{"id":103239,"date":"2021-01-31T07:03:40","date_gmt":"2021-01-31T00:03:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=103239"},"modified":"2021-01-31T11:43:02","modified_gmt":"2021-01-31T04:43:02","slug":"kalau-orang-sunda-susah-bilang-f-orang-di-kampung-saya-susah-bilang-w-sebuah-contoh-dialek-epik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-orang-sunda-susah-bilang-f-orang-di-kampung-saya-susah-bilang-w-sebuah-contoh-dialek-epik\/","title":{"rendered":"Kalau Orang Sunda Susah Bilang F, Orang di Kampung Saya Susah Bilang W. Sebuah Contoh Dialek Epik!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Jawa punya kecenderungan membaca kata dengan huruf awalan b, j, d, dengan menyisipkan huruf n, m, atau ng di depannya.\u00a0 Contoh dialek demikian adalah kata \u201cBantul\u201d yang oleh orang ber-KTP asli Jogja, lebih-lebih yang rumahnya Banguntapan menyebut \u201cBantul\u201d menjadi \u201cmBantul\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyebut \u201cJanti\u201d jika dibiarkan polosan begitu, katanya tidak ada rimanya. Lagi-lagi ini menurut beberapa orang Jawa dan orang Jogja secara spesifik. Katanya menyebut \u201cnJanti\u201d lebih \u201cnJawani\u201d, lebih mantap dan lebih menjiwai. Ada\u00a0 kata lain, misal \u201cGiwangan\u201d yang kelihatan telanjang jika tanpa ng di depannya. Akan lebih joss kotos-kotos jika dijadikan \u201cngGiwangan\u201d. Lebih ada irama yang terpenuhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah menanyakan alasan untuk hal ini, apakah orang-orang Jawa punya masalah dengan ketiga jenis kata yang berawalan huruf-huruf b, j, dan d? Apa masalahnya jika kata dengan awalan ketiga huruf itu tidak ada \u201cgerakan\u201d tambahannya? Namun, sejauh yang saya dapatkan, belum ada jawaban yang menurut saya masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di bagian barat Pulau Jawa, ada juga peradaban lain yang memiliki kecenderungan tertentu. Contoh dialek orang Sunda, beberapa agak kesusahan membedakan v, f, dan p. Entah ada urusan apa mereka dengan ketiga hurup tersebut. Intinya, ketika berhadapan dengan hurup-hurup itu, orang-orang Sunda seperti kebingungan sendiri. Lha ya masa, nyebut tempat pengelompokan jurusan dengan pakultas? Ora wangun blas!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau dengan alasan yang &#8220;katanya&#8221; masuk akal karena di tradisi Sunda tidak ada hurup v dan f, yang ada hanya p sebagai penggantinya, tetap saja lucu ketika menyaksikan hal itu terjadi dalam pergaulan saya dengan orang-orang Sunda. Tapi, lucu yang saya maksud bukan dengan maksud merendahkan lho ya. Saya paham betul contoh dialek orang-orang itu berbeda tiap daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut-usut punya, ternyata di daerah agak ke timur, di kampung saya yang ada di Wakatobi sana, kecenderungan serupa juga terjadi. Di Tomia secara umum, ada kecenderungan untuk mengganti huruf w dengan f atau v. Agak aneh memang. Anda bisa membayangkan, bagus-bagus DC bikin komik Wonder Woman, tiba di lidah orang Tomia malah jadi \u201cVonder Vomen\u201d. Atau malah jadi \u201cFonder Fomen\u201d. Sangat absurd dan nggak ada keren-kerennya sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang lahir dan besar dengan kecenderungan mengganti huruf w (literally semua huruf w di kata apa pun), awalnya saya bisa memaklumi \u201ckeanehan\u201d tersebut. Saya bisa sangat maklum ketika ada orang dari kampung saya bertanya, \u201cKamu sekolah di Java?\u201d Atau misal ada orang di tempat saya mengganti Banyuwangi dengan Banyufangi. Saya masih bisa sangat maklum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan ketika ada khatib yang mengucap salam Assalamualaikum farahmatullahi fabarakatuh saat khutbah jumat yang lantas dijawab Faalaikumsalam Farahmatullahi Fabarakatuh oleh jamaah, saya tetap menerima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga pada titik saat saya malah melihat bahwa saya seperti tidak adil sejak dalam pikiran. Saya menertawakan orang Jawa yang sukanya nambah-nambahin huruf dalam satu kata. Pun melakukan hal yang sama kepada orang Sunda yang kesusahan menyebut f dan v dan menggantinya dengan p. Saya menjadi sangat sadar bahwa saya harus menerima ketidaksempurnaan huruf di aksara Wakatobi, terutama Tomia. Sekedar info, bahasa di Wakatobi berbeda tiap pulau, walau sebenarnya berangkat dari akar bahasa yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demi meminimalisir rasa kecewa saya kepada bahasa saya yang kekurangan huruf w itu, saya mencari sebab musababnya. Saya menanyakan kepada beberapa orang tua yang sekiranya punya kapasitas menjawabnya. Pun saya meneliti kemungkinan penyebabnya. Dari sana, saya menemukan hal menarik sebagai jawaban yang menyebabkan hilangnya huruf w di alfabet kami.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, budaya keras dan maskulin menyebabkan lidah orang-orang Wakatobi, terutama Tomia menjadi penyebabnya. Lidah semua orang di kampung saya, (tidak hanya pria tapi juga vanita), menjadi sangat kaku dan tegang. Selain w sebenarnya ada beberapa huruf lagi yang orang-orang di kampung saya punya referensi berbeda menyebutkannya. Misal l versi kampung saya yang terlihat lucu jika dieja orang lain yang bukan orang tempat saya. Jika ada orang luar yang menyebutkan kata dengan l, langsung akan dianggap feminin entah dia cowok atau cewek.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, Kesultanan Buton yang memiliki banyak sekali bagian kekuasaan. Jarak yang berjauhan seperti memberi otonomi kepada negeri-negeri yang dibawahi Kesultaan Buton agar punya bahasa sendiri, termasuk alfabet mereka sendiri. Pada akhirnya muncullah tradisi aksara yang sangat maskulin itu di Tomia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh dialek lain di setiap budaya pasti masih banyak dan saya yakin semua itu menjadi kekhasan daerah masing-masing. Fakta ini bikin saya menyadari kalau selain kaya akan bahasa daerah, Indonesia juga kaya akan variasi dari bahasa daerah masing-masing. Banyak kerennya, ada juga lucunya.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dialek-orang-wonosobo-itu-beda-bukan-ngapak-dan-bukan-bandek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Dialek Orang Wonosobo Itu Beda, Bukan Ngapak dan Bukan Bandek<\/a> dan <\/b><b>tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/taufik\/\"><b>Taufik<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\"><b><i>di sini.<\/i><\/b><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagus-bagus DC bikin komik Wonder Woman, tiba di lidah orang Tomia malah jadi \u201cVonder Vomen\u201d. Sungguh contoh dialek yang membagongkan.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":92762,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2519,725],"class_list":["post-103239","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-daerah","tag-dialek"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103239","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=103239"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103239\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92762"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=103239"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=103239"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=103239"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}