{"id":105209,"date":"2021-02-04T09:14:59","date_gmt":"2021-02-04T02:14:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=105209"},"modified":"2022-01-07T16:46:39","modified_gmt":"2022-01-07T09:46:39","slug":"baca-komik-fotokopi-ala-jogja-greget-dan-penuh-kritik-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/baca-komik-fotokopi-ala-jogja-greget-dan-penuh-kritik-sosial\/","title":{"rendered":"Baca Komik Fotokopi ala Jogja: Greget dan Penuh Kritik Sosial"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah kamu sudah pernah baca komik fotokopi ala Jogja?<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keanekaragaman dunia seni Jogja tak perlu diragukan. Apa pun yang ada di Jogja, bisa kita sebut seni, begitulah romantisasi Jogja. Anda bisa menumpuk batu kemudian di foto, orang-orang yang melihat akan percaya Anda seorang seniman. Coba kalau di kampung saya, pasti saya dibilang kurang kerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anda bisa berbaju compang-camping dan masuk warung kopi. Anda bisa duduk di sana setiap hari dengan uang seadanya, dan banyak orang akan menganggap Anda seniman atau perupa. Anda boleh gabut sambil nongkrong atau jalan-jalan setiap hari sambil menenteng laptop, orang di Jogja mungkin mengira Anda sebagai budayawan, penulis, atau seniman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, Jogja itu nyaman untuk banyak orang. Anda bisa jadi pengangguran dan tak ketahuan menganggur, jika ngekos di kota Jogja, asal kelihatan sedang ngetik atau melukis. Begitu juga yang terjadi dengan seni di Jogja. Apa pun itu, bisa dan boleh jadi seni. Semua bisa menjadi nyeni buat Jogja. Tak terkecuali media komik alias cerita bergambar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu jenis komik yang dianggap nyeni, adalah komik fotokopi. Sesuai namanya, komik ini dibuat dan dicetak dengan cara memfotokopinya. Lebih dari dua dekade lalu, budaya ini muncul untuk jadi beken di kalangan anak muda Jogja. Saya dapat akses untuk menikmati komik fotokopian sejak kecil. Namun, saat saya ngekos di depan ISI Jogja tahun 2013, saya baru mendapat banyak akses ke banyak karya komik fotokopian yang lebih gila isinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya kecil, sekitar tahun 2003, om saya kerja di salah satu percetakan di Jogja. Beberapa kali blio membawakan saya komik fotokopian bikinan Swacomsta, yang dicetak di Percetakan Poespo, Godean. Swacomsta hanya satu dari banyaknya pembuat komik fotokopian di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada komik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Old Skull<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bikinan Athonk, yang dibuat pertama kali pada 2001, saat blio di Hawaii. Bahkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Old Skull<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sempat memenangkan Kosasih Award 2007, untuk \u201ckomik indie terbaik satu dekade\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Tumbuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, komik bikinan Eko Nugroho. Eko Nugroho, dikenal sebagai seniman kontemporer Jogja, yang pernah nongol di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">AADC2<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ketemu Mbak Dian Sastro. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Tumbuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih eksis hingga kini, banyak karya dari pembuat komik independen yang dirangkum di komik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Tumbuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang kini sudah sampai volume ke 12. Tak banyak lagi yang masih aktif bikin komik fotokopian, sekarang semua serba online.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komik independen, hiburan yang kini sudah banyak jenisnya. Kita lihat saja di Instagram, ada banyak akun komik independen. Ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tahilalats<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Komik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Si Nopal, Goresan Dody<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dll. Namun, di tengah kemudahan baca komik di gawai, saya kira komik fotokopian harusnya masih tetap bisa kita nikmati. Baca komik di gawai itu kaya kurang greget gitu. Walau tentu saja, harus beli dan keluar kocek kalau pengin baca komik fotokopi. Namun, beberapa komik fotokopi, memperbolehkan kita untuk membajak karyanya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Tumbuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> contohnya, sejak awal komik ini memang punya tagline, halal untuk dibajak. Jadi, bagi yang minat bisa buka website Eko Nugroho atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Tumbuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Selain itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Daging Tumbuh <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sendiri serupa Mojok, menerima kiriman karya orang lain. Media-media seperti ini yang kita butuhkan. Selain bisa menikmati karya orang lain, juga bisa menyuarakan pendapat lewat karya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komik fotokopi, muncul secara underground dengan keresahan-keresahan pembuatnya. Saat kecil dulu, saya agak bingung dan kurang mengerti isi dari komik fotokopian itu. Masa gambar anak-anak seni rupa ISI kok jelek-jelek. Namun, rupanya ada banyak pesan mendalam dalam karya-karya mereka. Tak beda jauh dengan komik kekinian di IG, yang bisa diselipkan kritik sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, komik fotokopian tumbuh bersama mural khas Jogja, yang sayang kini tak dirawat. Ada banyak mural bikinan para seniman lukis tradisional Jogja, yang kini justru dirusak oleh anak orang yang mengaku pelindung seniman jalanan. Dulu sekitar 2000-an, mural didukung oleh pemerintah, kini mereka disebut melakukan vandalisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Quote \u201cJogja ora didol\u201d yang dahulu banyak ditemui di mural dan komik fotokopian, lama-kelamaan makin hilang. Mungkin juga, karena pembuat mural Jogja aman sekarang, kurang mengerti Jogja dan cuma bisa nulis namanya dengan bentuk huruf yang bagus dengan cat semprot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa, Jogja tak hanya terbuat dari hujan dan angkringan semata. Jogja juga terbuat dari mural dan komik fotokopian. Seni rupa Jogja yang dahulu menceritakan Jogja dan kebingunganya Jogja sendiri, kini masih banyak ditemui. Meski sekarang sudah tak sebesar saat masa kejayaan mural dan komik fotokopi khas Jogja. Saya sebut khas Jogja karena punya ciri tersendiri dan juga punya pesan dan kritik yang Jogja banget. Oleh karena itu saya pikir komik fotokopian juga perlu diromantisasi selayaknya mural dan angkringan, yang kini mulai tergeser burjonan. Begitu juga Jogja yang makin bingung dan perlu digugat agar kembali ke hakikatnya. Jogja ora didol!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-menjadi-karyawan-rental-komik-dan-novel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pengalaman Saya Menjadi Karyawan Rental Komik dan Novel <\/a>dan\u00a0<\/strong><strong>tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/bayu-kharisma-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bayu Kharisma Putra\u00a0<\/a><\/strong><strong>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah kemudahan baca komik di gawai, saya kira komik fotokopian harusnya masih tetap bisa kita nikmati.<\/p>\n","protected":false},"author":1151,"featured_media":105779,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13303],"tags":[10535,115],"class_list":["post-105209","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku","tag-baca-komik-fotokopi","tag-jogja"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105209","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1151"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105209"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105209\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105779"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105209"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105209"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105209"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}