{"id":102763,"date":"2021-01-24T06:48:53","date_gmt":"2021-01-23T23:48:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=102763"},"modified":"2021-10-20T12:06:10","modified_gmt":"2021-10-20T05:06:10","slug":"demi-menjaga-lingkungan-apa-sebaiknya-kita-mandi-sehari-sehari-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/demi-menjaga-lingkungan-apa-sebaiknya-kita-mandi-sehari-sehari-saja\/","title":{"rendered":"Demi Menjaga Lingkungan, Apa Sebaiknya Kita Mandi Sehari Sekali Saja?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebenarnya cukup minder menggunakan kata \u201cmenjaga lingkungan\u201d dalam tulisan ini. Buka apa-apa, level saya masih terlalu pemula buat ngomongan isu tersebut. Namun saya rasa itu yang tepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ide tulisan ini bermuara dari sebuah vlog dari akun <\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=srDRWT-5a8E\"><span style=\"font-weight: 400;\">Londokampung<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang membahas sebuah keluarga Australia setelah 30 tahun di Indonesia. Dalam video itu, Dave si \u201clondo kampung\u201d bertanya kepada orangtuanya, \u201cDalam sehari, mandi sekali sehari atau dua, tiga, empat kali?\u201d Bu Heda, ibunya Dave, menjawab bahwa ia selalu mandi dua kali sehari di Indonesia, tapi ia hanya mandi sekali sehari di Australia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik dari video tersebut justru adalah alasan Bu Heda. Dengan heroik, patriotik, dan cinta lingkungan, ia mengatakan bahwa selain karena kebudayaan mandi di Australia dan Indonesia yang berbeda, Australia juga kekurangan air. Makanya orang Australia akan marah jika ada orang yang menghambur-hamburkan air dengan mandi dua kali sehari. Ada sebuah misi menjaga lingkungan yang diselipkan dalam kebiasaan mandi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di level permukaan, saya sering kali secara serampangan dan gegabah menuduh bahwa negara-negara yang mempunyai budaya mandi sehari sekali seperti Australia, Prancis, China, Meksiko, Rusia, Inggris, Swedia, Jerman, dan Amerika Serikat adalah orang-orang pemalas dan jorok. Mungkin sebagiannya iya tapi nggak sepenuhnya asumsi tersebut tepat. Alasan Bu Heda tadi misalnya, cukup membuat saya yang belum pernah ke Aussie tertohok. Ternyata tujuannya buat menjaga lingkungan dengan tidak boros pasokan air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada dua catatan dalam benak saya bakda<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">menonton video tersebut. <\/span><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, secara kultural, klaim bahwa orang Indonesia mandi dua kali sehari juga tidak sepenuhnya benar. Tidak semua kawasan di Indonesia subur dan berair melimpah. Provinsi NTT adalah contohnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan saja Australia dan pulau-pulau di provinsi NTT misalnya. Keduanya sama-sama tandus dan langka airnya. Masyarakat di NTT bahkan ketika mereka ingin mandi pun tak jarang hanya menggunakan air hujan yang ditampung. Masih ingat, istilah \u201csekarang sumber air su dekat\u201d di iklan air mineral kemasan yang masyhur itu? Tidak semua daerah itu tongkat kayu dan batunya jadi tanaman.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sebaiknya kita juga nggak usah congkak karena swasembada air bersih dengan mandi dua kali sehari. Sesurplus apa sih memangnya kita dengan air bersih? Kita hanya beruntung. Beruntung karena masih ada orang yang menanam dan merawat pohon meskipun yang merusak dan menebang lebih terstruktur, sistematis, dan masif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ini kita kebanjiran karena pohon-pohon di hulu aliran sungai ditebang secara tidak berkala. Esok lusa, bukan tidak mungkin kita senasib sepenanggungan seperti orang-orang Australia. Tidak bisa mandi dua kali sehari karena airnya limited. Seperti sebuah adagium, \u201chanya ketika pohon terakhir sudah kita tebang, ketika sungai terakhir sudah tercemar, dan ketika ikan yang terakhir sudah ditangkap, pada saat itu kita baru akan sadar bahwa uang tak bisa kita makan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tidak usah jauh-jauh melihat hutan Sumatera, Kalimantan, dan Papua yang semakin kecil luasnya. Di Yogyakarta saja, film dokumenter yang berjudul <\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=srDRWT-5a8E\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Belakang Hotel <\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">produksi Watchdoc Documentary sudah secara jelas menggambarkan bagaimana krisis air bersih terjadi akibat hegemoni pembangunan dan menipisnya sumber-sumber resapan air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat masyarakat Australia hari ini yang tidak bisa menikmati mandi dua kali sehari karena sumber daya alam mereka yang terbatas, seharusnya menjadi alarm bagaimana kita mensyukuri kemegahan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia dengan perilaku-perilaku yang lebih eco-friendly.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas jangan mandi dua kali sehari? Saya akan mengatakan, mungkin iya. Mungkin iya, kamu jangan mandi dua kali sehari jika kesibukanmu hanya rebahan from home atau di kos. Mungkin iya, jika musim sedang kemarau. Mungkin iya, jangan mandi dua kali sehari tapi itu bukan key point-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jaga keberlanjutan ekosistem hijau di hutan dan lingkungan terdekat kita. Gunakan air secukupnya, bijaklah jika harus menebang pohon, jangan cemari aliran sungai, dan budayakan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan seperti orang Australia. Bila perlu, marahlah seperti masyarakat Australia jika ada orang yang membuang-buang air sakarepe dewe.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-mahasiswa-seni-jarang-mandi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> <strong>Alasan Mahasiswa Seni Jarang Mandi<\/strong><\/a><b>\u00a0dan artikel<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\">\u00a0<b>Terminal Mojok<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin kita perlu mempertimbangkan mandi sehari sekali saja. Bukan karena malas, tapi untuk menjaga lingkungan.<\/p>\n","protected":false},"author":1335,"featured_media":9935,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[1157,2507],"class_list":["post-102763","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-cinta-lingkungan","tag-jarang-mandi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1335"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=102763"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102763\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9935"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=102763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=102763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=102763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}