{"id":101089,"date":"2021-01-22T09:40:21","date_gmt":"2021-01-22T02:40:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=101089"},"modified":"2021-01-22T09:41:37","modified_gmt":"2021-01-22T02:41:37","slug":"tanggapan-saya-sebagai-penulis-skenario-ftv-kisah-nyata-indosiar-atas-protes-k-popers","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tanggapan-saya-sebagai-penulis-skenario-ftv-kisah-nyata-indosiar-atas-protes-k-popers\/","title":{"rendered":"Tanggapan Saya sebagai Penulis Skenario FTV Kisah Nyata Indosiar Atas Protes K-Popers"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai salah satu dari tim penulis skenario program-program Mega Kreasi Film untuk Program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pintu Berkah, Kisah Nyata,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Suara Hati Istri<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya nggak begitu kaget ketika naskah <em>Kisah Nyata<\/em> Indosiar yang saya tulis berjudul, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana Menyadarkan Istriku yang Terlalu Terobsesi K-Pop,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu viral dan jadi bahan perjulidan netizen di medsos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, bahkan mungkin Indosiar sendiri, ini adalah sebuah keuntungan di mana pemirsa khususnya anak-anak K-Popers pada melek karena ada program bernama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Indosiar. Mungkin juga kamu-kamu yang masuk kaum, \u201cGue nggak pernah nonton TV,\u201d mendadak penasaran untuk menonton bahkan download dan install Video.com.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlalu banyak mendengar orang menyumpahi program TV membuat saya tergerak sebagai penulis program TV yang pernah bekerja di Trans TV selama 4 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sama sekali nggak baper apalagi marah dengan banyak hujatan netizen, tapi sayang banget banyak yang salah sasaran menghujatnya. Kebanyakan menghujat property yang kayak DVD bajakan, menghujat rambut pemainnya yang dibilang nggak ada mirip-miripnya. Padahal sekalipun FTV itu dimainkan sekelas Reza Rahadian, tetep bakal dihujat nggak mirip juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang sangat disesalkan, ada netizen penghujat udah mulai menyerang media sosialnya para pemain FTV ini: Lucky Hakim sampai menonaktifkan komentarnya dan Puy Brahmantya sampai diteror dengan ucapan yang sangat nggak manusiawi. Ia disebut calon penghuni neraka, jablay, sampai mendoakan anak-anaknya mati. Begini banget, ya, moral penonton tipikal ini, melupakan rasa empati dan jadi nggak manusiawi hanya karena nggak suka sama tayangannya atau nggak suka nama idola mereka disebut-sebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membuat naskah ini benar-benar no hurt feelings. Saya hanya ingin netizen bisa lebih bijaksana dalam berkomentar dan menilai sesuatu dengan nggak grasa-grusu. Supaya nggak ada lagi artis Korea semacam Han So Hee dihina netizen karena berperan sebagai Da Kyoung yang pelakor di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The World Of The Married.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ataupun nggak ada lagi Puy-puy Brahmantya lain yang disebut jablay, calon penghuni neraka, dan anak-anaknya didoakan cepat mati. Hanya karena penontonnya nggak bisa membedakan antara artis dan peran yang dimainkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Facebook, Twitter, dan bahkan chat pribadi pun, saya menerima protes. Sampai istri tetangga yang K-Popers juga ada yang tak terima dengan tayangan itu. Dan sekali lagi, saya bingung. Kalau dari segi cerita, memangnya apa yang salah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap program punya \u201cpakem\u201d atau formula. Seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Suara Hati Istri<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pakemnya harus ada poligami dan istrinya harus terus menangis. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pintu Berkah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pakemnya harus berpremis zero to hero. Program apa pun semuanya punya pakemnya, begitu juga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Indosiar<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Drama rumah tangga suami-istri, pakemnya harus ada perselingkuhan, tapi nggak boleh sampai poligami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal property DVD, itu permasalahan di eksekusi, bukan di skenario. Soal menghina K-Pop, apa ada dialog yang menyebutkan spesifik bahwa K-Pop jelek? Soal pemain yang nggak mirip? Apa mereka mengharapkan seorang tokoh jadi semirip mungkin ala scene-scene dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mission Impossible<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">? Atau yang sangat mendekati kayak Reza Rahadian meng-impersonate tokoh-tokoh besar seperti Habibie? Soal eksekusi pun, ketika si tokoh menyebut member boyband grup Idol yang disebutkan Kim Taehyung terus yang muncul Kim Namjoon, apa itu dosa penulis?