{"id":10525,"date":"2019-08-21T09:30:07","date_gmt":"2019-08-21T02:30:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=10525"},"modified":"2019-08-21T14:10:45","modified_gmt":"2019-08-21T07:10:45","slug":"menjadi-orang-yang-berbeda-di-facebook-twitter-dan-instagram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjadi-orang-yang-berbeda-di-facebook-twitter-dan-instagram\/","title":{"rendered":"Menjadi Orang yang Berbeda di Facebook, Twitter, dan Instagram"},"content":{"rendered":"<p>Media sosial atau dikenal dengan sebutan medsos adalah sarana bagi manusia mengekspresikan dirinya. Di masa kini, sebagian besar masyarakat memiliki akun di medsos, baik di Facebook, Twitter, hingga Instagram. Termasuk saya.<\/p>\n<p>Saya merupakan jenis manusia pengguna aktif medsos. Mulai dari yang banyak digandrungi hingga yang sedikit peminatnya. Namun dari sekian banyak akun medsos yang saya miliki, akun di platform Instagram, Facebook, dan Twitter adalah yang paling sering saya gunakan.<\/p>\n<p>Tujuan awal pembuatan akun-akun di medsos tersebut berbeda-beda. Seperti ketika saya membuat akun di Facebook, yaitu karena medsos itulah yang pertama kali <em>hype. <\/em>Saya masih ingat, pertama kali membuat akun di Facebook adalah saat kelas 2\u00a0 SMP. Itu pun pembuatannya harus dipandu oleh guru mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).<\/p>\n<p>Semakin tinggi jenjang pendidikan, saya mulai mengenal Twitter. Pembuatan akun Twitter hanya agar saya saling terkoneksi dengan teman-teman sekelas di SMA. Saat itu, fitur <em>mention <\/em>dan<em> retweet <\/em>di Twitter merupakan sesuatu yang unik. Belum ada di Facebook. Belum lagi cara pertemanannya yang hanya perlu <em>follow, <\/em>tanpa harus mengajukan <em>add friend <\/em>dan menunggu lama seperti di Facebook.<\/p>\n<p>Setelah Twitter, saya kemudian <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/kalau-jumlah-like-instagram-disembunyikan-apa-kabar-selebgram\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">beralih pada Instagram<\/a>. Sebenarnya, awalnya saya tidak terlalu tertarik pada medsos ini. Selain harus <em>upload<\/em> foto sebagai syarat <em>update<\/em>, saya juga menghabiskan banyak kuota dengan melihat <em>postingan <\/em>orang lain. Satu-satunya alasan mengapa saya memiliki akun di Instagram hanyalah untuk mengikuti dan mengetahui kegiatan terbaru dari personil <a href=\"https:\/\/tirto.id\/super-junior-gelombang-kebudayaan-populer-korea-di-dunia-dbNK\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Super Junior<\/a>.<\/p>\n<p>Yup, saya dulu adalah bagian dari ELF (Ever Lasting Friend)\u2014sebutan untuk fans Super Junior. Saat itu, rupanya virus Instagram juga menjangkit para<em> bias <\/em>(idola) saya di Suju. Maka, jadilah saya memiliki akun Instagram hanya karena tidak mau ketinggalan <em>update <\/em>info tentang mereka.<\/p>\n<p>Lalu, ketika saya sudah berhenti menjadi ELF (tepatnya ketika Sungmin, salah satu personil Suju menikah), saya mulai <em>unfollow <\/em>semua akun-akun personil Suju\u2014sekaligus teman-teman sesama ELF. Saya juga melakukan hal yang sama dengan akun saya yang lain, seperti Twitter dan Facebook (meskipun sampai hari ini, saya akui bahwa saya masih Kpopers) kemudian mulai membangun dan menjadikan <em>medsos <\/em>sebagai profil pribadi.<\/p>\n<p>Semakin lama, saya mulai menemukan pola perbedaan penggunaan akun Facebook, Instagram dan Twitter saya. Semakin banyaknya orang-orang memiliki akun di dunia maya tersebut, semakin saya merasa tidak memiliki privasi di sana. Apalagi ketika teman, tetangga, sepupu, dan keponakan juga mengetahui akun yang saya gunakan.<\/p>\n<p>Akhirnya, saya memutuskan untuk membatasi aktivitas di beberapa akun medsos. Facebook adalah medsos pertama yang saya batasi penggunaannya. Alasannya karena kini banyak tetangga saya sudah menggunakan Facebook. Mereka sering sekali mengomentari status bahkan foto yang saya unggah. Beruntung jika berkomentarnya hanya di dunia maya, di kolom <em>comment. <\/em>Lah, ini seringnya mereka malah berkomentar di dunia nyata.