{"id":104832,"date":"2021-02-01T06:21:34","date_gmt":"2021-01-31T23:21:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=104832"},"modified":"2022-01-07T16:50:52","modified_gmt":"2022-01-07T09:50:52","slug":"romantisnya-rute-jogja-purworejo-kebumen-yang-penuh-jalan-berlubang-sana-sini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/romantisnya-rute-jogja-purworejo-kebumen-yang-penuh-jalan-berlubang-sana-sini\/","title":{"rendered":"Romantisnya Rute Jogja-Purworejo-Kebumen yang Penuh Jalan Berlubang Sana-sini"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu mangkel dengan jalan berlubang, terutama sekumpulan lubang di sepanjang jalur Yogyakarta \u2013 Purworejo \u2013 Kebumen. Berkali-kali hampir cilaka saya dibuatnya. Menghindari lubang, hampir nabrak truk pengangkut pasir di depan saya. Nerjang lubang, malah ngepot-ngepot dan nyaris nyungsep.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya ada dua itu pilihannya, menghindar atau nerjang. Pun menghindari jalan berlubang tetap akan berujung nerjang lubang lainnya. Sementara kalau nerjang, ya, bakal berujung nerjang lubang berikutnya. Asli bejibun jumlahnya. Alih-alih disebut jalan berlubang, ia justru lebih pantas disebut lubang berjalanan. Udah gitu nggak main-main kedalaman lubangnya. Behhh, dalamnya sampai level maksimal dan saya curiga bisa tembus langsung ke neraka kayaknya. Lubang-lubang cetek di kota mah nggak ada apa-apanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilemanya nggak sekadar di sana. Fokus memperhatikan lubang di depan itu juga memiliki masalahnya sendiri. Otomatis saat memperhatikan lubang, saya memfungsikan penglihatan jarak dekat saya, dan saking khusyuknya, saya sampai lupa dengan apa yang ada jauh di depan saya. Pernah saat asyik ngepot sana ngepot sini, tanpa sadar saya sudah ada di tengah jalan yang bener-bener tengah, dan terdengar klakson bangsat dari bus antar kota antar provinsi kelas ekonomi yang ugal-ugalan itu. Walhasil saya kudu menepi dan menerjang si lubang-lubang lucu nan menggemaskan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghindari jalan berlubang saat berkendara seorang diri itu butuh kesabaran tinggi. Menghindari jalan berlubang saat berkendara dan mboncengin orang lain itu kudu sabar lebih tinggi lagi. Sementara menghindari lubang saat berkendara mboncengin kakak perempuan saya, kadar sabarnya harus dimentokin sementok-mentoknya. Nih, saya kasih simulasinya.<\/span><\/p>\n<p><b>Berkendara sendiri<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: saya sedang fokus memperhatikan lubang-lubang yang bertebaran di hadapan saya, bermanuver ciamik agar nggak nerjang lubang, mendadak manuver saya kurang lihai dan ada lubang yang saya tabrak. \u201cWASUUU!\u201d pasti respons saya demikian. Sabarrr!<\/span><\/p>\n<p><b>Mboncengin orang lain<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: fokus memperhatikan lubang-lubang lucu, ngepot sana ngepot sini menghindari lubang, mendadak yang saya boncengin bersin sampai tubuhnya berguncang, saya kaget, hilang fokus, lantas ada satu lubang mungil yang nggak saya hindar. \u201cWASSYUUU!\u201d respons saya, mengumpat si lubang sekaligus yang saya boncengin.<\/span><\/p>\n<p><b>Mboncengin kakak perempuan saya: <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Saya diminta untuk hati-hati sejak awal keberangkatan. Lantaran saya amanah, saya melakukan apa yang diminta kakak perempuan saya. Menembus jalanan Purworejo \u2013 Kebumen saya lakukan dengan khusyuk dan penuh kesadaran tinggi. Lubang yang berjejeran di sana-sini itu saya tertawakan karena berhasil saya hindari beberapa kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, semuanya berubah saat kakak perempuan saya mulai ngeluh, \u201cCepet dikit, dong. Masa kalah cepet sama angkot yang tiap detik ngetem?