{"id":104174,"date":"2021-02-04T13:32:23","date_gmt":"2021-02-04T06:32:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=104174"},"modified":"2021-02-04T13:30:30","modified_gmt":"2021-02-04T06:30:30","slug":"woke-culture-dan-netizen-yang-salah-kaprah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/woke-culture-dan-netizen-yang-salah-kaprah\/","title":{"rendered":"Woke Culture dan Netizen yang Salah Kaprah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah nggak sih kalian dengar atau baca frasa \u201cstay woke\u201d, \u201ci stay awake\u201d, \u201cwokeness\u201d, \u201cawaken\u201d? Kalau iya, apakah kamu paham maknanya? Dan jika paham, apakah kamu termasuk penganut woke culture?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Woke adalah istilah yang berasal dari Amerika Serikat, dan mengacu pada kesadaran yang dirasakan akan isu-isu yang menyangkut keadilan sosial dan keadilan rasial. Ini berasal dari ungkapan Bahasa Inggris Afrika-Amerika Vernakular \u201cstay woke\u201d yang aspek gramatikal mengacu pada kesadaran berkelanjutan tentang masalah ini. Istilah woke pertama kali digunakan pada tahun 1940-an, istilah tersebut telah muncul kembali dalam beberapa tahun terakhir sebagai konsep yang melambangkan kesadaran yang dirasakan akan masalah dan gerakan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhir 2010-an, woke telah diadopsi sebagai istilah gaul yang lebih umum secara luas terkait dengan keadilan sosial kritis, politik sayap kiri, aktivisme keadilan sosial dan penyebab progresif atau liberal secara sosial seperti anti-rasisme, hak LGBT, feminisme dan lingkungan (dengan istilah bangun budaya, bangun politik dan bangun kiri juga digunakan). Itu juga telah menjadi subyek meme, penggunaan ironis, dan kritik untuk metode dan konsekuensinya. Penggunaannya secara luas sejak 2014 adalah hasil dari gerakan Black Lives Matter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Idiom woke lalu digunakan dalam konteks aktivisme secara general. OED menyatakan: &#8220;Pada pertengahan abad ke-20, woke telah diperpanjang secara kiasan untuk merujuk pada &#8216;sadar&#8217; atau &#8216;terinformasi dengan baik&#8217; dalam arti politik atau budaya&#8221;. The Urban Dictionary menambahkan: &#8220;Menjadi woke berarti awake (menyadari) &#8230; mengetahui apa yang terjadi di komunitas (terkait dengan rasisme dan ketidakadilan sosial).&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan idiom woke secara meluas ini kemudian menimbulkan kritik di mata pengamat lantaran penggunaannya yang dianggap tidak sesuai pada makna aslinya. Beberapa pengamat berkomentar bahwa konsep woke mungkin memiliki niat baik, gaya aktivisme, dan filosofinya yang terkait telah merugikan daripada membantu kemajuan penyebab sosial. Tetapi, saat ini kita lebih cenderung melihatnya digunakan sebagai alat untuk mengalahkan orang-orang yang menginginkan nilai-nilai seperti itu, sering kali digunakan oleh mereka yang tidak menyadari betapa tidak terbangunnya mereka (not woke), atau bangga dengan fakta tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis dan aktivis Chlo\u00e9 Valdary telah mengakui bahwa konsep woke culture adalah &#8220;pedang bermata dua&#8221; yang dapat &#8220;mengingatkan orang akan ketidakadilan sistemik&#8221; sekaligus juga &#8220;sikap agresif dan performatif terhadap politik progresif yang hanya memperburuk keadaan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kritik atas woke culture juga diungkapkan oleh seorang kolumnis, Alex Beams pada Mei 2017 dalam artikel yang ia tulis berjudul \u201cNot Woke and Never Will Be\u201d. Dalam artikel tersebut, Beams menulis, tujuan utama woke culture untuk membagi dunia menjadi kelompok yang super sadar atas isu sosial; orang-orang yang mengklaim sendiri sebagai pengawas omongan serta perilaku; dan orang-orang biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Januari 2020, Narasi Newsroom dalam liputannya yang berjudul &#8220;Wokeist : Niatnya Ngasih Edukasi, Jadinya &#8216;Ngerujak&#8217; Orang di Medsos&#8221;, mengatakan bahwa Wokeism dianggap sebagai kultur SJW (social justice warrior &#8211; istilah peyoratif bagi seseorang yang mengusung pandangan progresivisme sosial).