{"id":103901,"date":"2021-02-03T09:42:28","date_gmt":"2021-02-03T02:42:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=103901"},"modified":"2022-02-25T21:23:50","modified_gmt":"2022-02-25T14:23:50","slug":"kampung-saya-adalah-komunitas-melayu-yang-percaya-reinkarnasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampung-saya-adalah-komunitas-melayu-yang-percaya-reinkarnasi\/","title":{"rendered":"Kampung Saya Adalah Komunitas Melayu yang Percaya Reinkarnasi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pemuda yang sangat penasaran akan masa lalu, saya sangat suka berbincang dan bertanya banyak hal kepada tetua di kampung. Tuo tengganai kalau bahasa adatnya. Dari bincang-bincang itu saya dapat mengetahui banyak sekali cerita yang tidak mungkin saya temukan di dalam buku-buku Sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, salah satu yang paling menarik adalah kampung saya memercayai adanya reinkarnasi dalam kehidupan layaknya kepercayaan Hindu dan Buddha. Padahal, kampung saya berada di tengah-tengah komunitas Melayu yang tentu saja Islam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama kampung saya adalah Mersam, sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Batang Hari, Jambi. Kecamatan Mersam adalah gabungan dari wilayah adat Mersam, Sekati, dan Rantau Gedang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, yang saya ceritakan kali ini adalah Mersam sebagai sebuah wilayah adat, yaitu adat Mersam yang terdiri dari Desa Kembang Paseban, Kembang Tanjung, Mersam, Benteng, dan Pematang Gadung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mayoritas penduduknya beragama Islam dengan pandangan hidup seperti masyarakat Melayu Jambi pada umumnya, yaitu adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah. Maka tidak heran ada banyak sekali kebudayaan Mersam yang sudah bertransformasi menjadi lebih Islami seiring dengan berkembangnya pemahaman agama Islam masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, ada satu kepercayaan yang sebenarnya jauh dari ajaran Islam, tapi masih dipercayai mayoritas masyarakat Mersam karena saking nyatanya. Kepercayaan itu adalah percaya adanya reinkarnasi. Aneh bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah mencoba berselancar di internet untuk mencari kasus serupa di Indonesia. Namun tidak ada kecuali kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Hindu atau Buddha yang memang mengajarkan itu. Oleh karena itu, saya jadi curiga jangan-jangan kampung saya satu-satunya yang memiliki kepercayaan seperti itu.<\/span><\/p>\n<h4>Satu, reinkarnasi di kampung saya disebut ngundu<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Reinkarnasi bukanlah suatu pemahaman baru bagi penduduk kampung saya. Tahap keterkejutan orang kampung saya terhadap reinkarnasi berada di level \u201coh\u201d bukan \u201cwaw\u201d. Dengan kata lain jika ada orang yang mengaku pernah hidup di masa lalu, respons yang muncul tidak terlalu berlebihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menyebut seseorang yang bereinkarnasi orang kampung saya menyebutnya \u201cngundu\u201d, dengan cara pelafalan menyamarkan suara \u201cd\u201d. Entah dari mana muncul istilah ini. Mungkin berasal dari kata Hindu yang dikata kerjakan menjadi menjadi menghindu atau ngindu. Lantas lambat laun kata ngindu berubah menjadi ngundu. Tapi, entah, lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang pasti, dengan adanya istilah itu membuktikan bahwa reinkarnasi bukanlah hal asing di tengah masyarakat kampung saya.<\/span><\/p>\n<h4>Dua, kasus orang yang mengalami ngundu<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membedakan kepercayaan ngundu dengan reinkarnasi ala agama Hindu dan Buddha adalah universalitas. Jika orang Hindu dan Buddha percaya setiap manusia itu bereinkarnasi, tidak demikian dengan orang kampung saya. Orang kampung saya menggunakan istilah ngundu hanya untuk kasus seseorang yang mengaku pernah hidup di masa lalu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak sekali kasus di kampung saya di mana seseorang mengaku pernah hidup di masa lalu. Biasanya pengakuan itu terjadi ketika mereka masih anak-anak yang baru belajar ngomong. Anak yang dipercayai ngundu biasanya sangat lancar menceritakan kehidupannya di masa lalu secara detil dan tepat. Mereka bahkan masih merasa terikat dengan kehidupan masa lalunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetangga saya misalnya, ketika dia masih kecil, setiap pekan pasar tiba dia