{"id":101889,"date":"2021-01-18T08:15:08","date_gmt":"2021-01-18T01:15:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=101889"},"modified":"2021-01-18T08:12:40","modified_gmt":"2021-01-18T01:12:40","slug":"lelaki-yang-alami-pelecehan-seksual-itu-masalah-super-besar-dan-bukan-guyonan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lelaki-yang-alami-pelecehan-seksual-itu-masalah-super-besar-dan-bukan-guyonan\/","title":{"rendered":"Lelaki yang Alami Pelecehan Seksual Itu Masalah Super Besar dan Bukan Guyonan!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, sempat ramai di jagat Twitter ketika ada seorang lelaki dengan pemilik akun <\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/banumelody\/status\/1349060863794188288\"><span style=\"font-weight: 400;\">@banumelody<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> membuat thread yang berisi tentang pengalaman tak mengenakkan menjadi korban pelecehan seksual, yakni begal payudara di jalan pas malam hari. Jelas saja, hal itu mengundang atensi banyak netizen untuk membaca dan me-retweet thread tersebut. Banyak sekali yang membercandakan kasus tersebut dan menganggapnya sebagai guyonan yang lucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tidak diketahui apakah niat si pelaku memang untuk mengincar laki-laki atau mengira bahwa korbannya itu perempuan, mengingat doi rambutnya gondrong, tetapi kejadian itu memunculkan permasalahan yang sebenarnya sudah gawat dan perlu untuk dibicarakan secara lebih lagi. Permasalahan yang secara tidak sadar tidak dipikirkan banyak orang bahwa itu adalah sebuah masalah. Paling tidak, ada beberapa hal yang dapat disadarkan kepada orang-orang dari kasus yang dialami doi.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Kekerasan seksual tak hanya terjadi pada perempuan saja!<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada kasus tersebut, korban yang notabene lelaki menjadi korban pelecehan seksual juga. Menarik. Padahal kasus mengenai pelecehan yang dialami lelaki, baik oleh perempuan atau lelaki sendiri telah banyak terjadi. Namun, intensitas kasus yang mencuat di permukaan hanya perempuan dan seakan-akan korban laki-laki itu tak ada sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih ingat sosok Gilang \u201cBungkus\u201d, pelaku kekerasan seksual yang menjalankan aksinya dengan kain jarik untuk membungkus korbannya dan semua korbannya adalah seorang lelaki? Kemudian kasus Reynhard Sinaga, seorang mahasiswa Indonesia di Manchester yang menyodomi banyak ratusan pria yang teler pasca ngebar? Atau, seorang aparat laki-laki yang digoda beberapa mahasiswi saat aksi tolak Omnibus Law kemarin?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hal itu seharusnya sudah menjadi bukti dan membuka tabir pikiran masyarakat yang mengira bahwa lelaki tak bisa menjadi korban pelecehan seksual adalah salah. Melek, Lur!<\/span><\/p>\n<h4>#2 Konstruksi berpikir masyarakat yang menganggap lelaki tak boleh menangis adalah kebodohan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada thread yang ia unggah, respons netizen menunjukkan seakan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari kasus itu. Bahkan, seolah-olah kondisi yang dialami doi adalah kejadian yang lucu dan tidak mengandung sebuah urgensi di masyarakat. Ada juga netizen yang me-reply dengan mengunggah video dirinya yang gondrong dengan caption, \u201cRemes tetek gue anj*ng\u201d yang mengarah pada hal bersifat guyonan. Secara tak sadar, ini adalah output nyata dari konstruksi pikiran masyarakat yang ngawur soal stereotip lelaki dan perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedari kecil, umumnya orang tua ketika memarahi anak laki-laki dan si anak menangis, mereka pasti berkata, \u201cLaki-laki tak boleh menangis!\u201d, \u201cDasar nangisan, banci!\u201d Sedangkan jika anak perempuan menangis dianggap hal yang normal saja dan sebuah kewajaran. Doktrin seperti itu dapat menghasilkan stereotip bahwa laki-laki adalah figur yang kuat dan perempuan merupakan figur yang lemah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, keduanya sama saja. Mereka boleh menangis karena itu kegiatan biologis yang normal. Kecuali, kalau laki-laki tak boleh hamil! Bukannya tak boleh, lha wong lelaki memang nggak bisa mengandung. Artinya, hal-hal yang berada di luar lapangan kodrati manusia, sah-sah saja dilakukan baik oleh laki-laki atau perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ujungnya, pemahaman yang ngawur tersebut memicu terbentuknya struktur pemikiran yang ngawur pula di masyarakat. Hal ini kemudian menciptakan respons yang tak mengarah.. Mereka akan menganggap jika laki-laki dilecehkan itu berarti dia lemah. \u201cMasa iya, laki-laki dilecehkan dan dipermalukan perempuan, lelaki kan kuat!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parahnya, itu pula yang menyebabkan banyak laki-laki yang menjadi korban tidak berani untuk speak up. Ya, mereka takut dianggap yang tidak-tidak nantinya.