{"id":102042,"date":"2021-01-20T12:06:06","date_gmt":"2021-01-20T05:06:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=102042"},"modified":"2022-01-19T12:11:16","modified_gmt":"2022-01-19T05:11:16","slug":"di-mana-ada-warung-makan-ramai-di-situ-ada-isu-pesugihan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-mana-ada-warung-makan-ramai-di-situ-ada-isu-pesugihan\/","title":{"rendered":"Di Mana Ada Warung Makan Ramai, di Situ Ada Isu Pesugihan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya, kuliner dan cerita pesugihan itu bagai dawat dan kertas alias tak terpisahkan. Ini yang saya temukan saat berbelanja kebutuhan dapur di warung tetangga. Saya iseng bertanya kepada pemilik warung. \u201cPak, sekarang Warung X ramai banget ya? Kalau dulu jarang pembeli, bahkan sepi banget\u201d, tanya saya. \u201cLha wong kui disyarati kok yo Mas. Nganti ditanggapke wayang barang kok neng ndesane kono\u201d, jawab pemilik warung. Maksudnya usaha warung itu sengaja pakai laku tirakat atau prihatin, sampai mengundang wayang kulit yang dilakukan di desa asalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masyarakat Jawa, jamak orang melakukan laku prihatin dengan tujuan agar keinginannya bisa terkabul atau tercapai. Salah satunya dengan ritual agar warungnya bisa laris. Khalayak menyebutnya sebagai penglarisan. Apa yang disampaikan pemilik warung tetangga saya sepuluh tahun yang lalu itu semacam opini yang berkembang di masyarakat. Ada yang benar-benar membuktikan dengan melihat sendiri atau hanya cerita dari mulut ke mulut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu baru salah satu cerita dibalik usaha kuliner di negeri +62. Nah, setelah ngobrol dengan beberapa narasumber yang sangat profesional di bidang keanehan perkulineran, juga merangkum dari berbagai sumber, saya sajikan beberapa cerita aneh untuk Anda.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, masih di kampung saya tetapi beda RT. Ada tetangga kampung yang punya usaha kuliner yang lumayan terkenal. Gosip yang berkembang di kampung, tetangga saya ini menggunakan pesugihan dan penglarisan. Ada tetangga saya, mbak-mbak yang iseng cerita saat sedang berkunjung ke rumah saya beberapa puluh tahun yang lalu. Dia cerita, \u201cMas, coba saja minta uang ke Pak Yyy, pasti nanti akan dikasih uang berapa pun yang kita minta\u201d. \u201cLha kok bisa dikasih Mbak\u201d, jawab saya. Kata mbak-mbak tetangga saya itu, ternyata salah satu syarat pesugihan dan penglarisan adalah memberikan sesuatu kepada orang yang lain yang meminta. Dan mbak-mbak tetangga saya itu katanya sudah membuktikan. Kalau saya tidak berani mempraktikkan apa yang dilakukan mbak-mbak tetangga saya ini. Selain sungkan, beliau bapaknya teman saya. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, ada lagi cerita pesugihan dan penglarisan dari teman saya yang saya minta menyopiri kendaraan kakak beberapa hari yang lalu. Saat mengendarai mobil, teman saya cerita kalau ada teman dia yang sudah insyaf jadi preman (preman pensiun). Kemudian ingin usaha jualan aneka plastic di rumah dan buka usaha potong rambut. Dia pengin mendapatkan kesuksesan secara instan. Alhasil preman pensiun tersebut bertirakat di Gunung Kawi. Dia sudah setuju dengan semua persyaratan, termasuk akan menumbalkan nyawa anak pertamanya untuk syarat pesugihan dan penglarisan ini. Dengan ditemani juru kunci dan dukunnya, semalaman dia bertirakat. Dan tidak mendapatkan wangsit apa pun dari tirakatan. Alhasil si preman pensiun ini gagal mendapatkan pesugihan dan penglarisan. Tetapi, yang patut disyukurinya adalah anak pertamanya tidak jadi tumbal.