{"id":101154,"date":"2021-01-15T06:59:05","date_gmt":"2021-01-14T23:59:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=101154"},"modified":"2021-01-14T22:13:58","modified_gmt":"2021-01-14T15:13:58","slug":"siapa-harun-yahya-dan-bagaimana-popularitasnya-di-kalangan-anak-rohis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/siapa-harun-yahya-dan-bagaimana-popularitasnya-di-kalangan-anak-rohis\/","title":{"rendered":"Siapa Harun Yahya dan Bagaimana Popularitasnya di Kalangan Anak Rohis?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Informasi tentang siapa Harun Yahya dan betapa ngawurnya dia sebenarnya telah <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/aks\/rame\/moknyus\/kenapa-harun-yahya-ditangkap-kepolisian-turki\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">terungkap sejak 2018<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang. Meskipun demikian, vonis pengadilan dengan masa hukuman lebih dari 1000 tahun tetap bisa jadi gunjingan hangat yang renyah untuk diperbincangkan. Apalagi kalau saya mengingat tentang masa-masa <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">saat <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">masih tergabung rohis SMA dulu. Berpikir bahwa diri sendiri <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ber<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">wawasan paling luas, eh <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">malah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih banyak melahap <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memahami-beda-disinformasi-malinformasi-dan-misinformasi-biar-nggak-keder\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">misinformasi, disinformasi, dan malinformasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dari <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Si HY<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Periode menelan informasi mentah-mentah pada saat itu bisa saya sebut sebagai tahun-tahun jahiliyah. Akui saja, video-video Harun Yahya pernah populer di masanya, pada kurun waktu 2000-an hingga akhir 2011. Sialnya, banyak konten Harun Yahya yang membawa-bawa Al Quran dengan bahasan cocoklogi yang mudah untuk dipahami seorang anak SMA pada awal abad ke-21. Saya curiga, para penganut teori konspirasi global soal bumi datar dan virus corona jangan-jangan para pengikut setia om-om mesum yang bernama asli Adnan Oktar ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persebaran video-video Harun Yahya pada masa itu bukan hanya saya alami sendiri lho, beberapa rekan kerja yang sama sekali berbeda asal kota juga mengiyakan bahwa video terjemahan konten Harun Yahya diputar oleh guru agama mereka. Jadi, rohis dan ustaz muda dari luar luar sekolah yang membawa misi organisasi masing-masing tidak bisa pula disalahkan sepenuhnya. Ya meskipun tetap saja salah dan turut andil dalam penyebaran sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari terungkapnya siapa Harun Yahya sekarang, saran saya sih ya sudahlah, maafkan saja guru dan kakak-kakak rohis di masa gelap itu, toh niat mereka baik. Wong Tuhan saja memaafkan orang yang nggak tahu kok. Soal teori jaring laba-laba yang katanya bisa mengangkat ratusan mobil. Anggap saja Harun Yahya terinspirasi dari komik Spiderman terbitan Marvel, anggap itu imajinasi liar orang sakit jiwa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, pada waktu itu pemerataan akses internet juga belum seluas sekarang dan smartphone belum jadi starter pack harian anak sekolahan. Sedangkan tayangan televisi juga nggak ada yang berani melawan teori Darwin, seperti yang dilakukan Om HY. Dosa-dosa hoaks pada tahun-tahun itu belum ada tindak pidananya, wong kata hoaks saja belum dipopulerkan. Perkembangan CD dan DVD bajakan juga memang sedang jaya-jayanya waktu itu, jadi ya wajar saja kalau lip service HY beredar tanpa hambatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling tidak, selain meningkatkan jumlah anggota rohis SMA, video-video Harun Yahya pada masa itu bisa bikin pecah tangisan dan tobat massal ratusan anak-anak SMA selama acara istighosah menjelang Ujian Nasional (UN) diselenggarakan. Meskipun pada akhirnya saat hari-H ya sama saja, nyontek juga selama pelaksanaan UN dilangsungkan, generasi Dilan dan Milea kok dilawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan, saya kok menduga kalau ada juga kemungkinan kecil bahwa para penyebar ajaran blio itu sebenarnya tahu siapa Harun Yahya yang sesungguhnya. Bahkan bisa lebih parah lagi, mereka yang mengagumi Harun Yahya barangkali punya fantasi dan cita-cita yang nggak jauh beda dengan oknum dakwah dari Turki ini, punya harem berisi cewek-cewek Eropa idaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah kenal lho satu kawan seumuran yang punya hobi mengumpulkan video-video blio. Entah apa kabarnya sekarang, tetapi terakhir kali saya temui sih ambil jurusan pendidikan, meskipun bisa saya pastikan bukan prodi Pendidikan Agama Islam. Saya yakin orangnya sudah hijrah kok, saya kira pastinya semua video Harun Yahya koleksinya sudah dihapus, paling tidak sampai dua tahun lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan adanya berita terbaru tentang vonis Harun Yahya, saya sebagai mantan anak rohis yang pernah menonton video blio merasa punya kewajiban ganda untuk menyebarluaskan kabar baik itu. Tentu saja tujuannya jelas, pertama, agar tidak ada lagi anak-anak rohis yang terjerumus dalam jebakan batman, kalau tidak mau disebut setan, mengidolakan si HY.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, agar video-video Harun Yahya yang sama tidak beredar di grup WA baru berisi ibu bapak guru seumuran yang kira-kira sudah menginjak kepala lima. Tahu sendiri kan betapa liarnya edaran video singkat inspiratif yang seringkali jadi tausiyah harian di grup WA?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira, itulah cara penebusan dosa terbaik bagi para anak rohis yang dulu pernah menonton dan menyebarkan video-video teori ngawur setelah mereka tahu siapa Harun Yahya sebenarnya. Tapi, bukan berarti saya ikut menyebarkan lho ya, saya juga korban, cuma sekali dua kali ikut nonton, jangan malahan dikambinghitamkan.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/harun-yahya-adalah-pahlawan-bagi-banyak-guru-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Harun Yahya Adalah Pahlawan bagi Banyak Guru di Indonesia<\/a><\/b>\u00a0<b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adi-sutakwa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adi Sutakwa<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak rohis yang dulu pernah menonton dan menyebarkan video-videonya mungkin merasa bersalah setelah mereka tahu siapa Harun Yahya sebenarnya.<\/p>\n","protected":false},"author":1076,"featured_media":100975,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10119,6413],"class_list":["post-101154","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-harun-yahya","tag-teori-konspirasi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1076"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101154"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101154\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100975"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}