{"id":104246,"date":"2021-02-05T06:15:35","date_gmt":"2021-02-04T23:15:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=104246"},"modified":"2021-08-13T13:22:54","modified_gmt":"2021-08-13T06:22:54","slug":"pembunuhan-terhadap-semut-adalah-pembunuhan-kejam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pembunuhan-terhadap-semut-adalah-pembunuhan-kejam\/","title":{"rendered":"Pembunuhan terhadap Semut Adalah Pembunuhan Kejam"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika melakukan rutinitas, rebahan misalnya, pastinya kamu pernah tiba-tiba seperti ada yang meraba-raba, gremet-gremet, atau bahkan cekit-cekit di salah satu bagian tubuhmu. Lalu, saya bisa jamin, secara spontan, tanganmu langsung mendatangi area tersebut. Setelah itu, tangan itu kamu angkat, dan boom! Di sana sudah ada sebujur bangkai semut yang tergeletak tak berdaya di telapak tanganmu. Pembunuhan kejam telah terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya saya nggak begitu tega melihat yang seperti ini (walaupun saya juga pernah, bahkan sering melakukannya). Apalagi ketika ada banyak semut yang berkerubung, tiba-tiba datang semprotan (bukan gas air mata) menghujani mereka. Yang ini malah lebih kejam, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">l<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ha wong dia tidak bersalah, kok. Mereka cuma numpang untuk tinggal, lewat, dan terkadang juga mencari makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketidaktegaan saya ini bukannya tidak masuk akal. Mereka para semut itu berbaris ke mana-mana sebenarnya ya seperti kita ini: mencari makanan, walaupun terkadang kesasar di tubuh kita. Kedatangan mereka ke tubuh kita ini sebenarnya terkadang juga memberi peringatan kepada kita. Ya, sudah waktunya mandi!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, mengapa saya sebut pembunuhan kejam? Alasannya jelas, semut merupakan hewan yang lumayan kecil jika dibandingkan dengan gajah (ya-iya-lah). Walaupun, di dunia perainan suit semut\u2014yang diwakili jari kelingking\u2014tetap menang melawan gajah\u2014yang diwakili jari jempol. Namun, semut tetaplah hewan yang lemah. Terbukti dengan kalahnya jari kelingking melawan jari telunjuk yang mewakili manusia. Logika ini sebenarnya juga berlaku di dunia nyata, dengan catatan tidak ada yang membawa senjata yang bukan bawaan dari tubuh tiga makhluk ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lanjut, di antara tiga makhluk ini, ternyata manusia adalah pemenang dalam kategori makhluk terkejam, terakus, dan terpelit. Manusialah yang paling sering melakukan pembunuhan terhadap semut dengan alasan mencuri makanan, ngrisih-ngrisihi, bahkan cuma dengan alasan \u201ciseng\u201d. Namun, nggak ada tuh kasus pembunuhan terhadap segerombolan manusia yang berjalan-jalan di hutan\u2014tanpa mengancam gajah\u2014oleh seekor gajah. Semut pun demikian, nggak ada tuh kasus semut tiba-tiba membunuh gajah dengan memasuki kuping, atau dengan cara yang lainnya, dengan alasan yang sama yang dipakai manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Plis deh. Semut itu juga makhluk ciptaan Tuhan. Semua ciptaan Tuhan wajib kita kasihi. Mereka itu bahkan mengingatkan kita untuk bersedekah. Lagian, ternyata mereka itu pulang ke sarangnya kok setelah kenyang. Hal ini sudah saya coba. Ketika saya ngopi sambil nge-zoom: kuliah, segerombolan semut terlihat berbaris siap menyerbu kopi saya. Lalu, saya teringat Abah Guru Sekumpul yang rutin bersedekah dengan sesendok gula terhadap semut. Akhirnya, saya mengambil kopi sepucuk sendok dan saya tuangkan ke tempat lain. Benar saja, dengan sedikit gusahan, semut-semut ini pergi mendatangi sedikit kopi yang saya tuangkan. Mereka terlihat sangat gembira. Saya mengamati dengan teliti, saya lihat terus. Ternyata, semut yang sudah kenyang pergi meninggalkan pesta kopi ini dan digantikan semut lain yang mengantre di belakang (jangan bayangin ngantre memanjang seperti antreannya manusia, bukan seperti itu).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, kita seharusnya bisa mengambil hikmah dari semut\u2014dan semua yang ada di alam ini. Semut adalah cerminan kehidupan sosial yang sangat patut dicontoh. Mereka selalu mencari dan menikmati makanan bersama. Mereka juga sangat pintar dalam mengatur hidup, terbukti, mereka sangat giat bekerja bersama mencari makan lalu menyimpannya sehingga tidak akan ada lagi yang namanya \u201ckrisis makanan\u201d atau kasus \u201cgizi buruk\u201d di dunia persemutan, walaupun di tengah pandemi seperti saat ini. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembunuhan kejam terhadap semut dengan alasan sepele adalah hal yang sangat tidak manusiawi, eh, semutiawi. Ya, mereka makhluk kecil yang cuma ingin makan dan memperbanyak keturunan. Iyaaa sama seperti kita. Untuk itu, Mylov, jangan pernah membunuh semut dengan alasan sepele apalagi dengan alasan cuma iseng. Jangan! Jangan diteruskan, Mylov. Imam Ghozali saja, salah satu hal yang bisa membuat beliau masuk surga, adalah membiarkan semut minum tintanya saat beliau tengah asik menulis. Jadi, dengan bersedekah, atau membiarkan semut\u2014dan semua makhluk\u2014tetap hidup adalah kebaikan yang pahalanya tidak bisa disepelekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hadis penutup, \u201cIrhamu man fil ardli yarhamkum man fis sama<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.\u201d) HR. Abu Dawud dan Timidzi.<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@sebastiaan9977\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sebastian Stam<\/a> via <a href=\"https:\/\/images.pexels.com\/photos\/1352080\/pexels-photo-1352080.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;dpr=2&amp;h=750&amp;w=1260\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pexels.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-benci-ada-alasan-kenapa-perlu-mengusir-kucing-dari-rumah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bukan Benci, Ada Alasan Kenapa Perlu Mengusir Kucing dari Rumah<\/a> dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-rizqi-hasan\/\">Muhammad Rizqi Hasan<\/a>\u00a0lainnya<\/strong>.<\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembunuhan kejam terhadap semut dengan alasan sepele adalah hal yang sangat tidak manusiawi, eh, semutiawi.<\/p>\n","protected":false},"author":820,"featured_media":105923,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4411,7103],"class_list":["post-104246","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-pembunuhan","tag-penyiksaan-hewan"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/820"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104246"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104246\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105923"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}