{"id":101386,"date":"2021-01-16T08:01:31","date_gmt":"2021-01-16T01:01:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=101386"},"modified":"2021-01-16T23:08:20","modified_gmt":"2021-01-16T16:08:20","slug":"tempat-pacaran-di-jogja-yang-sungguh-nrimo-ing-pandum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tempat-pacaran-di-jogja-yang-sungguh-nrimo-ing-pandum\/","title":{"rendered":"Tempat Pacaran di Jogja yang Sungguh Nrimo Ing Pandum"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai sobat nrimo ing pandum seperti saya ini amatlah mudah. Tugasnya ya hanya satu, yakni menerima. Apa pun diterima saja. Tiap hari makan nasi kucing dengan gizi yang nggak bisa ditakar, kudu menerima. Melihat ketimpangan di mana-mana, kudu menerima. Pun dengan UMR Jogja yang uwow dan memang kudunya diterima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibilang, saya ini sobat nrimo ing pandum paling luhur, walau nggak kafah-kafah amat. Saya nggak sampai komentar di akun orang dengan kata-kata template, \u201cKTP mana, Buos?\u201d nggak, nggak sampai segitunya. Namun babagan pacaran, bisa dibilang saya ini mengadopsi konsep-konsep sakti dari jargon nrimo ing pandum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya gimana ya, bagi orang berpenghasilan rendah cum pengangguran, mengeluarkan uang itu kudu tepat dan akurat. Gini lho, pemuda Jogja nggak bisa itu nggombali pacarnya seperti di film-film, \u201cJangankan cinta, dunia dan seisinya saja aku bawakan untuk kamu, Dik!\u201d Blok, goblok, lha wong rumah saja harus gacha di undian Mirota, mosok mau beli dunia dan seisinya dengan UMR bak swadaya. Sing nggenah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, setelah survei berbagai tempat, ngobrol dengan beberapa narasumber yang lebih nrimo ing pandum, saya punya rekomendasi tempat pacaran di Jogja untuk kalian agar seperti kami. Yang jelas hemat, akurat, dan nggak perlu banyak rewel.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> pinggiran kota Jogja yang enak untuk berciuman. Ciuman itu sebuah ritual. Sebuah hal paling sentimentil bagi bibir yang biasanya ditugaskan untuk menjaga makanan agar nggak menculat ke luar. Makanya, pemilihan tempat pacaran adalah hal wajib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak renovasi di pusat kota, pinggiran seakan hanya digunakan untuk pembangunan mal dan hotel saja. Jadi ya nganu, tiap sudut Jogja itu hotel. Secara silogisme ya berarti romantisnya di hotel. Pertanyaannya, emang muda-mudi Jogja gaji UMR kuat nyewa hotel di tanahnya sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah, sudah, pacaran di pinggiran Ring Road saja, sambil melihat sampah visual. Kalau di Ring Road Utara ya bertuliskan, \u201cHanya 10 menit menuju bandara\u201d atau kalau di Selatan tulisan sampah visualnya jadi, \u201cCLUSTER EXCLUSIVE LANTAI DUA PERTAMA DI BANGUNTAPAN!\u201d<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua, <\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Fly Over Janti biar kamu jadi anak indie sesuatu di Jogja. Angin sembribit, klakson bersahutan, bonus-bonus ya dibengoki pak supir truk, \u201cMATANE!\u201d adalah konsekuensi yang-yangan di Fly Over Janti. Selain berbahaya, jika berpacaran di sini tentu kalian bakalan dicap pekok bagi pengguna jalan lain. Setelah itu digelandang oleh Satpol PP.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, maksud saya bukan ingin mengajari hal-hal berbahaya, melainkan melihat Jogja dari realitas indra. Sambil bergandengan dengan yangmu, kalian bisa melihat Jogja dari sisi agak atas. Kota pendidikan dan kebudayaan, ketimbang bangunan yang membumi, sekarang sudah dipenuhi oleh bangunan yang \u201cmelangit\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan nggak mungkin beberapa tahun lagi, karena bandara sudah pindah, bangunan-bangunan baru akan muncul dengan lantai belasan. Setelah berpacaran, dengan backsound klakson truk membawa gabah lewat dan ampas rem Sumber Kencono atau Mira, berbisiklah di telinga yangmu itu, \u201cBiar Jogja saja yang berangsur berubah, kamu jangan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi Fly Over Janti itu berbahaya. Arteri utama Jogja dan Solo. Tapi tenang, saya masih punya rekomendasi yang lainnya.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Ketiga, <\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">halte Trans Jogja. Nggak ada alasan apa-apa selain tiap sudut halte Trans Jogja itu romantis. Welah, saya seriusan. Mari kita romantisasi sebuah halte.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, kenapa harus berpacaran di halte? Macam orang kurang gawean saja. Halte Trans Jogja dipilih sebagai tempat pacaran lantaran nunggu Trans Jogja itu rame, lama, dan penuh. Apalagi di jam sibuk. Sak pol e kemeng e.