{"id":10491,"date":"2019-08-20T12:00:40","date_gmt":"2019-08-20T05:00:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=10491"},"modified":"2022-02-04T12:50:49","modified_gmt":"2022-02-04T05:50:49","slug":"bukan-belum-merdeka-jangan-jangan-kita-hanya-pura-pura-merdeka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-belum-merdeka-jangan-jangan-kita-hanya-pura-pura-merdeka\/","title":{"rendered":"Bukan Belum Merdeka, Jangan-Jangan Kita Hanya Pura-Pura Merdeka"},"content":{"rendered":"<p>Kata kawula bijak, \u201ckita ini sebenarnya belum merdeka, bagi saya pribadi sebenarnya kita hanya pura-pura merdeka.\u201d Apakah benar?<\/p>\n<p>Tepat tanggal 17 Agustus kemarin, negara kita telah merayakan hari kelahirannya untuk yang ke-74 tahun. Tentunya sebagai warga negara yang baik, sudah semestinya kita <a href=\"https:\/\/mojok.co\/hsw\/konsultasi\/celengan\/mending-ngasih-kado-pernikahan-atau-angpao-hayooo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">memberikan kado terbaik<\/a> untuk dipersembahkan kepada negara tercinta ini. Persembahan tersebut tentunya bisa dengan berbagai wujud dan ekspresi sesuai dengan kemampuan kita sebagai warga negara.<\/p>\n<p>Bisa dengan wujud kegiatan perlombaan, <em>istighosahan<\/em> berjamaah se-RT, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/sejarah-kota-batu-berawal-dari-gunung-panderman-eeUh\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>muncak<\/em> ke gunung<\/a> dengan teman-teman, hingga syiar-syiar bijak mengenai kriteria menjadi warga negara yang baik dalam memaknai kemerdekaan melalui twitt ataupun postingan instagram dengan latar foto gagah berdiri di atas gunung dengan bendera merah putih yang berkibar. <em>Aah benar-benar representasi patriotisme milenial yang aduhaai~<\/em><\/p>\n<p>Untuk kategori yang terakhir, memang marak sekali dilakukan oleh banyak kalangan yang merasa bijak. Dan momen kemerdekaan ini menjadi waktu yang pas bagi kawula bijak untuk menebarkan pesan \u2013 pesan motivasi bernada peringatan. Yang paling sering didengar adalah penegasan bahwa \u201ckita sebenarnya belum merdeka\u201d. Pesan ini bahkan dianjurkan langsung oleh <del>raja satire Indonesia yaitu<\/del> <em>Mojok.co.<\/em> <em>haha<\/em><\/p>\n<p>Melalui akun Twitternya dengan nada <em>ngegas<\/em>, Mojok bahkan mengetwitt anjuran yang bertuliskan, \u201c<a href=\"https:\/\/twitter.com\/mojokdotco\/status\/1162536048238292993\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini kesempatan kalian buat ngetweed \u201cKITA SEBENARNYA BELUM MERDEKA !!!11!!!11<\/a>\u201d<\/p>\n<p>Kemudian twit <del>yang inspiratif<\/del> ini dilanjutkan oleh para <em>followersnya<\/em> yang julid dengan menambahkan kata lanjutan seperti, \u201ckita belum merdeka, <em>wong<\/em> nyatanya masih banyak yang ngetwit jangan lupa bahagia\u201d atau \u201ckita sebenarnya belum merdeka, warganya <em>aja<\/em> masih banyak yang jadi budak cinta\u201d atau \u201ckita sebenarnya belum merdeka, karena merdeka adalah bla bla bla dan bla\u201d atau \u201ckita sebenarnya belum merdeka, ha? Kita? <em>Helooo, loe aja kali, gak usah ngajak-ngajak gue<\/em>.&#8221;<\/p>\n<p>Dan saya tidak bisa membayangkan apabila twitt ini dilihat oleh kalangan yang sukanya <em>tereak aseng-aseng<\/em>. Bisa-bisa \u00a0kalimat yang muncul malah \u201ckita sebenarnya belum merdeka, karena kenyataannya kita masih dijajah <em>antek-antek aseng!<\/em> Haduh benar-benar belum merdeka kita ini.