{"id":102273,"date":"2021-01-20T13:31:47","date_gmt":"2021-01-20T06:31:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=102273"},"modified":"2021-01-20T13:31:47","modified_gmt":"2021-01-20T06:31:47","slug":"salah-kaprah-tentang-bela-diri-taekwondo-yang-dipercayai-banyak-orang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salah-kaprah-tentang-bela-diri-taekwondo-yang-dipercayai-banyak-orang\/","title":{"rendered":"Salah Kaprah tentang Bela Diri Taekwondo yang Dipercayai Banyak Orang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu terkejut jika ada satu atau dua orang yang baru ketemu dengan saya dan tahu bahwa saya mengajar bela diri taekwondo lantas bercerita babibu mengenai bela diri yang sudah saya tekuni selama 12 tahun tersebut. Biasanya seputar pengetahuan (yang katanya umum) mengenai bagaimana taekwondo itu berarti bela diri yang mempergunakan kakinya untuk tendangan sehingga akan terbatas jika digunakan pada ruang gerak yang sempit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi mitos-mitos lain yang berkembang dan diamini oleh banyak orang. Mereka percaya, pada banyak hal yang justru berangkat dari apa yang banyak orang lain sebut sebagai cocoklogi dunia perbeladirian. Bahwa bela diri ini berarti begini, bela diri itu berarti harus begitu. Mereka menjadi guru dan pengamat bela diri dadakan yang kadang sekali dua kali melihat apa yang dilakukan seseorang dengan hal yang mereka tekuni lantas menyimpulkan, \u201coh ini itu bakal kayak gini nih, ntar\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebagai orang yang tidak mau kesesatan ini berlanjut sampai level akut. Dan tentu saja sekedar sharing bahwa banyak hal yang dipahami awam dan mereka benarkan sebagai kebenaran lantas membuat mereka yakin bahwa ilmu yang mereka benarkan itu nyata terjadi, mari saya beri tahu beberapa hal terkait salah kaprah tentang bela diri taekwondo yang berkembang di masyarakat.<\/span><\/p>\n<h4><b>Taekwondo dianggap sama dengan karate dan berasal dari Jepang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama-tama, saya harus memperkenalkan Mauritsz Dominggus, seorang asli Ambon, Indonesia yang merantau ke Belanda dan mempelajari taekwondo (aliran World Taekwondo) di Belanda. Pada 1972, blio membawa aliran bela diri ini masuk ke Indonesia. Memperkenalkannya kepada orang-orang, yang sudah kadung suka terlebih dahulu dengan bela diri yang mirip dan berasal dari Jepang, karate. Pada tahun-tahun itu, orang-orang sudah lebih dulu direcoki karate hampir ke semua lini kehidupan. Bahkan kabarnya, persyaratan khusus menjadi aktor laga, harus bisa karate.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebagai anak bawang yang baru masuk belakangan, agak susah untuk taekwondo menyesuaikan dengan pasar di Indonesia. Orang-orang memandang remeh aliran bela diri satu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada masa-masa taaruf ini, para praktisi beladiri Taekwondo melakukan berbagai cara agar bisa dikenal. Salah satunya dengan bergabung pada komunitas karate dan mempergunakan nama perkumpulan KATA EDO, gabungan dari karate dan taekwondo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berawal dari sinilah kemudian banyak orang mengidentikkan taekwondo kepada karate lalu menganggap keduanya sama-sama dari Jepang. Yang benar, taekwondo itu dari Korea.<\/span><\/p>\n<h4><b>Fokus ke gerakan kaki<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah kaprah selanjutnya orang-orang terhadap bela diri taekwondo adalah katanya, bela diri ini fokus ke gerakan kaki. Padahal dari arti namanya saja, taekwondo itu berarti seni bela diri yang menggunakan tangan dan kaki. Bahwa pada banyak kejuaraan, menjadikan kyorugi (pertarungan) sebagai yang paling banyak menggunakan kaki, saya pikir itu hanyalah penyederhanaan yang sudah berlangsung sejak bertahun-tahun yang lalu. Bahkan sejak beberapa tahun belakangan, penggunaan tangan dalam kejuaraan kyorugi menjadi poin yang kadang membawa ke podium juara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada kejuaraan poomsae (jurus), gerakannya berfokus pada tangan. Hanya ada beberapa gerakan tendangan. Gerakan kaki lainnya juga didominasi oleh kuda-kuda yang macem-macem jenisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah pada pertarungan jalanan, semua petarung dari aliran taekwondo lebih memilih kekuatan tangan sebagai senjata? Saya rasa sangat dangkal jika berpikir begitu. Praktisi bela diri yang mumpuni, akan bisa menggunakan semua bagian tubuhnya untuk bertarung, termasuk membunuh.