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangankan memahami apa eksekusi dan skenario, kadang yang komen juga nggak tau perbedaan sutradara dan penulis. Dipikir semua sutradara itu penulis, sampai-sampai banyak yang komen, \u201cPak Sut nggak ada ide lagi,\u201d atau, \u201cPak Sut, tolong bikin cerita yang masuk akal!\u201d berseliweran di komen hujatan \u201cnetizen-netizen cerdas\u201d itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak benci K-Pop, bahkan awal-awal muncul hallyu wave ketika Wonder Girls, 2 NE 1, dan Girls Generation, saya dengarkan. Saya hanya mendengarkan Girlband karena kebetulan saya cowok. Drakor-drakornya apalagi. Dari zaman <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Full House<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sampai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Start Up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saya ikut dalam euphoria itu. Saya tonton dari awal sampai habis. Itu yang komen-komen jahat program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, nonton dari awal sampai akhir nggak, ya? Kalau iya, makasih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menganggap dengan membawa K-Pop ke dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Indosiar justru sebuah terobosan yang out of the box. Supaya pemirsa setia kami merasa lebih fresh dan ceritanya nggak itu-itu aja. Saya lebih mementingkan para pemirsa yang didominasi emak-emak daripada netizen-netizen remaja yang sama sekali nggak pernah nonton TV Channel Indonesia. Pasalnya, hidup saya penghasilannya dari sejak zaman kerja di TV adalah dari iklan. Sulit dimungkiri bahwa para emak adalah kontributor pemirsa terbesar pada televisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iklan ada dari program yang panjang umurnya. Sebuah program berumur panjang kalau rating tinggi, dan rating bisa tinggi kalau banyak yang menonton. Karya yang saya buat itu adalah salah satu cara memperpanjang umur program. nggak jauh beda dengan generasi sekarang yang mendapatkan uang dari adsense dengan jadi YouTuber. Maka, episode ini adalah salah satu terobosan yang faktanya disukai Indosiar gegara viral.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggiringan anak K-Pop jadi berdampak negatif karena tayangan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nyata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini, sama sekali tidak benar. Lantaran yang saya mainkan adalah peran antagonis sebagai pemain utama yang mendominasi. Ketika pemain antagonis mendominasi dan mengidolakan sesuatu secara berlebihan kemudian dia berbuat hal negatif, itu berarti tak mewakili keseluruhan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa orang yang suka K-Pop harus orang-orang baik? Jadi anak K-Pop itu malaikat? Yang semua fansnya rajin menabung, suka donasi, dan nggak menyusahkan orang tua? Siapa yang bisa menjamin bahwa semua (tanpa terkecuali) anak K-Pop baik? Baik dan jahat orang nggak bisa dinilai dari idolanya, tapi dari perilakunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian kalau ditanya pesan moral? Ada yang bilang cerita ini aneh, nggak ada pesan moralnya. Halooo, kamu nggak nonton dari awal sampai akhir? Apa pesan moral harus ditulis jadi tulisan di closing title saking nggak pahamnya harus mengambil hikmah dari sebuah tayangan? Kalau memang pengin banyak nonton pesan moral, yang full bener-bener pesan moral, saran saya jangan nonton FTV drama rumah tangga. Mendingan Anda nonton K<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ick Andy. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan-jangan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kick Andy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga nggak tau, Hyung?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-menonton-sinetron-azab-di-indosiar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pengalaman Saya Menonton Sinetron Azab di Indosiar<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ternyata, naskah Kisah Nyata Indosiar yang saya tulis berjudul, &#8220;Bagaimana Menyadarkan Istriku yang Terlalu Terobsesi K-Pop,&#8221; viral dan jadi bahan perjulidan netizen di medsos.<\/p>\n","protected":false},"author":1330,"featured_media":102818,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[1132,2794,1223,1134],"class_list":["post-101089","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-ftv","tag-indosiar","tag-kisah-nyata","tag-sinetron"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101089","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1330"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101089"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101089\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/102818"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101089"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101089"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101089"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}