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Mereka yang woke, kerap menghakimi orang lain yang tidak peduli atau belum paham isu keadilan sosial. Bukan tercerahkan, orang awam malah bisa alergi duluan dengan isu sosial karena cara &#8216;call out&#8217; kaum woke yang dianggap tak simpatik&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2008, Erykah Badu merilis lagu \u201cMaster Teacher\u201d. Sepanjang lagu, Badu menyanyikan kalimat &#8220;I stay woke.&#8221; Meskipun frasa tersebut belum ada hubungannya dengan masalah keadilan, lagu Badu dikreditkan dengan hubungan selanjutnya dengan masalah ini. Sejak lagu tersebut rilis, orang-orang berkulit hitam menggunakan idiom woke untuk mengomentari peristiwa terkini. Lalu pada Februari 2019, Erykah Badu dalam artikelnya di <em>The New York Times<\/em>, membantu mendefinisikan &#8220;Wokeness&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi, ketika kita mengatakan itu (stay woke) artinya kita hanya memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita, dan tidak mudah terpengaruh oleh media, atau oleh massa yang marah, atau oleh kelompok. Anda tahu: Tetap fokus, perhatikan. (\u2026) Stay woke berarti memperhatikan segala sesuatu, tidak bersandar pada pemahaman Anda sendiri atau orang lain, mengamati, berevolusi, menghilangkan hal-hal yang tidak lagi berevolusi. Itulah artinya. Stay conscious, stay awake (tetap sadar, tetap terjaga). Itu tidak berarti menilai orang lain. Ini tidak berarti mengeroyok seseorang yang Anda rasa belum bangun (woke). Itu tidak berevolusi.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti apa yang dikatakan Valdary, konsep woke sering kali justru memperburuk keadaan. Kalau kamu seorang pengguna twitter, pasti sudah tidak asing dengan akun auto-menfess base @.tubirfess. Jika kamu termasuk salah satu pengikutnya, kamu tentu tahu bahwa akun ini memang dijadikan sebagai lapak ribut. Kolom komentar pada tiap menfess biasanya akan dipenuhi oleh berbagai opini. Di lapak ribut inilah yang akhirnya terjadi keributan antara kaum woke dan kaum lainnya\u2014yang tidak atau belum paham atas isu sosial. Alih-alih merespon sender, kolom komentar terkadang malah justru dipenuhi komentar salty yang terkesan memojokkan beberapa pihak yang dianggap tidak memiliki simpatik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan sosial media yang kurang bijak pada akhirnya semakin memperburuk keadaan. Orang awam akan menelan mentah-mentah informasi dan opini yang mereka baca tanpa mencari tahu lebih lanjut. Informasi atas opini-opini tersebut kemudian meluas tanpa benar-benar mereka ketahui akar masalahnya. Ketika seseorang mengetahui \u201csuatu hal\u201d yang orang lain belum tentu ketahui, mereka cenderung akan bersifat congkak. Oleh karena merasa dirinya lebih pintar dibanding yang lain, mereka berani beropini atas \u201csuatu hal\u201d tadi tanpa validasi.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/haruskah-diciptakan-undang-undang-ala-sjw\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Haruskah Diciptakan Undang-Undang ala SJW?<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Stay woke, Gaes.<\/p>\n","protected":false},"author":1375,"featured_media":105899,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[815,10551],"class_list":["post-104174","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-sjw","tag-woke-culture"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104174","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1375"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104174"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104174\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}