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, kalau ini cerita dari grup Facebook (FB) yang saya ikuti. Salah satu anggota grup FB bercerita, suatu siang dia berkunjung ke suatu kota di Provinsi Jawa Tengah. Kemudian mampir ke salah satu warung untuk membeli makanan. Sambil menunggu pesanan makanan datang, dia merokok dan mainan HP. Tanpa sengaja, dia melihat pedagang makanan itu meludahi makanan yang akan dibungkus oleh istrinya. Tentu saja dia kaget bukan kepalang. Dia perhatikan lagi aksi pedagang itu. Dan diulanginya lagi. Jadi makanan itu ternyata diludahi dulu sebelum dibungkus oleh istrinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari hasil pengamatan dia, makanan yang diludahi itu ternyata khusus untuk makanan yang dibawa pulang atau take away. Sedangkan makanan yang dimakan ditempat, sama sekali tidak diludahi. Dia bersyukur makanan yang dia pesan tidak diludahi. Tetapi, dia kapok tidak akan makan di warung itu lagi, meski diakuinya masakannya enak.<\/span><\/p>\n<p><b>Keempat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, cerita ini dilansir dari berita online pada awal 2020. Ini yang paling menjijikan dan tidak bisa diterima oleh pecinta bakso seantero negeri +62. Awal 2020, kita digegerkan dengan kesaksian karyawan sebuah warung bakso di Surabaya. Warung bakso ini dikenal selalu ramai, dalam sehari mampu menjual sekitar 400 mangkuk bakso. Pemilik warung bakso dibantu oleh delapan orang karyawan. Dan yang aneh, karyawan dilarang untuk memasak kuah bakso dan menuangkan kuah bakso ke dalam mangkuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keganjilan ini terkuak saat pemilik warung bakso sedang menerima telepon dengan waktu yang lama. Sedangkan banyak pelanggan yang menunggu. Akhirnya salah satu karyawan berinisiatif untuk menuangkan kuah ke dalam mangkuk. Terjadi keanehan dan hal yang tidak terduga sebelumnya oleh karyawan tersebut. Saat mengangkat kuah, ia merasakan sesuatu yang berat. Awalnya dia mengira itu tulang sapi untuk kaldunya. Ternyata setelah diangkat yang muncul adalah celana dalam berwarna hitam. Sejak saat itu dia berpikir bahwa celana dalam berwarna hitam tersebut merupakan penglaris atau pesugihan yang dimiliki oleh pemilik warung bakso.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, bagi Anda yang ingin terjun ke dalam dunia kuliner, jangan coba-coba menggunakan metode pesugihan atau penglaris, kalau memang Anda masih ragu dengan segala risikonya. Tetapi, kalau Anda cukup mantap dengan segala risikonya, saya persilahkan Anda untuk tidak mengambil jalan pintas tersebut. Masih banyak cara untuk meraih kesuksesan dalam bidang usaha kuliner. Banyak role model yang bisa Anda tiru dan terapkan. Misalnya Anda bisa meniru Tuan Krabs, pemilik restoran Krusty Krab. Ada banyak pelajaran yang bisa Anda ambil dari cara bisnis Tuan Krabs. Anda tidak perlu pelatihan khusus untuk meniru Tuan Krabs. Anda cukup melihat tayangan serial televisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SpongeBob<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang hadir setiap hari di layar kaca Anda.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-dukun-pesugihan-bisa-bikin-kaya-kenapa-nggak-buat-dirinya-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kalau Dukun Pesugihan Bisa Bikin Kaya, Kenapa Nggak buat Dirinya Aja? <\/a><\/b><b><\/b><b>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/humam-zarodi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Humam Zarodi<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita pesugihan dan usaha kuliner adalah hal yang tak bisa dipisahkan.<\/p>\n","protected":false},"author":1298,"featured_media":58678,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[438,6949],"class_list":["post-102042","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-kuliner","tag-pesugihan"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102042","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1298"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=102042"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/102042\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=102042"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=102042"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=102042"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}