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking lamanya nunggu bus datang di jam sibuk, barangkali kalian nggak hanya bisa pacaran saja. Kalian bisa merancang start-up bersama pacar, ngobrolin nabi-nabi, konsolidasi demonstrasi, sampai memberlangsungkan pernikahan. Baru setelah itu, Trans Jogja mentas juga di halte tercinta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja itu bagai mini ibu kota. Bener juga, sih, Jogja pernah jadi ibu kota, tapi itu sudah puluhan tahun yang lalu. Efeknya baru terasa sekarang. Utara macet, Kotagede banjir, Selatan dipenuhi perumahan. Daya ledak manusia yang tinggal sudah seperti Akademi Fantasi Indosiar saja, alias menuju puncak, gemilang cahaya. Yang menuju puncak bukan karier, tapi populasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemacetan lantas menjadi ketidakwajaran yang diwajarkan. Bukan nggak mungkin laju Trans Jogja berhenti di tengah jalan. Terhimpit bersama ribuan motor, mengendap dengan puluhan hitung mundur lampu merah, dan menyublim dengan rasa lelah manusia-manusianya. Sudah, sambil nunggu bus datang, pacaran saja.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Keempat, <\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Bandara NYIA. Nggak perlu saya gambarkan lebih dalam lagi betapa gegap gempitanya bara romantis senyawa-senyawa yang ditimbulkan NYIA atau Yogyakarta International Airport. Degup jantung yang berpacu dengan dengung mesin pesawat yang datang maupun lepas landas. Keindahan lanskap yang ditampilkan akun romantisasi centang biru. Tiap sentimenter landasan pacu adalah problematika dengan warga yang\u2026 yah, anggap saja romantis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berpacaranlah di sana dengan emosi, eh, hasrat yang meletup-letup. Apalagi, sebelum melakukan hal sakral tersebut untuk melepas kepergian pacarmu yang akan pergi pakai pesawat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam perlombaan yang khusyu bersama rindu, coba kasih alasan kenapa berpacaran di tempat ini. Misal begini, \u201cAda keringat yang menetes untuk mempertahankan rumahnya. Kini ada kita, yang berpacaran guna merayakan sebuah kewajaran untuk selalu nrimo.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKewajaran dalam bentuk apa?\u201d jawab yangmu yang lucu itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawablah begini, \u201cPihak atas yang nggak mungkin tergoyahkan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kelima, <\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">losmen seharga Rp40 ribu. Hujan menghasilkan genangan, tiap sudut Jogja menghasilkan kenangan, termasuk losmen-losmennya, edan, po! Empat puluh ribu itu sudah dapat handuk kecil, kamar mandi dalam, air mineral gelasan dapat dua, selimut yang nyaman, dan sabun batangan juga dua (kok aku apal?).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balkonnya yang pating klotak karena terbuat dari seng dan bisa melihat aktivitas orang lain, betapa syahdunya sambil rokokan. Kemudian memandang jauh sayup-sayup Jogja yang timpang, hembuskan saja asap suka cita sekaligus duka cita. Suka cita karena habis berpacaran dengan yangmu, duka cita karena hanya mampu di losmen seharga Rp40 ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nek pacarmu mencucu gara-gara masalah tempat pacaran, beri saja pemahaman, \u201cHotel dibuat untuk wisatawan, Beb. Yank mu ini hanya mampu di losmen ini. Ingat, tiap sudut Jogja adalah romantis.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau pacarmu masih protes kenapa dibawa ke tempat pacaran yang kurang berbintang, udud lagi, bisik dengan mesra, \u201cNrimo ing pandum, sayang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-tempat-pacaran-di-jogja-yang-harus-dihindari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>4 Tempat Pacaran di Jogja yang Harus Dihindari<\/strong> <\/a><b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\"><b>Gusti Aditya<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><b><i>di sini.<\/i><\/b><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah survei berbagai tempat, ngobrol dengan beberapa narasumber yang lebih nrimo ing pandum, saya punya rekomendasi tempat pacaran di Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":101537,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[10236,10237,115],"class_list":["post-101386","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-flyover","tag-janti","tag-jogja"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101386","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101386"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101386\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/101537"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101386"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101386"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101386"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}