<\/p>\n<p>Pernah suatu kali saya pergi ke warung, berniat membeli keperluan dapur. Eh, penjaga warungnya malah bilang, &#8220;Mbak kemarin foto sama cowok. Pacarnya, ya? Saya lihat di Facebook.\u201d Mendapati komentar semacam itu di dunia nyata, sungguh membuat saya <em>awkward. <\/em><\/p>\n<p>Apalagi warung adalah tempat orang-orang berkumpul, duduk mengobrol sambil bergosip. Saya lantas mendapat sorakan, nasihat hingga teguran. Padahal, saya jomblo, <em>hiks<\/em>. Itu hanya foto teman sekelas yang kebetulan <em>ngetag <\/em>saya.<\/p>\n<p>Setelah peristiwa itu, inginnya sih, membatalkan pertemanan atau blokir tetangga tersebut di Facebook, tapi takut kena tegur lagi. Jadinya, ya sudah, saya memilih menjadi pengguna pasif saja. Hingga kini, Facebook hanyalah media tempat saya <em>share <\/em>info <em>link<\/em> berita saja. Tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan saya di dunia nyata.<\/p>\n<p>Lalu Instagram. Seperti yang sudah saya katakan di awal, saya kurang <em>sreg <\/em>sama medsos ini. Maka, setelah saya berhenti menjadi ELF, saya kemudian mulai <em>follow<\/em> akun teman-teman yang saya kenal. Nah, karena banyak yang kenal, saya jadi malas menggunakan medsos ini. Selain itu, saya juga sering kali menemukan penipuan muka di Instagram. Semua orang seperti memasang pencitraan, berlomba-lomba untuk memperlihatkan bahwa hidupnyalah yang paling sempurna.<\/p>\n<p>Apalagi untuk mereka yang dikaruniai kepercayaan diri tinggi, Instagram memang tempat yang cocok untuknya. Tapi, tidak untuk saya yang sangat pemalu <span style=\"text-decoration: line-through;\">dan malu-maluin<\/span> ini. Saya memilih untuk menjadi pengguna pasif yang seringnya hanya mem<em>-posting<\/em> foto buku-buku yang sudah saya baca atau hal-hal yang saya anggap menarik. Sudah, hanya itu.<\/p>\n<p>Satu-satunya tempat saya berekspresi dengan bebas adalah Twitter. Di sana, saya bebas <em>bacot <\/em>dan <em>sambat <\/em>tanpa khawatir akan ketahuan tetangga, teman atau saudara. Bukan karena akun Twitter saya diprivasi, namun karena mereka memang tidak bermain di Twitter.<\/p>\n<p>Selain itu, akun Twitter saya juga minim <em>follower, <\/em>sekalipun ada <em>followernya, <\/em>tak ada satu pun yang bersinggungan setiap hari dengan saya di dunia nyata. Jadi, saya merasa bebas. Rasanya setiap <em>tweet<\/em> yang tulis, seperti sebuah obrolan saya dengan diri saya sendiri. <em>hehe<\/em><\/p>\n<p>Saya yakin, tiap orang yang bermain di medsos pasti juga memiliki satu saja akun yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri, bahasa kerennya <em>alter-account. <\/em>Tempat yang hanya menjadi milik dia seorang, tanpa perlu memakai topeng, tanpa sibuk memikirkan <em>caption <\/em>atau peduli pada tanggapan orang lain.\u00a0(*)<\/p>\n<div>\n<div><\/div>\n<div><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>.<\/em><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tujuan awal pembuatan akun di medsos tersebut berbeda-beda. Seperti ketika saya membuat akun di Facebook yaitu karena medsos itulah yang pertama kali hype.<\/p>\n","protected":false},"author":200,"featured_media":10699,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[460,1093,102,421],"class_list":["post-10525","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-facebook","tag-instagram","tag-media-sosial","tag-twitter"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10525","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/200"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10525"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10525\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10699"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}