{"id":103949,"date":"2021-01-28T12:09:04","date_gmt":"2021-01-28T05:09:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=103949"},"modified":"2021-01-28T12:09:42","modified_gmt":"2021-01-28T05:09:42","slug":"wisata-alam-yang-dicat-warna-warni-tuh-biar-apa-dah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisata-alam-yang-dicat-warna-warni-tuh-biar-apa-dah\/","title":{"rendered":"Wisata Alam yang Dicat Warna-warni tuh biar Apa, dah?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situs bersejarah dan wisata alam sejauh ini adalah yang paling menarik bagi saya untuk dikunjungi dibanding dengan belanja alias muter-muter di pasar padahal beli mah kaga. Namun, betapa sangat disayangkan melihat beberapa wisata alam di Indonesia kini banyak yang disulap menjadi tempat warna-warni. Like\u2026 meh naon woi, meh naonnn.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di beberapa wisata curug misalnya. Beberapa kali saya mendapati banyak atribut sekitar yang dicat warna-warni. Mulai dari pegangan tangganya, jembatan, spot foto. Untung tukang parkirnya kagak. Di pantai juga sama. Ada yang batu-batu pinggirannya dan spot fotonya dicat warna-warni. Ditambah lagi bentuk spot fotonya yang menyerupai hati. Jomblo ini makin sakit woi, suckit\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak berhenti di situ. Ada lagi batu-batuan kali yang dicat warna-warni. Allahu Robbi. Itu batu kali wey. Dikata batu kecil bakal akuarium louhan apa, ya. Dan, sebelumnya kepikiran nggak sih, kalo batu yang dicat begitu pas diliat dari jauh wujudnya kira-kira bakal kek apa coba?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengapresiasi aktivitas pengelola atau mungkin warga sekitar untuk memperhatikan dan membenahi tempat tersebut. Tapi, kalau solusi dari rembugan mereka untuk mengindahkan tempat hanya dengan ikut-ikutan mengecat warna-warni seperti yang sering tampak di televisi, emmm kayaknya nggak jadi dulu, deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benda-benda alam yang dicat warna-warni di tempat tersebut rasanya sudah cukup menyalahi fitrahnya. Njir, fitrah lah, kek Mamah Dedeh bae aing ngomong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, gimana nggak mau menyalahkan. Nih, batu-batu kecil di kali emang ada yang aslinya warna kuning? Kan kagak. Kalau nyampe nemu pun, itu kayaknya bukan batu, tapi tokai kering lu. Itu juga warnanya pasti udah rada gelap, nggak kuning benderang lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari hal itu, makanya sampai saat ini saya masih nggak bisa nerima kalo ada wisata alam yang dicat warna-warni. Mana warnanya yang cerah-cerah banget lagi. Ya kuning, pink, biru langit, hijau rumput, kuning. Kata mamak, jangan sering pake warna cerah. Nanti dekil, repot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain menyalahi kodratnya, tempat yang dicat warna-warni itu jadi hilang karismanya. Bayangin misalnya kalo ada yang mau ngelola tempat wisata baru di kawasan sejuk, sampingnya ada sungai. Demi kemaslahatan manusia, dibenahilah tempat tersebut. Oleh karena yang paling mencolok atau katakanlah ikonnya adalah sungai, batu-batu sungai mulai dari yang gede sampe kecil pada dicat warna-warni. Apa nggak mikir, jin dan makhluk halus lain penghuni asli tempat itu bakal ilpil<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni orang pada apa-apaan, dah? Dateng-dateng maen ngecat-ngecat batu.\u201d Kirain hidupnya nggak bakal diganggu gugat. Eh lebih parah, habitatnya malah dibikin cringe<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kehilangan mereka atas habitatnya, hilang pula karismanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya sudah cukup dengan usaha memberi warna-warna nggak alami pada wisata alam. Ini hanya nggak logis aja. Kenapa harus warna-warni alih-alih bisa menyesuaikan pada kemurnian warna alam? Sejujurnya, untuk menonjolkan keberadaan tempat tersebut bukan satu-satunya cara dengan memberi warna-warna mencolok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba tonjolkan keasrian alamnya. Dalam bentuk tempat yang benar-benar bebas sampah, jalur yang nyaman untuk menuju tempat, parkir rapih dan jelas tarif, atau mungkin bakal jasa penggosok batu biar lebih kinclong, misalnya. Atau, hal lebih bermanfaat lainnya yang bisa dilakukan dengan anggaran yang tadinya diperuntukan untuk ngecat batu. Njir batu dicat, lah kocak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cukup sudah dong saya melihat warna-warni sampah di pemukiman manusia. Sudah seeloknya alam tetap tenang, tetap pada warna dan rasa yang semestinya. Eakkk, ngomong lu sama tembok.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-wisata-ke-lombok-budget-kere-hore-bagi-sobat-dompet-tipis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tips Wisata ke Lombok Budget Kere Hore Bagi Sobat Dompet Tipis<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nuriel-shiami-indiraphasa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nuriel Shiami Indiraphasa<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wisata alam dikasih cat warna-warni itu biar apa dah?<\/p>\n","protected":false},"author":825,"featured_media":104159,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10424],"class_list":["post-103949","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-wisata-alam"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103949","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/825"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=103949"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103949\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104159"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=103949"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=103949"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=103949"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}