{"id":101854,"date":"2021-01-18T15:44:27","date_gmt":"2021-01-18T08:44:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=101854"},"modified":"2021-01-18T15:44:27","modified_gmt":"2021-01-18T08:44:27","slug":"mentang-mentang-saya-keturunan-tionghoa-bukan-berarti-saya-bisa-bahasa-cina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mentang-mentang-saya-keturunan-tionghoa-bukan-berarti-saya-bisa-bahasa-cina\/","title":{"rendered":"Mentang-mentang Saya Keturunan Tionghoa, Bukan Berarti Saya Bisa Bahasa Cina"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali saya bertemu dengan orang baru. Hal pertama yang orang-orang lihat dari saya pasti penampilan. Hal ini sudah pastinya hal yang wajar. Tidak bisa dimungkiri, kita semua pasti akan melihat penampilan seseorang saat pertama kali bertemu karena memang itu yang kelihatan saat pertama kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penampilan saya yang sedikit memiliki ciri keturunan Tionghoa seperti mata sipit dan kulit putih cenderung menarik perhatian orang-orang untuk mengorek-ngorek background saya. Wajar sebenarnya, namun entah mengapa saya suka kesal terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan kepada saya. Terlebih, pertanyaan yang paling membuat saya kesal adalah pertanyaan \u201cBisa bahasa Cina dong?\u201d Atau yang lebih parah lagi, kadang mereka ini nggak nanya, tapi langsung nyuruh \u201cNgomong Cina dong!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hei hei hei! Anda siapa?! Enak betul Anda menyuruh-nyuruh saya ngomong bahasa Cina. Masalah di sini bukannya saya tersinggung dengan \u201cCina\u201d, tetapi masalahnya adalah sejak lahir saya nggak bisa ngomong bahasa Cina. Jadi, tolong berhenti. Jangan malah memaksa saya dengan berkata, \u201cmasa nggak bisa sih? Kamu kan Cina?\u201d Hei! Hal ini justru membuat saya bertambah geram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, saya tahu betul bahwa bahasa adalah identitas penting bagi seseorang. Keturunan Tionghoa tanpa bisa bahasa Cina itu bagaikan sayur tapi cuma pancinya. Jadi seperti seseorang yang kehilangan jati dirinya. Ya tapi, mau bagaimana lagi? Sudah dari pabriknya saya dibuat seperti ini. Jangan salahkan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat penasaran dengan hal ini. Saya pun mencari-cari alasan mengapa saya tidak diberkati skill berbahasa Cina. Dan semakin dicari, saya justru berkesimpulan bahwa ini semua karena nenek moyang saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya terlahir sebagai keturunan Cina benteng yang letaknya bisa kalian search sendiri lah di google. Cina benteng ini memang dikenal sebagai keturunan Tionghoa yang budaya Tionghoanya sudah agak luntur atau bisa dibilang sudah terakulturasi budayanya dengan budaya-budaya lokal seperti Betawi dan Sunda. Makanya tidak heran, dibandingkan bahasa Cina, saya justru lebih mengerti bahasa Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sanalah, entah sejak keturunan ke berapa, nenek moyang saya mulai berhenti mengajarkan anak-anaknya atau cucu-cucunya untuk berbahasa Cina. Mungkin nenek moyang saya dulunya penganut paham minimalis yang berpikiran daripada ribet menghafal banyak bahasa dan pusing, yaudahlah belajar bahasa Indonesia aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau mungkin juga dulunya nenek moyang saya sangat jatuh cinta dengan bahasa pribumi sampai-sampai melupakan bahasanya sendiri dan kebablasan sampai anak cucunya. Oleh karena itulah, di keluarga saya sendiri tidak ada satu pun yang berbahasa Cina. Kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia yang sudah dibumbui sedikit bahasa Sunda serta bahasa Betawi. Dan, bahasa yang kami gunakan ini sering dibilang juga sebagai bahasa Cina benteng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan mengenai nenek moyang saya yang cinta betul dengan kebudayaan pribumi nampaknya masuk akal. Hal ini pun didukung bukti kuat dari keturunannya orang-orang Cina benteng yang lebih suka mendengarkan musik-musik berbahasa lokal dibandingkan berbahasa Cina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hajatannya orang-orang Cina benteng, jarang sekali saya nemu hiburan-hiburan yang berbau Cina. Saya justru lebih sering menemukan hajatan yang nanggap atau diisi hiburan gambang keromong yang berbahasa Betawi. Dan malahan, gambang keromong ini sudah seperti hal wajib yang mesti ada di dalam hajatan. Hajatan tanpa gambang keromong beserta cokeknya adalah sebuah kehampaan sejati dalam sebuah hajatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari hal-hal tersebut, saya tidak menyalahkan nenek moyang saya sedikit pun. Yang saya salahkan justru mindset manusia-manusia yang bertanya atau memaksa saya berbahasa Cina. Hei! Coba kalian pikirkan. Coba kalian renungkan. Hanya\u2014<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bentar-bentar, kenapa malah nyanyi. Balik lagi. Tidak semua keturunan Tionghoa itu wajib hukumnya untuk bisa berbahasa Cina. Sama halnya, tidak semua orang Yogya mesti bisa bikin gudeg, atau orang Bali mesti bisa nari Kecak, atau pegawai Geprek Bensu harus bisa bikin ayam geprek. Nggak! Itu semua nggak harus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, pegawai ayam geprek ya harus bisa bikin ayam geprek ya? Ya pokoknya itulah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagipula, sebagai warga negara Indonesia yang baik, saya lebih suka menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Saya juga lebih menyukai kebudayaan yang ada di Indonesia. Dan saya akan senang, kalau memang nenek moyang saya tidak mengajarkan anak cucunya bahasa Cina lantaran kecintaannya dengan nusantara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, berhenti menyuruh saya ngomong bahasa Cina karena saya nggak bisa. Lagian, emangnya Anda siapa nyuruh-nyuruh saya? Presiden? Bukan kan? Tapi, saya jadi penasaran. Presiden kalau ketemu saya bakalan nyuruh saya ngomong Cina nggak ya? Who knows<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-penggunaan-kata-aing-dalam-bahasa-sunda-untuk-orang-luar-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Penggunaan Kata \u2018Aing\u2019 dalam Bahasa Sunda untuk Pemula\u00a0<\/a><\/b><b>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ferdian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ferdian<\/a><\/b><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Benar, saya keturunan Tionghoa. Tapi, bukan berarti saya bisa bahasa Cina.<\/p>\n","protected":false},"author":1253,"featured_media":102032,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10260,5101,6681],"class_list":["post-101854","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-cina","tag-cina","tag-tionghoa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101854","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1253"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101854"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101854\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/102032"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101854"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101854"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101854"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}