{"id":102246,"date":"2021-01-23T06:50:48","date_gmt":"2021-01-22T23:50:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=102246"},"modified":"2021-01-21T14:27:15","modified_gmt":"2021-01-21T07:27:15","slug":"panduan-menggunakan-kata-akang-buat-orang-non-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-menggunakan-kata-akang-buat-orang-non-sunda\/","title":{"rendered":"Panduan Menggunakan Kata \u2018Akang\u2019 buat Orang Non-Sunda"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara mengenai serba-serbi kebudayaan Jawa Barat, mesti membahas juga kata \u201cakang\u201d. Supaya lebih ringkas dan mudah menyebutnya, kata ini biasa disingkat menjadi \u201ckang\u201d. Gubernur Jawa Barat pun yang punya nama Ridwan Kamil disapa Kang Emil oleh khalayak luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang yang bukan orang Sunda umumnya menganggap bahwa kata \u201cakang\u201d sebatas sebutan untuk lelaki Sunda. Apalagi bagi yang nggak menetap di Jawa Barat. Kata \u201cakang\u201d pun sudah terdaftar dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Artinya, \u2018kakak kandung laki-laki\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, di Tanah Pasundan, penggunaan kata \u201cakang\u201d nggak hanya sebagai sebutan untuk kakak laki-lak atau sebutan untuk lelaki Sunda. Supaya tidak salah kaprah, saya akan berikan panduan menggunakannya.<\/span><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<h4><b>#1 Pengganti kata \u201ckamu\u201d kepada rekan sebaya agar obrolan terasa lebih akrab dan dekat<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Bahasa Sunda, ada beberapa kata yang artinya \u201ckamu\u201d. Antara lain, \u201canjeun\u201d, \u201cdidinya\u201d,\u201cmaneh\u201d, dan \u201csia\u201d. Nah, umpamakan kita bertemu dengan seseorang yang baru kita kenal. Usianya sebaya dengan kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Supaya obrolan terasa lebih akrab dan lebih dekat, daripada menggunakan \u201canjeun\u201d, \u201cdidinya\u201d, \u201csia\u201d, atau \u201cmaneh\u201d, kita lebih baik menggunakan kata \u201cakang\u201d sebagai pengganti kata \u201ckamu\u201d. . Kata ini bisa juga disertai nama orang yang bersangkutan. Misalnya, \u201cAkang Asep, apa kabar?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam siaran radio berbahasa Sunda, penyiar biasanya menggunakan kata sapaan ini agar lebih dekat dengan pendengar lelaki.<\/span><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<h4><b>#2 Panggilan untuk orang dewasa yang namanya belum diketahui<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umpamakan, kita orang non-Sunda yang sedang berada di Bandung. Kita ingin pergi menuju stasiun. Tapi, nggak tahu jalan menuju stasiun. Kita lalu bertanya kepada warga setempat. Pada titik ini, kata \u201cakang\u201d bisa digunakan sebagai panggilan kepada orang yang namanya tidak diketahui. Kita bisa menggunakan pertanyaan begni, \u201cKang, kalau jalan ke stasiun lewat mana?\u201d dan \u201cTerima kasih, Kang\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara ini terasa lebih membumi dan bersahabat daripada memanggilnya dengan sebutan \u201canjeun\u201d atau \u201cdidinya\u201d. Kata \u201canjeun\u201d atau \u201cdidinya\u201d cenderung bernuansa formal dan nggak pas dipakai dalam percakapan santau. Sedangkan kata \u201cmaneh\u201d dan \u201csia\u201d digunakan kepada rekan yang sudah dekat dan akrab karena lebih informal dan menunjukkan kedekatan penuturnya.<\/span><\/p>\n<p><b>#3 Panggilan untuk orang yang usianya lebih tua<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita sebagai orang yang berusia lebih muda langsung menyebut nama orang yang berusia lebih tua, memang terasa kurang sopan. Kata \u201cakang\u201d bisa juga diikuti oleh nama orang yang bersangkutan. Saya sendiri seringkali dipanggil demikian oleh rekan-rekan saya yang usianya lebih muda. Mungkin seperti panggilan \u201cMas\u201d dalam bahasa Jawa.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Panggilan untuk orang yang dihargai<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sapaan ini bisa juga untuk orang yang dihargai. Terlepas apakah orang tersebut usianya lebih tua atau lebih muda. Misalnya, kalau kamu perempuan bukan orang Sunda yang punya kekasih atau suami orang Sunda, walau usia pasangan lebih muda, kamu bisa menyebut \u201cakang\u201d kepadanya. Misalnya, suami atau kekasih kamu namanya Asep. Kamu bisa memanggil dia dengan panggilan \u201cKang Asep\u201d. Terasa lebih romantis, bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lainnya, kalau kamu punya atasan orang Sunda yang usianya lebih muda, kamu bisa memanggilnya dengan sapaan ini juga. Istri saya pun yang merupakan wanita Jawa asal Pati Jawa Tengah dan juga lebih muda usianya, memanggil saya \u201cakang\u201d. Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, akrab disapa Kang Emil. Sebab, blio adalah orang nomor satu di Jawa Barat.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Bisa digunakan dalam situasi formal atau santai.<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dalam percakapan sehari-hari, kata ini bisa juga digunakan dalam situasi formal. Ambil contoh, kamu adalah orang non-Sunda yang menjadi pembawa acara pernikahan. Kamu bisa menggunakannya. Misalnya, \u201cTerima kasih atas kedatangan akang-akang dalam acara pernikahan ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah, panduan menggunakan kata \u201cakang\u201d. Semoga tulisan ini membantu orang-orang non-Sunda yang belum lama menetap atau yang akan menetap di Tanah Pasundan. Tidak ada salahnya membumi buat mengaplikasikan pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-penggunaan-kata-aing-dalam-bahasa-sunda-untuk-orang-luar-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Penggunaan Kata \u2018Aing\u2019 dalam Bahasa Sunda untuk Pemula<\/a>\u00a0dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rahadian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rahadian<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang-orang non-Sunda umumnya menganggap bahwa kata \u201cakang\u201d hanyalah sebutan untuk lelaki Sunda. Padahal lebih kompleks dari itu.<\/p>\n","protected":false},"author":506,"featured_media":98759,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6512,141],"class_list":["post-102246","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-sunda","tag-bandung"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=102246"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102246\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/98759"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=102246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=102246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=102246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}