{"id":101752,"date":"2021-01-18T06:04:30","date_gmt":"2021-01-17T23:04:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=101752"},"modified":"2021-01-17T22:46:02","modified_gmt":"2021-01-17T15:46:02","slug":"nggak-blunder-dan-konsisten-adalah-kunci-bertahan-di-panggung-suci-kompas-tv","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-blunder-dan-konsisten-adalah-kunci-bertahan-di-panggung-suci-kompas-tv\/","title":{"rendered":"Nggak Blunder dan Konsisten Adalah Kunci Bertahan di Panggung SUCI Kompas TV"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Preliminary <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI IX<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kompas TV<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saat sesi komentar juri setelah penampilan Rio Steven Dumatubun, Pandji Pragiwaksono mengatakan bahwa kunci utama komika bertahan di panggung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI Kompas TV<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah nggak jadi yang terbawah. Dan masalah klasik yang sering membuat komika berada di posisi terbawah, tak lain cuma masalah kepleset yang mengurangi penilaian juri sebagus apa pun penampilan komikanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menarik untuk kembali diuraikan komentar Pandji di atas. Soal penilaian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kompas TV <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sendiri murni dari juri dan kru Kompas TV. Yang artinya, sehebat apa pun, sefavorit apa pun, atau sesering apa pun tampil kompor gas, akan gugur oleh penilaian objektif juri dan kru Kompas TV, meski kerap ditentang para pemirsa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal penilaian, di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"><em> Kompas TV <\/em>sendiri bukan hanya faktor lucu sebagai syarat mutlak. Di tiap show ada tema materi, kemudian ada syarat di beberapa show untuk khusus memasukan teknik seperti callback, rule of three, riffing dll, serta adanya durasi waktu yang tiap detiknya sangat berpengaruh ke penilaian. Hingga beberapa faktor lain, seperti belibet, grogi, dan lain sebagainya. Dari sini kita akan dibuat kembali mengingat beberapa momen yang membuat komika harus \u201cclose mic\u201d, walau sebenarnya cukup layak untuk tetap bertahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 5<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, satu momen yang paling krusial tentu close mic-nya Rahman. Rahman kala itu tampil cukup baik dan bisa dibilang aman soal kelucuan. Dua hal yang membuatnya close mic, ia tidak menggunakan teknik callback (syarat wajib di show tersebut) dan bermasalah soal durasi. Yah, secara tragis ia harus close mic, kendati sebenarnya soal kelucuan, seharusnya ia tidak berada di posisi terbawah. Kembali ke kata pandji, \u201cTerbawah cuma masalah kepleset.\u201d Lantaran close mic cuma perkara blunder, ia akhirnya diberikan kesempatan di show callback, meski tiket kembali ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 5<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hanya diperoleh Kalis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal grogi, Arif Brata juga merasakan tragisnya panggung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI Kompas TV.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Di<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> SUCI 8,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Arif Brata digadang-gadang sebagai kandidat juara, bahkan ia merupakan penampil terpecah di panggung grand final <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 8<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sekalipun ia tampil sebagai tamu. Petaka itu datang di babak 4 besar. Di menit-menit akhir, Arif Brata nge-blank, lantas melompati satu bit yang seharusnya ia bawa. Pun soal durasi yang tersisa banyak hingga closing terlalu cepat. Terlepas konsentrasinya yang pecah karena bebarengan dengan kelahiran anaknya, ia close mic dengan cara yang tragis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling sulit dilupakan penonton tentu close mic-nya Dodit di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 4<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan Dana di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 6<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka mungkin komika paling fenomenal di masing-masing musimnya. Kendati demikian, minus di satu show saja, dan sekalipun dilabeli \u201cjuara di hati pemirsa\u201d, keputusan juri tetap bulat. Yah, ada yang bulat, tapi bukan tahu. Kita bisa tau kekecewaan penonton dari komentar-komentar di media sosial, pun ketika diundang di babak grand final, keduanya langsung dibanjiri tepuk tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal juara, kita harus sepakat bahwa yang juara tidak selalu yang terlucu \u201cdi mata pemirsa\u201d. Di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 4<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, David sendiri menyingkirkan lawan-lawan kuatnya dengan modal konsisten serta grafik penampilan yang terus menanjak, selain lucu tentunya. Sekalipun di show-show awal belum tampak bahwa ia calon kuat juara macam Dodit dan Abdur. Hingga akhirnya, ia mendapat pujian Raditya Dika dengan komentar bahwa ia \u201cSudah berada di level tertinggi seorang stand up comedian\u201d setelah beberapa show di Balai Kartini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling kentara tentu Rigen di<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> SUCI 5<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Yah, sekalipun namanya kini dikenal, nasib Rigen tidaklah sebaik setelah video marah-marahnya beredar. Di panggung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 5<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> namanya tak sementereng komika lain macam Indra dan Rahmet, bahkan mungkin tak sementereng Wira dan Kalis di babak-babak awal. Bahkan di babak 3 besar yang sekaligus babak grand final, mungkin penampilannya biasa saja. Ketiganya bahkan bagi sebagian orang, sama-sama antiklimaks, lebih lagi Indra dan Rahmet dengan ekspektasinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuatnya juara, tentu ia tidak berada di posisi terbawah. Indra dan Rahmet kala itu tampil gugup dan tidak setenang Rigen, padahal di show-show sebelumnya selalu menjadi pusat perhatian. Selepas juara ia juga sering mendapat komentar semacam \u201cjuara yang gagal\u201d hingga sering dibandingkan dengan Rahmet dan Indra. Namun, soal konsisten, Rigen pantas untuk itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, begitulah panggung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI Kompas TV,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di mana kelucuan sebagai syarat mutlak, tapi bukan menjadi satu-satunya faktor penentu untuk bertahan di panggung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Nggak blunder dan konsisten untuk tidak berada di posisi terbawah adalah koentji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stand Up Comedy Indonesia, Let\u2019s make laugh!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-komika-stand-up-comedy-indonesia-di-suci-kompas-tv-dengan-opening-paling-ikonis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">8 Komika Stand Up Comedy Indonesia di SUCI Kompas TV dengan Opening Paling Ikonis <\/a><\/strong><strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Soal penilaian, di SUCI Kompas TV faktor lucu bukan sebagai syarat mutlak. Ada hal teknis lain yang juga dijadikan pertimbangan.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":101878,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1565,10040],"class_list":["post-101752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-stand-up-comedy","tag-suci-kompas-tv"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101752"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101752\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/101878"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}