<\/p>\n<p>Secara temporal, makna kemerdekaan berkembang secara parsial dan kontekstual, bukan hanya perihal kemerdekaan bangsa saja, yang semuanya sudah dibuktikan dengan <em>de facto<\/em> dan <em>de jure<\/em>, namun tentang kemerdekaan berdaulat yang menyangkut sub terkecil dalam sebuah bangsa, yaitu individu-individu yang ada di dalamnya.<\/p>\n<p>Meskipun dalam istilah terminologi kenegaraan berdaulat bermakna kekuasaan tertinggi, tapi bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, berdaulat memiliki akar kata daulat, yang bermakna kebahagiaan. Dan pernyataan \u201ckita sebenarnya belum merdeka\u201d merupakan pernyataan yang menyangsinkan kemerdekaan dalam konteks berdaulat (kebahagiaan).<\/p>\n<p>Kondisi ini tidak mengherankan bila setiap menjelang kemerdekaan, selalu saja ada pernyataan yang menyangsingkan kemerdekaan kita, karena pada dasarnya secara individu, menurut beberapa orang, <del>termasuk mojok<\/del> bisa dibilang bahwa kita memang belum merasakan kemerdekaan dalam konteks kebahagiaan.<\/p>\n<p>Secara umum segala macam pernyataan bijak namun agak julid tersebut tidak salah, namun menurut saya pribadi, ada pernyataan yang lebih pas dalam merepresentasikan kondisi kemerdekaan (secara daulat) saat ini. Kalau kata kawula bijak, \u201ckita ini sebenarnya belum merdeka, bagi saya pribadi sebenarnya kita hanya pura-pura merdeka\u201d.<\/p>\n<p>Iya, kondisi kita saat ini lebih tepat disebut pura-pura merdeka dari pada \u201cbelum\u201d merdeka.<\/p>\n<p>Apabila \u201cbelum\u201d merdeka dimaknai sebagai sesuatu yang belum terjadi dan masih tidak terjadi, sedangkan \u201cpura-pura\u201d merdeka adalah sesuatu yang belum terjadi dan direkayasa dengan kebohongan untuk terjadi. \u201cKepura-puraan\u201d kita untuk merdeka menghadirkan akibat yang lebih kompleks ketimbang hanya sekedar \u201cbelum\u201d merdeka.<\/p>\n<p>Diibaratkan seperti kamu yang mengetahui kalau si doi belum mencintaimu, dan berusaha membuat dia mencintaimu, karena ada kemungkinan dia akan mencintai dirimu.\u00a0Bandingkan bila kamu mengetahui ternyata si doi selama ini pura-pura mencintaimu karena dia menginginkan uangmu untuk membeli skin care miliknya. Atau dia pura-pura mencintaimu karena kamu terlihat baik padanya.<\/p>\n<p>Tentunya akan lebih melegakan yang pertama dengan konteks \u201cbelum\u201d dari pada \u201ckepura-puraan\u201d. Kata \u201cbelum\u201d mengindikasikan bahwa sesuatu belum terjadi karena beberapa batasan dan kekurangan. Sementara \u201ckepura-puraan\u201d menstimulusasi kebohongan sebagai sarana untuk membuat sesuatu seolah olah terjadi, padahal sebenarnya tidak. Dan itu dilakukan seseorang dengan penuh kesadaran.<\/p>\n<p>Dalam konteks kemerdekaan yang berdaulat, secara individu kita kerap kali menerapkan kepura-puraan kita. Yang pada dasarnya kita sebenarnya terjajah secara sadar dan menerapkan kepura-puraan sebagai tameng kemerdekaan kita terhadap kedaulatan diri kita masing-masing.<\/p>\n<p>Dari hal yang paling sederhana misalnya, keterjajahan mata kita. <em>Yah nyuwun sewu<\/em>, \u00a0Banyak dari kita yang ketika melihat orang yang dikenal tetapi pura-pura tidak melihatnya, dengan dalih biarkan dia yang memanggilku duluan. Toh saya ini senior, toh saya ini lebih pintar, toh saya ini kan pejabat, dan <em>ngeles-ngeles umbrus<\/em> lainnya.