{"id":104774,"date":"2021-02-02T07:26:15","date_gmt":"2021-02-02T00:26:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=104774"},"modified":"2021-02-01T16:37:44","modified_gmt":"2021-02-01T09:37:44","slug":"eksistensialisme-kierkegaard-dalam-album-blackpink","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/eksistensialisme-kierkegaard-dalam-album-blackpink\/","title":{"rendered":"Eksistensialisme Kierkegaard dalam Album BLACKPINK"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agaknya judul yang melibatkan filsafat dan album BLACKPINK ini bisa membuat orang-orang #AsalBukanKPop dan perendah selera musik orang lain muhasabah diri dan sadar bahwa penikmat musik yang mereka benci secara buta paling tidak, membaca lebih banyak buku daripada mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, apa pun itu, saya hanya akan menulis ini dengan gaya bahasa orang mabuk. Supaya saat tulisan ini akurat saya bisa berbangga bahwa saat mabuk pun wawasan saya lebih luas dari Anda. Sebaliknya kalau tulisan ini keliru saya bisa berdalih bahwa kemabukan sayalah yang membuat tulisan ini tidak akurat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kierkegaard dalam judul merujuk pada sosok S\u00f8ren Abbey Kierkegaard (1813-1855), filsuf Denmark yang digelari Bapak Eksistensialisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di artikel ini saya angkat aliran eksistensialisme yang ternyata di kalangan saya sendiri masih cukup banyak yang sama sekali baru mendengarnya. Tulisan ini tidak berniat mencerahkan orang-orang tersebut. Ini sepenuhnya untuk keperluan narsisme. Saya sendiri baru terpikir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu sore saya berfilsafat tai kucing dengan segala kesia-siaannya sambil mendengarkan kumpulan mp3 yang<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0saya convert dari video YouTube (baca: saya miskin). Entah kenapa saat mengingat kisah hidup Kierkegaard tiba-tiba terputar \u201cLove to Hate Me\u201d lagu dari album BLACKPINK, atau sebaliknya saat mendengar lagu itu saya teringat Kierkegaard. Saya tidak ingat. Ingat, saya mabuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang pasti lirik lagu \u201cLove to Hate Me\u201d yang sepenuhnya bahasa Inggris benar-benar pemantik terbesar munculnya tulisan ini. Untuk lagu lain, saya harus membaca terjemahan sehingga penemuan filosofis terhadap lagu atau album BLACKPINK ini tidak mungkin spontan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petikan lirik \u201cyou ain\u2019t worth my love if you only love to hate me\u201d betul-betul memancing saya untuk menggali lebih dalam kerja-kerja lain dalam album ini. Ya walaupun saya ini bisa dikategorikan sucker for BLACKPINK dan karena itu seandainya mereka bilang, \u201cMenanam padi yang ideal adalah saat pukul 4 sore di planet Venus.\u201d Saya akan turuti dan setujui juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYou ain\u2019t worth my love if you love to hate me\u201d merupakan konsepsi yang mirip tausiyah, namun duniawi. Dalam filsafat eksistensialisme Kierkegaard, konsepsi semacam itu merupakan tahapan kehidupan \u201cetis\u201d di mana dalam hidup, prinsip-prinsip etika dan konvensi umum mulai atau sudah dianggap penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada tiga tahap hidup dalam eksistensialisme Kierkegaard, yakni estetis, etis, dan religius. Dalam satu album <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Album<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ketiga tahap ini dapat kita temui. Kalaupun tidak, tetap akan saya paksakan di tulisan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ice cream yang estetis, \u201cLove to Hate Me\u201d yang etis, sampai pada title tracknya \u201cLovesick Girl\u201d yang religius. Artikel ini akan membagi penjabaran menjadi tiga, seturut tiga tahap hidup dalam eksistensialisme Kierkegaard, dan di masing-masing tahap dijabarkan pula lagu mana yang merepresentasikan tahap tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yoklah kita bahas satu per satu, saya sudah sangat ingin tidur. Eh, sebelum lebih jauh perlu diingat bahwa ketiga tahapan ini sifatnya tidak kontinu, jadi bisa saja anda sudah religius di umur 10 tahun, atau masih estetis saat sudah bungkuk. Oke ya, lanjut.