selalu menunggu ibunya di masa lalu lewat ke pasar. Setiap kali ibunya itu lewat dia selalu berteriak-teriak memanggil ibunya. Padahal anak itu tidak pernah bertemu dengan orang yang dipanggil ibu itu sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih ada banyak kasus serupa yang tidak mungkin saya ceritakan satu persatu. Namun, poin saya adalah meskipun pemahaman Islam sudah sangat kental di kampung saya, masyarakat tidak dapat untuk tidak percaya karena terjadi banyak kasus dan ceritanya yang disampaikan anak yang ngundu sangat detil dan tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan tokoh agama pun banyak yang percaya karena fenomena ini terjadi di sekeliling mereka. Bagi mereka, fenomena ini meskipun sulit dijelaskan secara agama tetap merupakan kuasa Allah SWT. Mereka menjadikan ngundu sebagai penambah iman kepada Allah yang Maha Kuasa melakukan segalanya.<\/span><\/p>\n<h4>Tiga, kemiripan dengan ajaran Hindu dan Buddha<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun berbeda secara kepercayaan, ngundu juga memiliki kemiripan dengan ajaran reinkarnasi Hindu dan Buddha. Baik itu Hindu dan Buddha maupun ngundu sama-sama memiliki tahap menjadi hewan sebelum terlahir kembali menjadi manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja tahapan dalam ngundu bukan sebuah tahapan yang harus dipercayai oleh orang kampung saya. Tahapan itu hanya berupa kisah yang diceritakan seorang anak yang ngundu. Hewan yang paling sering menjadi wadah ruhnya adalah ikan dan rusa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata mereka setelah mereka mati, mereka berubah menjadi hewan seperti ikan, rusa, atau hewan lainnya. Kemudian mereka ditangkap dan dimakan oleh orang tuanya. Terkadang mereka masih dapat menunjukkan bekas lukanya dulu sewaktu masih menjadi hewan seperti bekas tertembak atau terkapak.<\/span><\/p>\n<h4>Empat, cara menghilangkan ingatan masa lalu<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya orang kampung saya yang mengetahui anaknya ngundu akan berupaya menghilangkan ingatannya. Upaya itu dilakukan karena banyak kasus yang memprihatinkan, seperti seorang anak yang tiap hari mendatangi rumah seorang perempuan yang diyakini adalah istrinya di masa lalu. Ada pula seorang anak yang selalu merajuk jika dimarahi ibu kandungnya. Katanya lebih baik dia pulang ke rumah ibunya di masa lalu saja yang menurutnya lebih enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau terjadi kasus seperti itu biasanya keluarganya akan berupaya menghilangkan ingatan tersebut dengan cara memberi makanan sisa ibunya. Sejauh ini cara tersebut selalu berhasil menghilangkan ingatan masa lalu anak yang ngundu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tidak semua orang tua menghilangkan ingatan anaknya. Sampai sekarang masih ada orang ngundu dewasa yang masih dapat mengingat kehidupannya di masa lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tahu apakah dengan memercayai hal tersebut akan menggoyahkan keimanan saya atau tidak. Yang pasti fenomena ngundu bukanlah seperti legenda cindaku yang masih \u201ckatanya-katanya\u201d. Ngundu hadir dalam kehidupan masa sekarang dan orangnya pun masih banyak yang hidup. Boleh percaya boleh tidak.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membedah-kekuatan-dapunta-hyang-sang-raja-pertama-kedatuan-sriwijaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Membedah Kekuatan Dapunta Hyang, Sang Raja Pertama Kedatuan Sriwijaya <\/a>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ubaidillah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ubaidillah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kampung saya percaya adanya reinkarnasi seperti ajaran Hindu dan Buddha, padahal kampung saya berada di tengah-tengah komunitas Melayu.<\/p>\n","protected":false},"author":1140,"featured_media":105488,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10523,10524],"class_list":["post-103901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ngundu","tag-reinkarnasi"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1140"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=103901"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103901\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105488"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=103901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=103901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=103901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}