<\/p>\n<p>Dalam konteks kemerdekaan, mata kita mempertontokan kemerdekaan dibalik terselubungnya keterjajahannya terhadap tindakan yang kita lakukan. Nah <em>iya to wong mata kita ini lihat kok, malah mbok paksa buat nggak lihat. <\/em><\/p>\n<p>Perilaku keterjajahan ini kemudian memunculkan keterjajahan lainnya yaitu berupa terjajahnya kita terhadap sikap gengsi yang tinggi. Aah masak saya yang senior ini harus menyapa duluan, ah masa yang muda harus menyapa duluan <em>kan nggak enak<\/em>. Begitu terus sampai <em>mbulet<\/em> hingga akhirnya alam berkonspirasi dengan posisi berpapasan dan kemudian lahirlah salah tingkah.<\/p>\n<p>Keterjajahan kita terhadap gengsi pada konteks lain bahkan semakin parah ketika kita memiliki status sarjana. <em>Mosok<\/em> sarjana kok jadi petani, <em>mosok <\/em>saya yang lulus cumlaude harus jadi <em>driver ojol<\/em>, masak saya yang lulusan UI cuma digaji 8 juta, <em>heloooo di mana nalar gengsi kaliaan saudara-saudara, \u00a0bangsa kita sudah merdeka tapi kalian masih saja terjajah oleh gengsi. Ramashoook !<\/em><\/p>\n<p>Pada kasus lain, kita bahkan dengan polosnya mempertontonkan keterjajahan kita terhadap kegilaan eksistensial. Dan kita dengan bangga menyebutnya sebagai kemerdekaan individual. <em>Ngeposting<\/em> foto liburan di Instagram, bikin <em>caption<\/em> yang romantis badai, <em>upload story<\/em> belanja di mall, semua itu dilakukan demi sebuah like dan komen dan kebutuhan dahaga kita akan eksistensi kita masing-masing, kebebasan berekspresi <em>coy<\/em>, masak dibilang dijajah.<\/p>\n<p><em>Yah coba deh rasain aja<\/em> ketika kita sehari tidak posting di media sosial, bila hatimu terasa gundah gulana, maka artinya anda sudah terjajah.<\/p>\n<p>Selain sedikit kasus di atas, masih banyak keterjajahan kita yang kita tutupi dengan kepura-puraan bahwa kita telah merdeka secara berdaulat. Misalnya, keterjajahan kita terhadap <em>mindset<\/em> yang salah, keterjajahan kita terhadap gaya hidup, hingga yang paling parah adalah keterjajahannya kita terhadap masa lalu. Sungguh yang terakhir benar-benar kita nikmati.<\/p>\n<p>Pada kenyataannya, Jujur dalam hati kita tentu merasa benar-benar tidak nyaman dengan kondisi \u00a0\u201ckepura-puraan\u201d kita atas kemerdekaan yang kita lakukan? Yah tapi mau bagaimana lagi, \u201cpura-pura\u201d merdeka adalah cara orang jaman sekarang untuk mengarungi kehidupan berbangsa yang telah merdeka ini.<\/p>\n<p>Meski di satu titik kita sebenarnya perlu untuk memerdekan kedualatan diri sendiri dengan menerima keadaan dan kondisi di lingkungan sekitar kita dengan penuh keikhlasan.<\/p>\n<p>Hingga akhirnya saya juga sadar, bahwa selama ini saya juga terjajah oleh mojok yang selalu menolak tulisan saya. Hadeeehhh.\u00a0(*)<\/p>\n<div>\n<div><\/div>\n<div><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>.<\/em><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau kata para kawula bijak, \u201ckita ini sebenarnya belum merdeka, bagi saya pribadi sebenarnya kita hanya pura-pura merdeka.\u201d <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":10605,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[31,2680,2343,2679],"class_list":["post-10491","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-indonesia","tag-kawula-bijak","tag-kemerdekaan","tag-pura-pura-merdeka"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10491"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10491\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10605"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}