<\/span><\/p>\n<h4>#3 \u201cSiapa suruh pakaiannya kebuka, wajar sih kalau dilecehin,\u201d sama dengan dungu maksimal<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang menganggap sebab dari pelecehan itu adalah pakaian yang terbuka dan menggoda syahwat. Padahal, dari kasus doi, doi pake pakaian yang normal tertutup dan payudara doi tak terbuka. Terlepas dari apakah doi dianggap perempuan atau tidak oleh pelaku. Penggunaan alasan itu tampaknya menjadi bukti bahwa empunya pikiran itu adalah sumbu pendek dan katrok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana tak begitu, itu adalah pikiran kolot yang kuno dan perlu untuk diluruskan. Mengingat banyak perempuan juga yang telah menutup aurat dengan pakaian yang tertutup atau paling tidak sopan lah meskipun tidak berhijab, tetapi mereka juga akhirnya menjadi korban dari pelecehan seksual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan begitu, telah jelas alasan bahwa nalar yang mengatakan pelecehan itu karena pakaian adalah sebuah bentuk kemunduran berpikir. Nggak gitu konsepnya, ya!<\/span><\/p>\n<h4>#4 Tak ada jalan pulang untuk lelaki yang jadi korban pelecehan seksual<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari banyak kasus, memang yang banyak muncul di telinga masyarakat bahwa korban pelecehan seksual itu perempuan. Sampai-sampai saking banyaknya kasus yang mencuat dibuatlah Komnas Perempuan pada 1998 silam. Dalam realitanya sendiri, perempuan yang menjadi korban atau penyintas, tak jarang mendapat perlakuan tak mengenakkan saat mengurus laporan kasus yang dialami ke pihak kepolisian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika buat BAP (Berita Acara Pemeriksaan) saja, sering aparat tak menghiraukan dan malah menanyakan hal yang tak perlu, \u201cKamu sendiri juga enak, kan?\u201d Ngawur. Coba kalau yang menjadi korban adalah sanak familinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perempuan saja seperti itu, apalagi laki-laki. Paling-paling kalimat dari petugas yang keluar, \u201cLek aku yo tak weh-wehne, Bro!\u201d Tak ada komnas laki-laki, masih jarang komunal-komunal pembela laki-laki atau sebagainya. Ketika laki-laki menjadi korban, mereka tak tahu harus mengadu kepada siapa. Mereka mau ngadu juga malu, nanti dikira lemah dan sebagainya. Susah!<\/span><\/p>\n<h4>#5 Sex education sejak dini adalah hal normal yang dibutuhkan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari permasalahan yang terjadi, langkah paling tepat seharusnya membenahi akar permasalahan dari semuanya. Adanya pelaku pelecehan seksual serta penormalan terhadap aktivitas tersebut sedikit banyak berasal dari struktur berpikir masyarakat yang bersumber dari budaya yang ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, sex education atau pendidikan seks terutama sejak usia dini adalah hal yang perlu digaungkan. Banyak anak-anak ketika beranjak dewasa tertarik dengan video porno. Sering kali ia dilarang untuk mengaksesnya karena hal itu dianggap sebuah hal tabu. Semakin dilarang, semakin anak ingin untuk mengetahui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian ketika si anak tahu, tidak adanya pengarahan dari orang tua membuat anak menjadi liar dan tanpa arah. Hasrat mengajaknya untuk meng-explore lebih jauh soal seks. Sekali lagi, semua itu tanpa bimbingan orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini dapat memicu anak tumbuh menjadi seseorang dengan kehidupan seks yang menyimpang. Seseorang dapat menjadi pecandu atau bahkan pelaku pelecehan seksual. Pendidikan seks dari orang tua sesuai porsi usia sangat perlu untuk anak supaya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk soal hal-hal berbau seksual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tak menutup kemungkinan bahwa pelaku pernah berada di posisi yang sama sebagai korban di masa lalunya dan mencoba melampiaskan pada orang lain, tetapi hal itu sebenarnya tetap berkaitan seperti rantai yang tak terputus. Berdaur dan intinya tetap budaya sebagai pangkal utama permasalahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, demikianlah masalah yang ada dalam geliat pelecehan seksual duniawi yang ada di masyarakat Indonesia saat ini. Semoga pikiran yang kabur kembali ke jalan yang benar untuk peradaban yang lebih maju. Semoga. Amin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, yang pengin gondrong, gondrong aja. Nggak usah takut. Dijamin gantengnya nambah. Wong yang mas-mas aja terpikat apalagi mbak-mbaknya. Eh.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pelecehan-seksual-pada-laki-laki-jangan-ditertawakan-humor-kok-ugal-ugalan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pelecehan Seksual pada Laki-laki Jangan Ditertawakan, Humor kok Ugal-ugalan<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari banyak kasus, memang yang banyak muncul di telinga masyarakat bahwa korban pelecehan seksual itu perempuan.<\/p>\n","protected":false},"author":1313,"featured_media":101934,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2997,326],"class_list":["post-101889","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-lelaki","tag-pelecehan-seksual"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101889","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1313"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101889"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101889\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/101934"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}