{"id":103666,"date":"2021-01-28T12:04:27","date_gmt":"2021-01-28T05:04:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=103666"},"modified":"2021-01-28T10:23:20","modified_gmt":"2021-01-28T03:23:20","slug":"penggunaan-bahasa-sunda-punten-untuk-minta-maaf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penggunaan-bahasa-sunda-punten-untuk-minta-maaf\/","title":{"rendered":"Penggunaan Bahasa Sunda &#8216;Punten&#8217; untuk Minta Maaf"},"content":{"rendered":"<p>Dalam bahasa Sunda, ada satu kata yang dikenal luas digunakan untuk meminta izin atau memohon permisi, yaitu \u201cpunten\u201d. Kata ini lazimnya dibalas dengan kata &#8220;mangga&#8221;. Dalam bahasa Indonesia, \u201cpunten\u201d artinya permisi. Jadi, kalau bahasa Inggris punya kata \u201cexcuse me\u201d, bahasa Sunda punya kata \u201cpunten\u201d.<\/p>\n<p>Namun, di tanah Sunda, sebetulnya penggunaan kata \u201cpunten&#8221; nggak hanya sebatas untuk meminta izin atau memohon permisi. Orang-orang non-Sunda pun umumnya mengetahui kalau penggunaan kata &#8220;punten&#8221; hanya sebatas untuk itu.<\/p>\n<p>Kata \u201cpunten\u201d sendiri sudah terdaftar dalam KBBI yang artinya permisi atau maaf. Memang betul, kata \u201cpunten\u201d bisa untuk memohon maaf. Tapi, yang harus digarisbawahi, nggak semua situasi permintaan maaf bisa menggunakan kata \u201cpunten\u201d. Sedangkan kata &#8220;maaf&#8221; dalam bahasa Indonesia memang bisa digunakan dalam situasi permintaan maaf apa pun.<\/p>\n<p>Contohnya, ada suami yang ketahuan selingkuh oleh istrinya, nggak mungkin kan sang suami meminta maaf kepada istrinya dengan mengatakan, &#8220;Punten, saya selingkuh\u201d? Ini mah si suami malah bisa ditempeleng istri. Contoh lainnya, ada pencuri meminta maaf dengan mengatakan, \u201cPunten, saya mencuri.\u201d Alih-alih dimaafkan, korban pencurian malah makin tambah marah kepada pencuri tersebut. Dalam kedua situasi tersebut, justru lebih tepat menggunakan kata \u201champura\u201d daripada \u201cpunten\u201d.<\/p>\n<p>Kalau begitu, kata \u201cpunten\u201d bisa digunakan untuk permintaan maaf dalam situasi apa saja? Mari kita simak.<\/p>\n<h4>#1 Menanyakan hal-hal yang sensitif menyinggung orang lain<\/h4>\n<p>&#8220;Punten&#8221; bisa digunakan untuk menanyakan hal-hal yang sensitif, misalnya menanyakan usia langsung kepada orangnya. Bagi sebagian orang, usia adalah hal yang sensitif untuk ditanyakan. Supaya nggak menyinggung perasaan orang yang kita tanya, kita bisa mengawali pertanyaan dengan kata &#8220;punten&#8221;. Misalnya, \u201cPunten, kalau Bapak sekarang usianya berapa?\u201d<\/p>\n<p>Dengan mengawali pertanyaan ini dengan kata \u201cpunten\u201d, sebenarnya kita sudah memohon maaf kepadanya kalau misalnya blio tersinggung dengan pertanyaan kita tersebut.<\/p>\n<h4>#2 Meminta bantuan orang lain<\/h4>\n<p>Umpamakan kita sedang melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan rumah. Kita yang sedang letih karena bekerja membutuhkan ember, sedangkan posisi ember jauh dari kita. Kita lalu meminta bantuan seseorang yang kebetulan sedang santai untuk mengambilnya.<\/p>\n<p>Supaya nggak ada kesan menyuruh-nyuruh bak babu yang bisa bikin dia tersinggung, kita bisa meminta, \u201cPunten, bisa tolong ambilkan ember?\u201d Kalimat ini terasa lebih enak dibandingkan \u201cTolong ambilkan ember.\u201d<\/p>\n<h4>#3 Menanyakan hal-hal penting<\/h4>\n<p>Terkadang, ada hal-hal penting yang ingin kita tanyakan kepada orang lain. Tapi, kita nggak ingin pertanyaan ini malah membuat orang lain tertekan seperti pertanyaan seorang interogator kepada pelaku kejahatan yang sedang interogasi. Kita juga nggak ingin pertanyaan ini malah memicu emosi orang lain sehingga berujung adu mulut bahkan baku hantam.<\/p>\n<p>Nah, pada titik inilah gunakan kata \u201cpunten\u201d agar pertanyaan kita nggak bikin orang lain tertekan. Dan juga, agar orang lain nyaman dengan pertanyaan kita. Misalnya, tetangga meminjam mobil kita. Setelah mobil ini dikembalikan, ada goresan baret pada mobil. Kita ingin tetangga melihat mobil. Supaya nggak menyinggung atau membuatnya jadi tertekan dengan pertanyaan kita, coba pertanyaan berikut, \u201cPunten, ini bodi mobilnya kenapa, ya?\u201d Pertanyaan ini lebih enak didengar dibandingkan \u201cIni bodi mobil kenapa, ya?<\/p>\n<h4>#4 Permintaan maaf untuk kesalahan-kesalahan kecil<\/h4>\n<p>Manusia nggak bisa lepas dari kesalahan. Nah, kalau kita melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang merugikan orang lain, bisa menggunakan kata \u201cpunten\u201d untuk meminta maaf. Misalnya, saat tengah berbelanja di supermarket, keranjang belanja kita tak sengaja menyenggol tubuh orang lain.<\/p>\n<p>Itulah panduan penggunakan kata \u201cpunten\u201d untuk meminta atau memohon maaf. Semoga tulisan ini menambah wawasan tentang serba-serbi kekayaan bahasa Sunda, khususnya bagi orang-orang non-Sunda yang belum terlalu banyak mengenal bahasa Sunda.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-sunda-untuk-menyebut-wanita-aduhai-banyak-nggak-cuma-geulis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bahasa Sunda untuk Menyebut Wanita Aduhai Banyak, Nggak Cuma &#8216;Geulis&#8217;<\/a> dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rahadian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rahadian<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"http:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kata &#8220;punten&#8221; dalam bahasa Sunda digunakan untuk permohonan maaf. Tapi, nggak semua situasi permintaan maaf bisa menggunakan kata \u201cpunten\u201d.<\/p>\n","protected":false},"author":506,"featured_media":104075,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6512,10423],"class_list":["post-103666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-sunda","tag-punten"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=103666"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103666\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104075"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=103666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=103666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=103666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}