{"id":104486,"date":"2021-02-05T06:38:21","date_gmt":"2021-02-04T23:38:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=104486"},"modified":"2021-11-14T16:12:55","modified_gmt":"2021-11-14T09:12:55","slug":"the-white-tiger-menelanjangi-kemiskinan-struktural-india-dengan-cara-non-bollywood","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/the-white-tiger-menelanjangi-kemiskinan-struktural-india-dengan-cara-non-bollywood\/","title":{"rendered":"The White Tiger: Menelanjangi Kemiskinan Struktural India dengan Cara Non-Bollywood"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir kali saya menonton film dari India adalah ketika saya menonton film-film yang digawangi oleh Amir Khan, dari mulai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Three Idiots<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2009), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">PK<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2014), sampai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dangal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2016). Itu adalah film dari India yang bikin saya tidak merasa terganggu karena adegan joget-joget. Masalahnya adegan joget itu membuat saya malah ikutan bergoyang, bukan nonton film. Setelah film-film ini rasanya saya tidak\u2014atau belum\u2014menemukan film India lain yang memiliki tema unik. Sampai akhirnya saya menemukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The White Tiger <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2021).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film garapan Netflix yang sekilas posternya sangat ngepop dan mirip film bergenre coming of age ini digadang-gadang menjadi salah satu film terbaik di awal tahun 2021.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara tema dan alur, film ini nggak ndakik-ndakik, tidak seperti film-film India yang pernah saya tonton sebelumnya. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The White Tiger <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">secara terang-terangan langsung memperlihatkan apa yang seharusnya terlintas tentang India selain pesona Bollywood-nya. Yak, kemiskinan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan data dari<\/span><a href=\"https:\/\/www.soschildrensvillages.ca\/news\/poverty-in-india-602\"> <span style=\"font-weight: 400;\">soschildrensvillages.ca<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, sekitar 68,8% warga India hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah yang sangat besar jika dilihat dari populasi India yang terbanyak kedua di dunia. Ironisnya, selama Bollywood identik dengan lenggak-lenggok jogetnya dan puser ke mana-mana itu, agaknya baru di tahun ini ada film yang benar-benar menelanjangi kemiskinan secara brutal dan begitu menyentuh jidat kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui tokoh utama bernama Balram (Adarsh Gourav), kita dibawa ke sebuah tempat di India yang kumuhnya minta ampun. Meskipun nggak usah jauh-jauh ke India, di Indonesia pun masih banyak daerah kumuh. Namun, ketika saya menonton<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> The White Tiger<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, rasanya entah mengapa kemiskinan yang ada di India jauh lebih parah. Setidaknya sampai sejauh ini saya belum pernah melihat orang Indonesia yang berak berjamaah sembarangan di pinggir jalan, saking nggak ada toiletnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Balram adalah satu dari sekian banyak anak India yang sebenarnya memiliki peluang untuk mendapatkan beasiswa. Namun, karena miskin, ia harus tetap berada di kampung halamannya. Terlebih ketika ayah Balram meninggal, ia menjadi tumpuan keluarga bersama kakaknya. Balrm harus bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, Balram pergi ke kota dan menjadi sopir pribadi \u201csang tuan tanah\u201d kampung halamannya sendiri. Dari sini, konflik mulai muncul. Dari mulai kelicikan Balram untuk menggeser sopir utama yang ternyata seorang Muslim (sang tuan tanah tidak menyukai orang Muslim), majikan yang mabuk dan tidak sengaja menabrak anak kecil, sampai akhirnya Balram harus membunuh majikannya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas, film ini memang mirip dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Parasite <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2019). Namun, menurut saya, latar belakang cerita dan alasan Balram melakukan hal-hal brutal demikian lebih logis ketimbang latar belakang keluarga miskin di<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Parasite<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dalam film<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> The White Tiger<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kemiskinan India tidak hanya digambarkan dengan rumah gubuk yang kumuh atau dengan banyaknya anggota keluarga yang menghuni satu rumah yang sempit. Atau hanya \u201ckarena alasan bau badan\u201d harus membunuh majikannya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Balram menggambarkan kemiskinan India\u2014atau orang-orang yang seperti dirinya\u2014lebih dari itu. Ia menggambarkan kemiskinan india sebagai ayam-ayam di dalam kurungan yang pasrah melihat ayam lainnya dipenggal di hadapan mereka. Satu-satunya jalan keluar dari kandang itu hanyalah menerima takdir untuk dipenggal. Orang India seperti Balram dan seperti sopir Muslim yang dipecat itu adalah ayam-ayam yang merasa hidup hanya untuk dipenggal. Belenggu kandang yang menjadi penggambaran \u201ckasta\u201d di India, membuat orang-orang miskin di sana hanya menerima keadannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini juga terlihat dari beberapa dialog dan perilaku Balram yang selalu menuruti majikannya. Bahkan ketika ia dipaksa harus mengakui sebagai penabrak anak kecil, Balram tertunduk patuh. Oleh karena kepatuhan ini, beberapa kali anak majikan Balram selalu menanyakan kenapa Balram begitu baik dengannya? Namun, Balram hanya menjawab karena majikannya itu sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, film ini tidak berakhir dengan dipenjaranya Balram seperti film-film bertema drama sosial biasa atau film-film Hollywood yang bertema kejahatan. Justru di akhir film ini, Balram tidak memilih dipenggal, tapi ia memilih untuk \u201ckabur dari kandang itu\u201d. Ia menjadi seorang bos sopir yang kaya, bahkan ia menerapkan beberapa peraturan yang sangat \u201cbaik\u201d terhadap karyawannya. Bisa dikatakan, Balram menjadi seorang yang cukup terpelajar dengan memaknai hidupnya yang terpaksa harus brutal karena sistem sosial di India itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya film ini bukan bercerita tentang bagaimana menjadi orang jahat dan tidak memercayai orang-orang dengan kasta rendah, tapi film ini justru mengkritik kemiskinan struktural yang ada di India. Bagaimana suatu sistem budaya dan kasta yang dipegang teguh dengan alasan \u201cmewarisi tradisi leluhur\u201d ternyata justru yang membuat negara ini menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Dan menurut saya, film ini berhasil menampar itu dengan menghilangkan joget-joget khas Bollywood-nya lalu menggantinya dengan lanskap gambar yang ciamik dan sangat amat kontras antara si miskin dan si kaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah loh, apa jangan-jangan masalah fundamental di Indonesia juga berakar dari alibi mewarisi tradisi juga?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/another-round-film-tentang-alkohol-dan-guru-sejarah-membosankan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Another Round\u2019, Film tentang Alkohol dan Guru Sejarah Membosankan<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ananda-bintang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ananda Bintang<\/a> lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa jangan-jangan masalah fundamental di Indonesia juga berakar dari alibi mewarisi tradisi kayak di film &#8216;The White Tiger&#8217;?<\/p>\n","protected":false},"author":604,"featured_media":104376,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[7860,773],"class_list":["post-104486","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-bollywood","tag-review-film"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104486","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104486"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104486\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104376"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104486"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104486"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104486"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}