\u201d Lahhh, yang tadi suruh hati-hati siapa? Maka saya mulai menambah kecepatan, ngepot sana ngepot sini, bermanuver dengan anggun, menertawakan lubang-lubang lucu, dan mendadak karena congkak, ada satu lubang teramat kecil yang saya tabrak. \u201cWASSS&#8230;.\u201d nggak saya lanjutkan karena ada kakak perempuan saya yang super salehah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGoblok. Ada lubang itu jangan ditabrak. Kan udah mbak bilangin hati-hati!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lahhhh&#8230; lahhh&#8230; yang goblok siapa? Yang salah siapa? Itu lubang-lubang mencekam berhasil saya hindari, giliran ada satu lubang super dangkal yang sama sekali nggak mematikan ketabrak, malah saya yang digoblok-goblokin kakak saya. Kan, lucu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Udah gitu saat beralih dari jalan raya menuju jalanan kampung, situasinya lebih mematikan lagi. Jalanannya bener-bener lubang semua dan digenangi air sehingga saya kudu berspekulasi tentang kedalaman lubang. Bagian yang nggak berlubang justru menjadi dilema lainnya karena eksistensi merekalah yang justru mengganggu. Kalau full lubang semua, sih, malah gampang. Lah, ini ada bagian jalan yang masih utuh dan malah bermanifestasi menjadi gundukan-gundukan kepulauan. Di kawasan ajaib seperti itu, daerah yang berlubang justru lebih nyaman dilintasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seolah belum kelar, pas melintasi jalanan dekat rumah Pak RT\u2014saya tau itu rumah Pak RT karena ada palang penanda hasil karya mahasiswa KKN\u2014dengan kondisi full lubang plus kepulauan itu, kok ya bisa-bisanya ada polisi tidur malang melintang coba? Nggak main-main, bentuknya gagah perkasa, tinggi, dan nggak ada rompel sedikit pun. Di antara rusaknya jalan, secara ajaib muncul polisi tidur yang baik-baik saja, gemuk, dan seolah menertawakan kesusahpayahan saya melintasi jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya, siapa pula manusia versi setengah mateng yang bangun polisi tidur di tengah jalanan bobrok? Fungsinya buat apa? Hiasan? Bentuk hegemoni jalanan? Atau apa? Nggak mungkin biar pengendara melintas dengan pelan. Wong, tanpa polisi tidur kampret itu juga nggak bakal berani ngebut. Lubang di jalan itu sudah masalah tersendiri, sementara polisi tidur yang gagah perkasa di tengah jalan berlubang itu adalah masalah lain yang lebih nggatheli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan belum kelar begitu kakak saya sampai di rumah suaminya. Saya kudu balik lagi ke Purworejo dan melintasi jalanan yang super bedebah itu. Setiap kali menghindari jalan berlubang, saya selalu menyempatkan mengucap, \u201cWASYU!\u201d atau, \u201cGOBLOK!\u201d atau, \u201cPRIIIT!!!\u201d sambil memberi surat tilang ke si polisi tidur sialan di dekat rumah Pak RT itu.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tahun-baru-itu-fana-jalan-berlubang-yang-abadi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tahun Baru itu Fana, Jalan Berlubang yang Abadi <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/riyanto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Riyanto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lubang di jalan itu sudah masalah tersendiri, sementara polisi tidur yang gagah perkasa di tengah jalan berlubang itu adalah masalah lain yang lebih nggatheli.<\/p>\n","protected":false},"author":702,"featured_media":104873,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5061,115,10477,10034],"class_list":["post-104832","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan-berlubang","tag-jogja","tag-kebumen","tag-purworejo"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/702"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104832"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104832\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104873"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}