<\/span><\/p>\n<p><b>Tahap estetis<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kierkegaard menyebut bahwa tahap ini adalah tahap di mana segala hal dilakukan dengan motivasi lahiriah (kenikmatan, kebahagiaan, dsb.). Dalam bukunya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Either\/Or <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sosok yang diciptakan Kierkegaard untuk mewujudkan panggung estetika memiliki dua kesibukan, seni dan erotis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sederhananya, seseorang di tahap estetis berpandangan bahwa segala tindakannya tidak ada hubungannya dengan benar dan salah. Kriteria yang mendefinisikan kehidupan yang baik adalah pramoral, tidak peduli dengan yang baik dan yang jahat. Layak tidaknya suatu perbuatan maupun pencapaian dinilai dengan kriteria sendiri yang berbasis kebutuhan lahiriah (pleasure).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Album <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">BLACKPINK yang paling sempurna merepresentasikan tahapan ini adalah \u201cIce Cream\u201d. Lagu yang membuat penggemar es krim kecewa karena ternyata lagu tersebut tidak sepenuhnya tentang es krim di pikiran mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Look so good yeah look so sweet, lookin&#8217; good enough to eat<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, itu \u201cIce Cream\u201d, sepotong lirik itu sendiri sudah menjelaskan tahap estetis bahwa es krim sebagai jajanan enak dan manis bertujuan memuaskan nafsu lahiriah. Anak-anak maupun saya akan senang menerima es krim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, potongan lirik tersebut sebenarnya kurang sempurna dalam menjelaskan tahapan ini karena bisa saja seorang penggemar es krim tidak cukup fanatik untuk disebut estetis. Oleh karena itu mari kita ambil potongan lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">And i&#8217;m nice with the cream, if you know what i mean.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, ini bukan es krim. Secara keseluruhan lagu ini memang sangat duniawi atau lahiriah. Sudah pasti menjunjung tinggi kepuasan lahiriah di atas segalanya. Hal lain yang mendukung? Tentu saja karena kalimat-kalimat persuasif mejurus seduktif dalam lagu ini tidak peduli dengan konsepsi benar atau salah orang lain bahkan lingkungan umum. Kecuali kalau memang hal tersebut merupakan ritual religius di kepercayaan Anda, saya tidak tahu.<\/span><\/p>\n<p><b>Tahap etis<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahap ini merupakan tahap di mana seseorang mulai atau sudah sepenuhnya sadar bahwa dia hidup di masyarakat dan karena itu ia punya kewajiban untuk merefleksikan pandangan umum ke dalam batinnya. Dalam tahap etis, manusia berpegang teguh pada prinsip moral.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu pulalah diketahui bahwa tahapan-tahapan ini sekalipun tidak harus bersifat kontinu, namun mungkin ada semacam hubungan saat tahap sebelumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai berupa tahap setelahnya, dan ketika sampai di tahap tujuan, tahap sebelumnya dipandang sebagai tahap yang subordinat. \u201cMemalukan, akutu nggak seharusnya gitu dulu,\u201d dan semacamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tahap etis, manusia memegang prinsip-prinsip moral dan mulai menerima pandangan umum tentang baik dan jahat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu apa yang ada di tahap ini? Tentu saja lagu yang memantik artikel ini. \u201cLove to Hate Me\u201d. Petikan \u201cYou ain\u2019t worth my love, if you only love to hate me\u201d merupakan ciri dari tahap etis di album BLACKPINK.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang memotivasi seseorang beranjak dari tahap estetis? Refleksi. Ia mulai melihat keadaan di sekelilingnya dan mulai mengamini prinsip-prinsip moral dan baik atau buruk suatu tindakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, dalam lagu ini si penyanyi bukan berada di titik tolak dari tahap estetis ke tahap etis. BLACKPINK dalam lagu ini\u2013atau setidaknya dalam petikan tersebut\u2014menjadi seseorang yang berada di tahap etis itu sendiri. Kepada siapa objek ini ditujukan? Bolehlah dikatakan kepada seseorang yang berada di tahap estetis, yang dalam hal ini adalah haters.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYou ain\u2019t worth my love if you only love to hate me\u201d rasanya merupakan konsepsi awam. Timbal balik. Etis karena meskipun berpegang pada prinsip-prinsip moral, namun masih tetap berpegang pada hal duniawi. Itulah mengapa lagu ini berada di tahap etis, bukan religius. Meskipun konsep lagunya mirip tausiyah, lagu ini tetap berpegang pada prinsip-prinsip duniawi dan sesuai konvensi. Tidak ada hubungan seolah-olah berserah kepada suatu hal maha yang kemudian dianggap yang baik namun tidak logis.