{"id":104507,"date":"2021-02-05T12:01:57","date_gmt":"2021-02-05T05:01:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=104507"},"modified":"2022-01-07T16:44:37","modified_gmt":"2022-01-07T09:44:37","slug":"kata-aing-dan-dia-dalam-bahasa-sunda-banten-aslinya-nggak-kasar-bro","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kata-aing-dan-dia-dalam-bahasa-sunda-banten-aslinya-nggak-kasar-bro\/","title":{"rendered":"Kata \u2018Aing\u2019 dan \u2018Dia\u2019 dalam Bahasa Sunda Banten Aslinya Nggak Kasar, Bro!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tempo hari jagat Twitter dihebohkan oleh cuitan yang mengatakan kalau penggunaan kata \u201caing\u201d dalam bahasa sunda adalah hal yang tidak sopan dan dianggap kasar. Sudah lama sih, Seperti yang saya kutip dari @bapisxteryo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuat orang luar sunda jangan make kata \u2018aing\u2019 seenaknya hey apalagi di daerah sundanya. Masa tadi lg ngantri makan ada kayanya orang Jakarta (dari logatnya) ngomong &#8220;kang, ini makanan aing sabaraha?&#8221; Anying tukang dagangnya smw langsung kaget dengernya wkwk :(\u201c<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuitan tersebut kurang lebih\u00a0 disukai oleh 42 ribu orang, jumlah yang tidak sedikit. Menurut saya orang yang menyukai bisa jadi orang yang menyepakati. Mungkin Mbak Bapis tidak menyadari barangkali dia orang Banten yang tinggal di Jakarta atau orang yang pernah tinggal di Banten, kuliah di Untirta misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLoh Banten kan bahasa daerahnya Sunda?\u201d\u00a0 Memang bahasa daerah Banten adalah bahasa Sunda, bukan berarti Sunda Banten sama dengan Sunda Priangan yang berpandangan bahwa penyebutan kata \u201caing\u201d,\u00a0 \u201cdia\u201d, dan sebagainya adalah hal yang tidak sopan dan kasar. Di Banten penggunaan kata \u201caing\u201d itu tidak kasar, biasa saja, lah karena bahasa Sunda Banten adalah bahasa Sunda yang murni, bahasa Sunda yang tidak terkontaminasi oleh pengaruh ekspansi Mataram ke wilayah Priangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Sunda pada saat itu terkena pengaruh Jawa yang lebih feodal terkecuali Banten sehingga berdampak terhadap kebudayaan, kesusastraan, maupun kesenian tentunya penggunaan bahasa yang mengenal undak susuk basa sebagai perkara kekuasaan. Kalau saya kutip perkataan Mikihiro Moriyama dalam buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Semangat Baru<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, orang sunda terpengaruh sekali dengan kebudayaan Jawa mulai dari administrasi pemerintahan, gaya hidup, hingga sastra yang berestetika Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang-orang Sunda sangat terpengaruh kebudayaan Jawa setelah pada abad ke-17 mereka ditaklukkan oleh tetangganya, raja Jawa dari Mataram. Bukan hanya ranah kesenian, tapi juga administrasi pemerintahan, gaya hidup, dan bahasa yang terkena dampaknya: selama hampir dua ratus tahun kesusastraan Sunda berkembang menurut estetika Jawa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum Mataram ada, orang sunda menyebut dirinya dengan kata \u201caing\u201d entah ke orang tua, entah yang lebih muda atau bahkan pada saat memanjat doa. Ini bisa dibuktikan dengan petikan naskah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Para Putera Rama dan Rawana<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang disusun sebagai lampiran kisah Ramayana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOngkarana sangtab\u00e9an\/ pukulun sembah rahayu\/ aing d\u00e9k nyaksi ka beurang\/ aing d\u00e9k nyangsi ka peuting\/ candra wulan aditia\/ deungeun sanghiang akasa\/ kalawan hiang pretiwi\/ ka batara Nagaraja\/ ka nusia Awak Larang\/ ka luhur ka sang Rumuhun\/ nusia Larang di manggung.