{"id":10407,"date":"2019-09-20T12:15:45","date_gmt":"2019-09-20T05:15:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=10407"},"modified":"2022-02-25T15:07:27","modified_gmt":"2022-02-25T08:07:27","slug":"adikku-kembar-identik-dan-itu-tidak-mudah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/adikku-kembar-identik-dan-itu-tidak-mudah\/","title":{"rendered":"Adikku Kembar Identik dan Itu Tidak Mudah"},"content":{"rendered":"<p>Banyak teman bilang saya beruntung punya adik kembar. Saya pikir kata \u201cberuntung\u201d itu tepat bila maksudnya dalam konteks peluang. Sebab dari sekian ratus pasangan\u2014orang tua\u2014di kampung saya, hanya tiga keluarga saja yang punya anak kembar. Dalam konteks perasaan, terkadang iya, terkadang tidak. Mengapa demikian? Punya anak\u2014saudara\u2014terlebih kembar identik itu juga punya suka dukanya sendiri. Kadang malah rumit. Tidak seseenak yang dibayangkan teman-teman. Setidaknya ini berdasarkan pengalaman saya pribadi.<\/p>\n<p>Pertama-tama saya perkenalkan lebih dulu kedua adik saya. Mereka kembar identik dan perempuan. Namanya, Hariati Saragih dan Sumiati Saragih. Oh ya sekilas. Kalau di Jawa yang lahir lebih dulu itu adiknya (benar gitu gak sih? <em>hehe<\/em>). Kalau di tempat saya yang lahir lebih dulu itu kakaknya. Jadi kakaknya adalah Hariati. Panggilannya, Ati dan Sumi (bingung juga kenapa bukan Hari dan Sumi.\u00a0<em>hehe<\/em><\/p>\n<p>Kalau kalian bertanya, kenapa nama adik saya bukan nama Batak\u2014Batak Simalungun\/ayah atau Batak Toba\/ibu\u2014saya juga tidak tahu. Saya sendiri baru tahu itu nama jawa setelah di Jogja. Dan saya memang belum pernah menanyakan itu secara langsung kepada ibu.<\/p>\n<p>Pertama saya akan membahas sekilas perasaan senang punya adik kembar. Sebagai abang\u2014anak sulung\u2014saya tentu senang punya adik kembar identik. Orang-orang sering iri melihat saya. Orang-orang kadang gemas melihat adik saya. Bila ada teman atau saudara bertamu, mereka sering bingung tidak bisa membedakan yang mana kakaknya, yang mana adiknya. Itu kadang jadi hiburan tersendiri di rumah. Adik saya ceria dan suka tertawa di mana pun kami berada. Singkatnya, kehadiran mereka lebih sering membuat suasana jadi hidup.<\/p>\n<p>Tapi perasaan kesal\u2014aneh\u2014juga tidak sedikit. Saat kecil, kalau satu orang sakit, yang lain juga ikut sakit. Ibu bahkan sampe nyerah\u2014kewalahan\u2014saat mereka kecil sehingga nenek ikut membantu merawat mereka (apalagi saat itu air susu ibu tidak lancar sebelah). Saat beli pakaian, motifnya harus sama persis (warna beda tidak apa-apa). Saat memberikan oleh-oleh atau kado, kami harus memastikan keduanya dapat\u2014bahkan harus sama rata. Misalnya, Ati kamu beri satu jeruk, maka Sumi juga harus dapat satu. Kalau tidak, mereka\u00a0 bisa merajuk lalu itu jadi masalah.<\/p>\n<p>Selain itu, dalam urusan nakal mereka juga bareng-bareng. Saat mereka SMP ibu pusing\u2014satu orang bendahara satu orang lagi sekretaris\u2014kerena mereka bekerja sama memakan uang sekolah. Saat SMA, mereka bolos\u2014kabur dari sekolah\u2014selama seminggu lebih. Orang tua sampai pusing dan malu karena harus berhadapan dengan kepala sekolah.<\/p>\n<p>Saya secara pribadi punya tiga pengalaman unik\u2014lucu tapi agak menyedihkan juga sih. Yang pertama, soal wajah. Sejak SMA, saya sudah merantau. Kebetulan saat SMA saya pulang ke rumah setiap enam bulan sekali\u2014liburan semester. Jadi saat liburan, ibu menyuruh saya memasak (kebetulan ibu lebih suka saya masak, hehe). Nah, ketika masak saya butuh bantuan. Jadi saya memanggil salah seorang dari mereka yang kebetulan tidak jauh dari saya sedang bersih-bersih.<\/p>\n<p>\u201cTi,.. Ti..,\u201d saya memanggilnya berkali-kali. \u00a0Saya pikir dia tidak mendengar jadi volume suara saya keraskan. Dia tidak juga mendengar. Saya panggil lagi sampai akhirnya saya kesal lalu saya bentak kenapa tidak menyahut. Dia menjawab dengan santai, \u201cSi Ati di depan.