<\/span><\/p>\n<h4><b>Tidak bisa bertarung dalam jarak yang dekat dan ruang sempit<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyambung dari penjelasan di bagian kedua, pertarungan seorang praktisi bela diri bisa terjadi dalam jarak yang tidak kita sangka dan duga. Termasuk di dalamnya pertarungan jarak dekat dan ruang sempit. Tidak harus sejarak jangkauan kaki. Sejarak pukulan pun, jika ia petarung yang handal dan bisa menggunakan ilmunya dengan baik, maka ia bisa meladeni penantangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang sama terjadi juga untuk para petarung di taekwondo. Yang sudah mahir dan menggunakan otaknya saat bertarung bisa meladeni pertarungan jarak dekat dan ruang sempit. Emang dikira kita-kita yang praktisi bela diri hanya fokus ke kaki doang? Ya nggak lah, semua hal yang berhubungan dengan pertarungan yang kita pelajari. Namun, mungkin yang kelihatan oleh orang ya saat latihan menggunakan kaki saja. Dan itu justru kabar gembira karena ilmu pertarungan lain masih bisa disimpan sebagai senjata pamungkas.<\/span><\/p>\n<h4><b>Praktisi bela diri suka berantem<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah menulis tentang <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/duka-praktisi-bela-diri-susah-mencari-guru-stigma-suka-berkelahi-dan-dianggap-bisa-sembuhin-kesurupan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Duka Praktisi Bela Diri: Susah Mencari Guru, Stigma Suka Berkelahi, dan Dianggap Bisa Sembuhin Kesurupan<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Di artikel itu, saya menerangkan bahwa ilmu yang saya anut dan saya berusaha untuk menurunkannya kepada murid-murid saya adalah ilmu langkah seribu. Bahwa misal saja sedang terjadi tawuran di barat, lari ke timur sejauh seribu langkah. Begitu pula sebaliknya. Boleh meladeni jika tidak ada lagi pilihan lain selain dihadapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka sangat salah jika menganggap semua praktisi bela diri, terutama taekwondo, bahwa mereka suka dengan tawuran dan berkelahi. Justru semakin bertambah ilmu bela diri seseorang praktisi, semakin sulit untuk ia sekedar diajak cari gara-gara.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/duka-praktisi-bela-diri-susah-mencari-guru-stigma-suka-berkelahi-dan-dianggap-bisa-sembuhin-kesurupan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Duka Praktisi Bela Diri: Susah Mencari Guru, Stigma Suka Berkelahi, dan Dianggap Bisa Sembuhin Kesurupan<\/strong><\/a> <b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/taufik\/\"><b>Taufik<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<div>\n<div><span class=\"ctaText\">Baca Juga:<\/span>\u00a0\u00a0<span class=\"postTitle\">4 Olahan Singkong yang Hanya Ada di Wakatobi<\/span><\/div>\n<\/div>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><b><i>di sini.<\/i><\/b><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya beri tahu beberapa hal terkait salah kaprah tentang bela diri taekwondo yang berkembang di masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":102418,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7705,1213,7930,3914,10297],"class_list":["post-102273","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bela-diri","tag-jepang","tag-karate","tag-korea","tag-taekwondo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102273","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=102273"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102273\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/102418"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=102273"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=102273"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=102273"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}