapat diselesaikan sebelum batas pengumpulan tiba ya lebih baik cepat diselesaikan. Biar bisa <del>leyeh-leyeh<\/del> rehat lah paling tidak. Bagaimana dengan kalian?\u00a0(*)<\/p>\n<div>\n<div><\/div>\n<div><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>.<\/em><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akhirnya iseng saya ngobrol sama teman saya yang deadliner ini soal apa motivasinya bisa mengerjakan tugas dalam waktu yang sesingkat itu.<\/p>\n","protected":false},"author":208,"featured_media":10720,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[2711,2709,2710,568,34,303],"class_list":["post-10555","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-deadline-tugas","tag-deadliner","tag-dunia-kerja","tag-kapan-lulus","tag-mahasiswa","tag-tugas-kuliah"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10555","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/208"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10555"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10555\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10720"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10555"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10555"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10555"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}