{"id":104537,"date":"2021-01-30T09:34:15","date_gmt":"2021-01-30T02:34:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=104537"},"modified":"2021-01-30T07:27:12","modified_gmt":"2021-01-30T00:27:12","slug":"cara-menikmati-ftv-kisah-nyata-itu-dengan-cara-nggak-usah-pakai-logika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-menikmati-ftv-kisah-nyata-itu-dengan-cara-nggak-usah-pakai-logika\/","title":{"rendered":"Cara Menikmati FTV Kisah Nyata Itu dengan Cara Nggak Usah Pakai Logika"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyenangkan betul melihat para penulis hebat berargumen di Esai Mojok. Ketika para filsuf berduel pemikiran melalui buku demi buku, di masa kini dipermudah dengan hadirnya Mojok. Isinya pun luar biasa. Bukan kritik akal budi, eksistensialisme Prancis, atau hegemoni Gramsci, melainkan membahas FTV. Luar biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yakni penulis skenario sekaliber Cepi Komara, digugat oleh penulis pilih tanding asal Pekalongan, Muhammad Arsyad. Cepi Komara mencoba \u201cmenjawab\u201d sesuatu yang\u2014maaf\u2014pada akhirnya tak terjawab, Muhammad Arsyad menari-nari dengan argumennya yang paling otonom. Mau sampai lebaran monyet pun keduanya nggak bakal ketemu. Lha wong \u201cindustri\u201d (dengan tanda petik lho, ya) dibenturkan dengan aksi-reaksi ala Arsyad ya nggak ada juntrungannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini seperti melebur air dan minyak. Bermuara di satu tempat yang sama, tetapi nggak bakalan gathuk juga. Saya datang mencoba menjadi penengah, yakni sebagai mediator bagaimana cara pendapat Cepi Komara diterima dan tanggapan Muhammad Arsyad nggak mbentur di industri. Begini, para handai tolan penikmat televisi yang sejatinya sudah nggak nikmat, cara terbaik menikmati tayangan di televisi kita itu adalah meletakkan kepala dan logika sementara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan jadi bodoh atau tanpa melalui proses berpikir, yaaa. Beda\u2014atau ya setidaknya tolong bedakan. Dari zaman Mama saya nangis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Termehek-mehek<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sampai nenek saya muntab dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Katakan Putus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, industri televisi kita itu sudah berubah arah. Dari yang semula penuh pemakluman seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bajaj Bajuri<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang bisa dikata masterpiece, sampai \u201cmohon pemakluman\u201d dari FTV <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak meragukan kapasitas seorang Cepi Komara, ya. Siapa sih yang berani meragukan kapabilitasnya (saya nggak sedang menjilat. Serius). Namun, ya kembali lagi jika kita komparasi dengan tanggapan Muhammad Arsyad yang amat rasional, keduanya nggak bakalan ketemu. Muhammad Arsyad yang terhormat, tugas Anda itu amat sederhana, lihat tayangan itu nggak perlu terlalu jeru. Kalau mau berpikir jeru ya kaji saja FTV lain. \u201cTetanggaku Ternyata Adalah Adiknya Tetanggaku,\u201d misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau dikenyot sampai Bojong Kenyot juga FTV <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu sebatas imaji nggak resmi dari manusia-manusia yang terbangun dari mimpi. Apakah hal yang kita impikan itu adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang teruji klinis \u201ckenyataannya\u201d? bangunin orang koma pakai joget TikTok, misalnya. Kalau kita menganggukan kepala, Sigmund Freud nangis getih di alam sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau dipikir sampai mlotrok, nggak ada itu yang namanya TikTok menyelamatkan orang yang sedang koma. Sehalu-halunya film India, saya bisa menikmati karena itu adalah hiburan. Nah, sama dengan FTV <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, senyata-nyatanya kajian yang ia angkat, ya pol mentok adalah hasil masturbasi si pemilik cerita. Intinya, mbok ya jangan spaneng-spaneng to, Mas Arsyad. Bukan begitu, Mas Cepi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Silogisme paling purba, saya yakin nggak bakalan bisa menjawab keteraturan logika tayangan ini. Saya justru mengendus Muhammad Arsyad berupaya menggali sisi keilmuan dari tayangan ini. Wah, ya, ini namanya cilaka mencit. Apa yang diharapkan dari tayangan seperti ini selain bikin kemekelen? Lantaran yang dituju adalah sisi hiburan, bukan pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, ya, mencerdaskan bangsa adalah salah satu tujuan negara. Namun, ya jangan dibebankan kepada FTV macam ini. Saya sih mending nonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Blues Clues<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ketimbang FTV modelan begini\u2014semisal term-nya mencerdaskan lho ya. Kalau lucu-lucuan ya jelas saya milih FTV <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, lha lucu banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah komedi, absurditas bisa menjadi gelak tawa semisal tepat sasaran. Dan FTV <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini sungguh tepat sesuai sasaran tembak. Letakkan logika dan pikiran pada tempatnya, nonton acara ini, niscaya gelak tawa akan didapat dengan megahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika generasi kita\u2014saya dan Muhammad Arsyad\u2014sudah lari meninggalkan televisi, jangan salah, Mas, di penjuru Indonesia, televisi masih menjadi tayangan yang wahid untuk dinikmati kala makan bersama atau sekadar kumpul keluarga. Aksi-reaksi ala Arsyad bakalan mentah jika \u201cIndustri\u201d sudah berbicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kala tayangan seperti ini memiliki mangsa dan ada pasarnya, apalagi menyentuh ranah-ranah yang sedang viral, kenapa nggak? Logisnya, industri televisi terus bergerak. Tak mungkin melulu bertumpu kepada keluarga konglomerat yang kini hobi mondar-mandir di beranda YouTube untuk mendulang rating. Selain mahal, konsekuensi fluktuasi rating itu bisa licin (koreksi jika salah ya, Mas Cepi dan segenap basis massa fansnya).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mencari momen adalah jalan pintas yang sebenarnya nggak pintas-pintas amat. Rating meleduk, masuk ke media sosial, maka efek domino akan terjadi. Orang akan mencari baik itu di televisi atau di piranti layanan streaming. Sebuah simbiosis yang sempurna, bukan? Jika Muhammad Arsyad protes, di situlah celahnya. Anda masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan. Biarkan industri bekerja dengan sebaiknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha wong tayangan berkualitas macam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">East<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saja tumbang, ngapain juga bikin tayangan berkualitas, tapi nggak cuan. Nah, sekarang mari kita menyalakan televisi, meletakkan logika dasar di atas meja, lantas tertawa lepas menonton orang sedang sakit keras bukannya didoakan malah dibikin konten TikTok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditunggu FTV <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan judul, \u201cSuamiku Menelantarkan dan Memilih Menjadi Penulis Terminal Mojok\u201d!<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tanggapan-saya-sebagai-penulis-skenario-ftv-kisah-nyata-indosiar-atas-protes-k-popers\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Tanggapan Saya sebagai Penulis Skenario FTV Kisah Nyata Indosiar Atas Protes K-Popers<\/strong> <\/a><b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\"><b>Gusti Aditya<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam sebuah komedi, absurditas bisa menjadi gelak tawa semisal tepat sasaran. Dan FTV Kisah Nyata ini sungguh tepat sesuai sasaran tembak.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":104590,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1132,1223],"class_list":["post-104537","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ftv","tag-kisah-nyata"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104537","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104537"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104537\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104590"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104537"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104537"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104537"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}