{"id":101081,"date":"2021-01-16T06:29:56","date_gmt":"2021-01-15T23:29:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=101081"},"modified":"2021-01-15T12:48:47","modified_gmt":"2021-01-15T05:48:47","slug":"pelecehan-seksual-pada-laki-laki-jangan-ditertawakan-humor-kok-ugal-ugalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pelecehan-seksual-pada-laki-laki-jangan-ditertawakan-humor-kok-ugal-ugalan\/","title":{"rendered":"Pelecehan Seksual pada Laki-laki Jangan Ditertawakan, Humor kok Ugal-ugalan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari yang lalu ada cerita pelecehan seksual yang dialami oleh pengendara motor sebut saja Mas X. Saat itu, Mas X sedang berkendara pelan, menikmati gerimis tengah malam di jalan pulang. Terdengar adem dan syahdu, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin iya, jika kemudian dada kanan Mas X tidak diremas oleh pengendara lain yang melintas di sampingnya. Momen yang terdengar syahdu tadi bisa dikatakan berubah menjadi malam keparat bagi setiap korban pelecehan seksual. Tentu saja Mas X terkejut, sebelum akhirnya meneriaki dan sempat mengejar pengendara di depannya karena menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi korban begal tt.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan bertanya mengenai iblis macam apa yang merasuki pelaku karena saya yakin, tak ada iblis yang sudi merasuki makhluk macam itu. Bisa jadi para iblis sedang menonton peristiwa begal tt itu sambil ongkang-ongkang kaki, menikmati perannya jadi pengangguran. Lah bagaimana nggak jadi pengangguran? Manusia sudah mengatasi tugas iblis secara mandiri dan profesional begitu kok!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa saat kemudian Mas X membagikan cerita pelecehan seksual yang baru ia alami beserta imbauan bagi para perempuan yang berkendara malam hari. Imbauan itu lahir dari pemikiran Mas X mengenai kesalahpahaman pelaku yang mungkin mengira Mas X adalah perempuan karena rambutnya panjang. Cerita di Twitter itu langsung banjir like, retweet, dan comment dari para netizen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai di sini saya kembali membayangkan betapa gabutnya iblis yang hanya rebahan sambil scroll Twitter memantau profesionalitas manusia yang sedang mengambil alih tugasnya. Apa lagi jika bukan bersikap jahat dengan cara berkomentar seenak dengkulnya.\u00a0 Iya, memang banyak komentar simpati, ikut menceritakan pengalaman serupa, juga misuh mengutuki tingkah pelaku. Tetapi, kok ya banyak sekali yang menertawakan peristiwa pelecehan seksual hanya karena dugaan salah sasaran alias maunya mbegal tt perempuan kok ya dapatnya laki-laki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya heran, mengapa selalu ada orang yang selera humornya ugal-ugalan dan tidak empan papan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Mungkin mereka lupa bahwa pelecehan seksual itu bermacam-macam bentuknya dan bisa menimpa siapa saja tanpa memandang jenis kelaminnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini juga membuat beberapa laki-laki berambut gondrong kocar-kacir sebab khawatir dikira perempuan. Jika biasanya mereka hanya dipanggil \u201cMbak\u201d karena stereotip rambut panjang merupakan rambut perempuan, kali ini mereka cukup gundah kalau berhadapan dengan pelaku pelecehan seksual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekhawatiran mereka secara tidak langsung mengiyakan bahwa perempuan memang lebih rentan menjadi korban pelecehan seksual. Bagaimana? Sudah bisa membayangkan kegelisahan saya setiap hari sebagai perempuan? Sudah sadar kalau pelecehan seksual itu mengerikan? Ya kalau begitu nggak usah tertawa kalau ada laki-laki yang jadi korban dan menceritakan pengalamannya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi ingat cerita \u201cbungkusan\u201d yang sempat viral beberapa waktu lalu. Korbannya banyak yang mengaku dan semuanya laki-laki. Selain itu, kasus Reynhard Sinaga yang memperkosa puluhan laki-laki di Inggris. Itu baru yang terungkap dan kebetulan sampai di telinga saya. Bagaimana yang tidak terungkap? Entahlah. Rasanya ingin misuh-misuh kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi banyak sekali kasus pelecehan terhadap laki-laki yang tidak terungkap karena korbannya malu, takut ditertawakan, dan dianggap lemah sebab tak bisa mencegah pelecehan yang menimpa dirinya. Mengerikannya jika sampai mereka bersembunyi pada kedamaian palsu, menanggung beban sebagai korban sendirian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, tekanan sosial yang terbentuk dari stereotip jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Tuntutan untuk bersikap maskulin yang sering diarahkan kepada laki-laki memberi efek besar pada keengganan mereka untuk mengaku sebagai korban. Ketidaktahuan mengenai batas-batas pelecehan seksual juga menjadi faktor tindakan menyepelekan pelecehan, sekalipun korban sudah merasa tidak nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa, dari situ juga muncul anggapan jahat bahwa laki-laki yang menceritakan pengalaman menjadi korban pelecehan seksual boleh ditertawakan atau dianggap \u201chilih gitu doang!\u201d dan \u201cmalu-maluin laki aja\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Astaga\u2026 yang namanya korban itu pasti tidak mau mengalami hal buruk macam itu. Mas X pun kalau ditanya ya pasti mangkel, nggak mau jadi bahan bercandaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bukan bermaksud mengatakan bahwa posisi korban perempuan lebih enak, tapi mari melihat korban sebagai korban. Jika tidak bisa membantu, lebih baik diam daripada bersikap sok asik, sok kuat, dan sok kebal dari berbagai macam pelecehan. Tekanan mereka sebagai korban itu sudah berat, Gaes! Nggak usah nambah-nambahin dengan segala tuntutan bahwa laki-laki harus begini, harus begitu!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stop-bilang-tapi-kepada-penyintas-kasus-pelecehan-dan-kekerasan-seksual-biarkan-mereka-bersuara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Stop Bilang \u201cTapi\u201d kepada Penyintas Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Biarkan Mereka Bersuara!<\/a><\/strong>\u00a0<strong>tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aniksetya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Anik Setiyaningrum<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisa jadi banyak pelecehan seksual terhadap laki-laki yang tidak terungkap karena korbannya malu, takut ditertawakan, dan dianggap lemah.<\/p>\n","protected":false},"author":25,"featured_media":45641,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6396,326],"class_list":["post-101081","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-maskulinitas","tag-pelecehan-seksual"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101081","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101081"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101081\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45641"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101081"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101081"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101081"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}