\u201d Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tenggorokan terasa terganjal sesuatu setelah menyadari dia adalah adiknya. Padahal saat melihat wajahnya saya pikir itu adalah kakaknya. Saya keliru. Dari pengalaman itu, akhirnya saya belajar dan memanggil mereka sampai sekarang dengan sebutan \u201cKem\u201d singkatan dari \u201ckembar\u201d. Jadi ketika saya memanggil \u201cKem\u201d siapa saja akan datang atau menyahut.<\/p>\n<p>Pengalaman kedua, soal suara. Setelah di Jogja, untuk melepas rindu saya biasanya menelpon mereka. Pada tahun 2010 jaringan internet dan WA belum seperti sekarang (bisa v<em>ideocall<\/em>). Dulu lebih sering menggunakan TM (<em>talkmania<\/em>) jadi bisa ngobrol sampai sepuasnya. Jadi suatu ketika saya ngobrol dengan mereka. Karena warna suaranya hampir sama persis, saya salah tebak. Saya pikir yang sedang berbicara adalah adiknya, ternyata adalah kakaknya.<\/p>\n<p>Sampai sekarang setiap kali saya menelpon mereka, saya berusaha tidak gegabah mengajukan pertanyaan atau basa-basi tentang rutinitas mereka\u2014satu guru di sekolah swasta, satu lagi guru di sekolah negeri. Saya harus memastikan lebih dulu dengan siapa saya berbicara. Karena saya juga pernah kembali menelan rasa malu sendiri setelah mengulangi kesalahan yang sama: salah sangka. Saya menelpon ke nomor kakaknya. Saya buru-buru bercanda mengomentari sekolahnya\u2014sekolah negeri. Dengan sedikit usil, dia menjawab itu sekolah Ati. Ternyata yang angkat adalah adiknya. Seketika suasana obrolan jadi terasa ganjil.<\/p>\n<p>Yang terakhir, hadiah. Suatu hari saya jalan-jalan ke Manding tempat kerajinan kulit. Saat melihat <em>high heels<\/em> bagus, saya jadi ingat adik saya. Lalu saya beli dua pasang\u2014di lain kesempatan saya pernah beli baju batik formal di Malioboro. Saya tanya mereka nomor sepatu mereka dan saya beli\u2014baju juga begitu. Lalu saya kirim. Seminggu kemudian, saya tanya ibu ternyata <em>high heels\u2014<\/em>juga baju batik\u2014ibu jual karena mereka tidak mau pakai. Alasannya, satu tidak pas.<\/p>\n<p>Saya geleng-geleng kepala sedikit kapok. Itu sebabnya sampai sekarang, saya harus tetap berhati-hati dan punya presisi yang tinggi. Apalagi kalau pulang kampung setelah sekian lama di tanah rantau. Saya tidak bisa menjamin, saya bisa dengan mudah membedakan mana kakaknya, mana adiknya. Meski sudah besar, mereka terkadang masih mau iseng dan usil mengerjai\u2014semacam <em>prank\u2014<\/em>orang lain. Sungguh, menghadapi adik kembar identik itu tidak mudah.\u00a0(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA <a class=\"bump-view\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mawang-dan-jawaban-atas-penyampaian-rasa-sayang-kepada-orang-tua-yang-seringkali-sulit-diungkapkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-bump-view=\"tp\">Mawang dan Jawaban Atas Penyampaian Rasa Sayang Kepada Orang Tua yang Seringkali Sulit Diungkapkan<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/tappin-saragih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tappin Saragih<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski sudah besar, mereka terkadang masih mau iseng dan usil mengerjai\u2014semacam prank\u2014orang lain. Sungguh, menghadapi adik kembar identik itu tidak mudah.<\/p>\n","protected":false},"author":161,"featured_media":14338,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[3511,228,3512,599,1601],"class_list":["post-10407","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-adik-kak","tag-keluarga","tag-kembar-identik","tag-nostalgia","tag-suka-duka"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10407","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/161"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10407"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10407\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10407"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10407"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10407"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}