{"id":101782,"date":"2021-01-18T06:03:36","date_gmt":"2021-01-17T23:03:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=101782"},"modified":"2021-01-17T21:59:51","modified_gmt":"2021-01-17T14:59:51","slug":"tempat-di-gerbong-prameks-yang-cocok-untuk-kawula-muda-pacaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tempat-di-gerbong-prameks-yang-cocok-untuk-kawula-muda-pacaran\/","title":{"rendered":"Tempat di Gerbong Prameks yang Cocok untuk Kawula Muda Pacaran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari zaman ibu saya, Jogja-Solo punya kesan tersendiri. Saya lahir di Jogja, padahal rumah di Solo dan Prameks adalah bentangan kisah yang nggak mungkin keluarga saya terlupakan. Pun bagi setiap manusia Jogja dan Solo lainnya, Prameks atau Prambanan Ekspres punya kenangan tersendiri yang bisa saja menyenangkan maupun sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prameks mungkin pilihan paling realistis bagi dua kota yang memegang teguh asas monarki ini. Menghubungkan dua kota penting, Prameks adalah idola bagi mereka yang membutuhkan efisiensi, ketepatan, dan kejelasan. Selain itu, ekonomis tentunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar alasan di atas, Prameks adalah saksi bisu tumbuh kembang dan kembang-kempisnya kisah asmara di sebuah kereta. Bagi para mahasiswa yang menjalani long distance relationship yang nggak long-long amat antara Solo-Jogja, ia adalah media paling nyata penyelamat kisah cinta mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setahu saya, Prameks selalu mengalami evolusi bentuk tempat duduknya. Dari mulai yang memutar di dalam gerbong, sampai berhadap-hadapan seperti kereta kelas ekonomi. Semua evolusi tersebut, nyatanya menghadirkan lokasi-lokasi tempat duduk favorit. Misal bangku yang memutar, ibu saya menyematkan bagian dekat pintu adalah favorit untuk yang-yangan dengan ayah saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKapan lagi to kepala mamah rebah di pundak papamu itu. Pun diberi pemakluman oleh penumpang lain dan petugas pemeriksa karcis. Ini bukan malu nggak malu ya, tetapi mereka yang naik Prameks ini adalah orang-orang yang sudah capek. Entah habis kuliah, berkegiatan, atau kerja,\u201d begitu kata blio dengan penuh kenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih jauh lagi, katanya di zaman itu, dapat tempat duduk adalah hal yang mirip seperti mitos. \u201cBoro-boro rebah-rebah manja, samping kanan kiri nggak ada satu karung brambang bawang atau pedagang batik yang membawa semacam keronjot ke kabin aja sudah Alhamdulillah,\u201d begitu tutur ibu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini ketika saya pergi bersama pacar, bentuk Prameks sudah bak kereta ekonomi yang nyaman. Berhadapan, bangkunya dari busa, walau masih ada juga yang kursi memutar dan kursinya dari plastik. Setelah saya teliti lagi, jebul ada lokasi-lokasi yang cocok untuk dijadikan spot terbaik untuk memadu kasih dengan pacarmu tentu dengan alasannya.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> di satu lajur tempat duduk di bagian tengah. Ketika bangku yang lain berhadapan, bangku yang ini diperuntukkan hanya satu lajur saja, alias nggak ada orang di depan kita. Ketika berhadapan dengan orang lain pasti awkward, nah ini kita menatap bangku orang lain yang membelakangi kita. Cocok untuk kalian yang hobi ngobrol sama pacar dan risih diliatin orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat duduk Prameks bagian ini, kalian bebas membicarakan apa saja. Masa depan dengan pacarmu yang restunya terbentur orang tua, konflik internal berbeda kepercayaan\u2014kamu kiri sedangkan pacar kamu kanan agak nengah, atau yang lebih prinsip seperti, \u201cAku sayang kamu,\u201d dan dipungkasi dengan, \u201cAku juga.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Deru mesin Prameks yang mematahkan hening terkadang menjadikan obrolan kalian menjadi agak privat. Gandengan tangan, rebah di pundaknya yang paling tabah, lantas diakhiri dengan, \u201cYang, aku kepeseng.\u201d Bebas, lha wong nggak ada yang dengerin.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dekat dengan pintu masuk. Biasanya Prameks yang bercorak batik itu pintu tengahnya sengaja nggak dibuka. Yang dibuka itu bagian kanan dan kiri gerbong. Bagian ini menghadap langsung ke pintu. Bagian paling ramai di Prameks ketika jam-jam sibuk. Lha kok jadi rekomendasi tempat terbaik di Prameks untuk pacaran?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, duduk di kursi bagian itu, lambat laun Prameks bakalan terisi penuh. Beberapa orang akan berdiri di hadapan kalian. Nah, ini saatnya unjuk gigi. Ketika ada orang tua yang nggak kebagian tempat duduk, persilakan orang tua itu duduk di bangku yang kamu gunakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin pertama pacar kamu bakalan ngambek-ngambek mencucu, tapi lama-lama pasti bakalan mikir, \u201cJebul yangku wangun juga, memberikan tempat duduk bagi orang yang lebih membutuhkan.\u201d Pasalnya, daya saing perebutan tempat duduk di Prameks sebelum pandemi itu bak seni bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Ketiga,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> berdiri. Sudut-sudut Prameks mungkin bisa dikatakan kenangan bagi anak-anak muda yang menjalankan long distance relationship Solo-Jogja. Bagian ini\u2014berdiri kala gerbong penuh\u2014mungkin tak terkecuali. Ini manis sekali. Di tahap ini kamu bisa mensyukuri berbagai hal dan meneladani apa itu kesabaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kamu menggunakan Prameks yang mengular dengan kecepatan tertentu dan kebetulan penuh, terus melihat tangan-tangan kekar menyunggi ke atas, memperlihatkan ketiaknya, bau sangit adalah bonus tersendiri. Lantas pacarmu merangkulmu, tatap matanya, tersenyum kepadanya, lamat-lamat coba seraya berkata, \u201cMambu kelekmu jebul masih mending ketimbang mambu kampas rem, Mas!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas kamu memandang pacarmu, mata kalian seakan berkata, \u201cDik, jejerku rambutnya mambu kelabang.\u201d Lantas kalian tersenyum, saling menguatkan dan tabah atas bau-bauan yang tak pernah ada habisnya. Namun, Prameks akan terus melaju melewati rel demi rel, mengantarkan dirimu dan pacarmu ke tempat tujuan sebagaimana fitrahnya.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengamati-perilaku-penumpang-kereta-api\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Mengamati Perilaku Penumpang Kereta Api<\/strong> <\/a><b><\/b><b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\"><b>Gusti Aditya<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><b><i>di sini.<\/i><\/b><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudut-sudut Prameks mungkin bisa dikatakan kenangan bagi anak-anak muda yang menjalankan long distance relationship Solo-Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":101872,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[115,167,7567,2284],"class_list":["post-101782","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jogja","tag-pacaran","tag-prameks","tag-solo"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101782","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101782"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101782\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/101872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101782"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101782"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101782"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}