<\/span><\/p>\n<p><b>Tahap religius<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya ini sulit dijelaskan. Kierkegaard adalah seorang Kristen taat, dan hal itulah yang memunculkan tahapan ini. Baginya, tahap paling sempurna adalah saat manusia benar-benar meninggalkan hal-hal duniawi dan berserah kepada Tuhan. Untuk hal ini, Kierkegaard mengambil contoh kisah Abraham dan anaknya, Isak. Di mana menurut perintah Allah, Abraham harus menyembelih anaknya. Hal ini berdasarkan prinsip etika dan moral, namun tetap harus dilakukan karena telah sepenuhnya berserah kepada sesuatu yang Maha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kierkegaard juga mengatakan bahwa tahap estetis dan etis hanya akan berujung pada keputusasaan karena semua hal yang menjadi patokan manusia pada tahap itu adalah hal-hal duniawi. Keputusasaan itulah yang membuka jalan seseorang untuk masuk ke tahap religius. Kesadaran bahwa hal-hal duniawi serba terbatas dan justru memberikan hal-hal yang toxic akan menyadarkan manusia untuk tidak hanya bertindak sesuai konvensi manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kierkegaard sendiri mengalami keputusasaan itu dan masuk ke tahap religius di mana ia memutuskan membatalkan pertunangannya dengan Regina Olsen. Suatu hal yang tidak etis, namun atas dasar keputusasaan akan hal-hal duniawi maka harus dilakukan juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam album BLACKPINK, tidak ada satu lagu pun yang bernuansa \u201cberserah\u201d kepada kekuatan maha yakni Allah, sebagaimana Kierkegaard. Namun, sebab saya mabuk, saya akan paksakan satu lagu untuk dimasukkan di tahap ini. \u201cLovesick Girl\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam lagu ini agak sulit sebenarnya untuk secara spontan membedahnya karena masih didominasi bahasa Korea. Namun, setelah saya Googling, setidaknya yang saya tangkap adalah bahwa lagu ini tentang seorang perempuan yang sedih akibat disakiti, namun dia masih bisa mengatasi dan menemukan cinta dan impian baru. Begitu kata Jisoo Sembiring, yang ikut menulis lagu tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, tidak ada dalam lagu \u201cLovesick Gir\u201dl dikutip Yohanes 3:16 atau surat-surat suci lain. Namun, dari poin lain dalam tahap religius bisa kita upayakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin lain adalah dalam tahap religius manusia berserah dan bertindak dengan hal yang dianggapnya harus dilakukan sekalipun tidak masuk akal. Ada beberapa petikan seperti \u201cI&#8217;m Nothing without this pain\u201d, dan \u201cI&#8217;m pitying you for pitying me\u201d yang melambangkan seberapa besar seseorang berpegang pada cinta dan tetap mencari cinta meskipun telah dikecewakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini akan aneh dan bodoh jika kita kaitkan dengan penalaran-penalaran logis. Namun, BLACKPINK dengan keyakinannya tercipta lah lagu ini. Perlu diingat bahwa Kierkegaard dan BLACKPINK sekalipun berbeda dalam terhadap apa mereka berserah, namun sama-sama didorong oleh keyakinan. Keyakinan yang tidak membutuhkan kalkulasi, namun semata putus asa dengan konvensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah ya, saya mau tidur. Tidur sambil meratapi fakta bahwa saya tidak mampu membeli tiket konser online, hiks. Demikianlah tulisan ini. Saya akan tutup dengan penutup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*penutup*<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=2S24-y0Ij3Y\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">BLACKPINK<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/squidward-adalah-perwujudan-diri-kita-dalam-perspektif-absurdism\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Squidward Adalah Perwujudan Diri Kita dalam Perspektif Absurdism<\/a> dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dion-kristian-cheraz-pardede\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Dion Kristian Cheraz Pardede<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<div>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penemuan filosofis terhadap lagu atau album BLACKPINK ini tidak mungkin spontan. Dan saya akan menceritakan prosesnya.<\/p>\n","protected":false},"author":1299,"featured_media":105114,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[5493,47],"class_list":["post-104774","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-filsafat","tag-k-pop"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1299"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104774"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104774\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105114"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}