{"id":103406,"date":"2021-01-26T07:01:13","date_gmt":"2021-01-26T00:01:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=103406"},"modified":"2021-01-25T21:59:22","modified_gmt":"2021-01-25T14:59:22","slug":"manajemen-tai-kucing-untuk-meningkatkan-harkat-dan-martabat-mereka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/manajemen-tai-kucing-untuk-meningkatkan-harkat-dan-martabat-mereka\/","title":{"rendered":"Manajemen Tai Kucing untuk Meningkatkan Harkat dan Martabat Mereka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pojok teras kontrakan lamaku tidak pernah disambangi. Bukan karena angker atau apa. Lantaran di situ banyak tai kucing yang bertebaran, menggunung, dan memfosil karena tidak pernah dibersihkan. Kesel dan jijik banget rasanya. Kadang pengin ngomel ke kucingnya, sana berak di rumah tuanmu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagiku, kucing adalah hewan yang menjijikkan yang kerjaannya mengacak-acak sampah bahkan kadang mencuri makanan. Sebagian orang berpikir demikian. Sebagian yang lainnya berpikir bahwa kucing adalah hewan yang lucu dan menggemaskan. Pecinta kucing bahkan memanjakan kucing mereka dengan berbagai perlakukan istimewa. Namun, baik pecinta kucing maupun non-pecinta kucing, mereka sepakat bahwa tai kucing adalah benda yang menjijikkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan ketika Anda asyik bercengkrama di halaman rumah, atau sedang asyik jalan-jalan sore tiba-tiba dasar alas kaki Anda menginjak barang yang empuk, lengket, dan tak lama kemudian tercium aroma dajjal yang busuk. Yak, selamat Anda menginjak tai kucing. Aku yakin mood setiap orang akan drop sesaat setelahnya: gagal tetap merasa asyik dengan suasana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pecinta kucing mungkin akan misuh sebentar, lalu biasa saja. Namun, untuk non-pecinta kucing, mereka akan mengutuki kucing tanpa henti. Kadang setelah menginjak tai kucing, mereka malah menyebut anjing. Aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi jika ditilik dari segi kesehatan, tai kucing menjadi carrier (pembawa) parasit Toxoplasma Gondii. Parasit ini dampaknya tidak main-main, menyebabkan penurunan kekebalan tubuh hingga membawa cacat bawaan pada bayi jika menginfeksi ibu hamil. Fuller Torrey, salah seorang psikiater peneliti tai kucing menyebutkan parasit tersebut bisa bertahan 18 bulan. Bayangkan, parasit berbahaya bertebaran di sekitar lingkungan setahun lebih!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, mau bagaimana lagi, makhluk yang makan pasti akan akan mengeluarkan kotoran. Manusia sendiri mengeluarkan kotoran melalui pipis, tai, dan keringat. Untungnya manusia mempunyai akal dan morfologi yang lengkap, jadi manusia bisa membuat toilet. Nah, kalau kucing? Ya kali kucing jalan-jalan ke toko bangunan beli semen dan pasir terus membangun toilet?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu saat lagi asyik telpon gombalin cewek di halaman rumah, aku menginjak tai kucing. Buru-buru aku undur diri. Bubar dan gagal dapat cewek saat itu juga. Bayangkan, perkara tai kucing bisa sampai seserius itu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah tai kucing inilah yang membuat kucing disepelekan dan terpinggirkan. Untuk kucing rumahan tentu tidak perlu dipikirkan mengingat makan dan berak sudah disediakan tempat oleh tuannya. Nah, kalau kucing kampung jalanan? Sudahlah makan dari sampah dan belas kasihan manusia, berak sembarang pula. Masalah inilah yang membuat orang semakin benci dan jijik dengan kucing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bagaimanapun, kucing jelas tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Mereka tidak punya akal pikiran, mereka cuma punya insting. \u201cDi mana ada pasir, tanah atau tempat sepi, di situlah aku berak,\u201d pikir kucing dalam benaknya. Tidak pernah kucing berpikir, \u201cIni jalanan umum aku nggak boleh berak di sini. Aku harus cari tanah kosong, menggali satu meter, barulah aku berak di situ.\u201d Dikira kucing itu manusia beradab apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu penting rasanya para pecinta kucing duduk bersama dan berembuk untuk membentuk kurikulum manajemen tai kucing. Bisa dimulai dengan bedah materi tentang kucing dan tai kucing secara ilmiah dan komprehensif. Kemudian barulah merumuskan langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah per-tai-an ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Edukasi untuk non-pecinta kucing juga perlu digalakan. Perlu kiranya diberi pengertian dan arahan bagaimana menghadapi \u201cbarang laknat\u201d tersebut. Mengutuki barang kotor dan mengganggu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Tinggal bagaimana cara menghadapi barang tersebut. Non-pecinta kucing bukan artinya pembenci kucing. Bisa jadi mereka hanya tidak tahu caranya menghadapi masalah kucing terutama tainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah wacana yang kongkret. Bukan apa-apa, seperti yang kita tahu, saat ini banyak pecinta kucing yang memberi makan kucing jalanan. Pecinta kucing jenis ini ke mana-mana membawa makanan kucing untuk dibagikan ke kucing liar yang mereka temui di jalanan. Mereka mengira orang-orang sekitar tidak mau memberi makan kucing-kucing liar. Padahal orang-orang sekitar berpikir, \u201cKalau aku ngasih makan, nanti mereka pasti berak sembarangan di lingkungan sekitar. Mager, ah, ngurusin tai kucing.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi hasil akhir dari pembentukan kurikulum manajemen tai kucing itu membentuk Komunitas Sapu Jagad Tai Kucing atau apalah. Pasukan komunitas ini akan bersenjatakan sapu, serok, dan kantong sampah lengkap dengan APD yang melekat yaitu sarung tangan, masker, dan sanitizer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalaulah tai kucing di-manage dengan baik, pasti harkat dan martabat kucing juga akan naik. Secara otomatis, orang-orang awam non-pecinta kucing juga akan memberi makan kucing secara layak. Sehingga pada akhirnya nanti baik kucing maupun manusia akan hidup berdampingan dengan damai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saatnya manajemen tai kucing digalakkan. Memberi makan kucing liar memang hal yang mulia, tapi kurang sedikit lagi untuk mencapai tahap sangat mulia: membersihkan tai kucing yang berak sembarangan. Mulia sekali, bukan?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngakunya-pecinta-kucing-tapi-cuma-cinta-kucing-impor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ngakunya Pecinta Kucing, tapi Cuma Cinta Kucing Impor<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut saya, penting rasanya para pecinta kucing duduk bersama dan berembuk untuk membentuk kurikulum manajemen tai kucing.<\/p>\n","protected":false},"author":1339,"featured_media":103505,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9691,10379,10378],"class_list":["post-103406","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-berak","tag-hewan-liar","tag-tai-kucing"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103406","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1339"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=103406"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103406\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/103505"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=103406"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=103406"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=103406"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}