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah lo, memanjatkan doa saja, orang tua zaman dulu menggunakan kata \u201caing\u201d lantas kenapa banyak sekali yang berkoar bahwa penggunaan kata \u201caing\u201d, \u201cdia\u201d adalah hal yang tidak sopan?. Jangan jauh-jauh ke era Ramayana deh, di Lebak ada suku Baduy yang hari ini nol kasus Covid-19. Bagi orang yang pernah ke Baduy mungkin pernah mendengarkan pembicaran dan\u00a0 bagaimana komunikasi mereka sehari-hari. Itu adalah potret Sunda murni yang tidak terkontaminasi oleh penyebarluasan Mataram ke tataran Sunda karena saat itu Banten tidak terkuasai. Alhasil setelah mataram masuk, barulah Sunda mengenal Undak Susuk Basa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu mungkin faktor politik jadi penyebab. Setelah Bung Besar memproklamirkan kemerdekaan, Banten masuk ke Jawa Barat, lalu PNS-PNS yang ada di Banten adalah kiriman dari Priangan, terutama pejabat tingginya. Mata pelajaran Sundanya pun dipaksakan jadi Sunda Priangan, makanya kesan halus kasar itu muncul gara-gara pejabat yg secara status lebih tinggi. Jadi bahasa yg dipakai otomatis standar mereka. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan, pada saat pemerintahan Hindia Belanda banyak sekali pejabat pribumi yang diambil dari Priangan dan Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kurang tahu apakah sekarang muatan lokal bahasa Sunda masih ada atau tidak. Dulu saat saya masih SD dan SMP ada muatan lokal Basa Sunda, jelas yang diajarkan Sunda Priangan, gurunya juga didatangkan langsung dari Priangan. Pada saat saya masih umur empat tahun, saya menyaksikan orang tua guru saya itu diajak ke sekolah. Kebetulan kepala sekolah kami juga berasal dari Ciamis. Si orang tua guru ini pandai sekali bersuling, kadang kala dia berinteraksi dengan guru atau para siswa menggunakan bahasa dan logat Sunda Priangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, oleh karena parameter sopan kita adalah Sunda Priangan, tidak heran ketika ada orang yang berbicara menggunakan kata \u201caing\u201d langsung dianggap tidak sopan. Ya itu tadi, sudah terinternalisasi, jadi mau ngomong bahasa Sunda khawatir karena merasa kasar padahal nggak juga aslinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba kalau orang Priangan marah di hadapan orang Banten dengan logat Priangan yang lembut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Anying sia, naha kabogoh abdi kalah dibogohan? Dasar tegaduh degdegan jalmi teh.\u201d Apakah kita merasa dimarahi? Kan nggak, sama halnya dengan kata \u201caing\u201d dan \u201cdia\u201d. Tergantung dari mana kita memandang. Untung Lebak ada bupati yang dengan bangga menunjukkan Sundanya, bahkan pada saat marah \u201cBeuheung dia disapatken kuaing.\u201d \u201cGaroblog dararia.\u201d Perkataan bupati yang terekam marah-marah ini terjadi saat beliau peduli dengan taman yang dibangun jadi gedung tanpa seizin beliau.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-penggunaan-kata-aing-dalam-bahasa-sunda-untuk-orang-luar-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Penggunaan Kata \u2018Aing\u2019 dalam Bahasa Sunda untuk Pemula<\/a>\u00a0dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/yovi-maulana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Yovi Maulana<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Parameter sopan kita adalah Sunda Priangan, tidak heran kata \u201caing\u201d langsung dianggap tidak sopan kalau diucapkan.<\/p>\n","protected":false},"author":1152,"featured_media":83262,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[761,6047],"class_list":["post-104507","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bahasa","tag-orang-sunda"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104507","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1152"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104507"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104507\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}