{"id":100969,"date":"2021-01-14T07:18:47","date_gmt":"2021-01-14T00:18:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=100969"},"modified":"2021-01-13T17:30:02","modified_gmt":"2021-01-13T10:30:02","slug":"harun-yahya-adalah-pahlawan-bagi-banyak-guru-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/harun-yahya-adalah-pahlawan-bagi-banyak-guru-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Harun Yahya Adalah Pahlawan bagi Banyak Guru di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di negara di mana iman menjadi prioritas, para guru butuh sosok penentang teori ateistik macam teori evolusi. Dan pahlawan itu datang dari Turki. Harun Yahya, Jeng-jeng-jeng!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang aneh dengan guru saya di SMA. Tiap kali mengajar penyampaian materinya cuma di separuh waktu terakhir. Lho, separuh durasi pertama ngapain aja?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia ceramah, Guys.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serius. Dia akan ngoceh ngalor-ngidul. Cerita pengalamannya, apa yang dia tonton, apa yang dia baca, dan semua diarahkan untuk memperkuat keimanan dan ke-Islam-an saya dan teman-teman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dan teman-teman waktu itu tidak menganggapnya sebagai problem. Maklum, masih kinyis-kinyis. Baru kelas 1 kok. Kami kira kebiasan itu termasuk biasa dilakukan sama guru-guru SMA. Kami bahkan merasa enjoy karena sesi itu kami perlakukan sebagai momen refreshing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi kadang-kadang, guru saya memutarkan film atau video edukasi. Tapi, ya, sekali lagi, isinya nggak ada hubungannya dengan materi pelajaran yang dia ampu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, kami pernah menonton film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ayat-Ayat Cinta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Full. Dari awal sampai akhir. Diakhiri pesan-pesan moral tentang bagaimana cara menemukan pasangan secara syar\u2019i.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau yang lebih memorable: sesi nonton video Harun Yahya, tentang bagaimana ia mematahkan teori evolusi. Uedyan. N666eri pokoknya. Gimana mungkin pria berjenggot itu bisa mengolah argumen yang mampu menggugurkan teori yang dirumuskan oleh intelektual sekelas Charles Darwin?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya. Pertanyaan selanjutnya, gimana guru saya, yang memang terkenal cukup religius itu, bisa kenal sampai akhirnya ngefans sama Harun Yahya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semuanya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana masyarakat kita menjalankan keyakinannya, yang sebenernya nggak sekuler yang dibayangkan orang-orang. Apalagi sejak awal 2000-an. Pew Research Center sampai mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu negara paling religius di dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, di negara ini iman bukan perkara sepele. Ia adalah sesuatu yang harus ditumbuhkembangkan di kalangan generasi muda. Ia mesti dibentengi dari ((pengaruh luar)) yang dianggap bisa mengancam si iman itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, di sisi lain, Indonesia juga mesti tunduk pada sains. Mau nggak mau. Namanya aja negara modern. Dan komitmen inilah yang membuat sekolah itu ada. Dari negeri sampai swasta, dari sekolah biasa sampai yang berbasis agama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, menariknya, sekali waktu sains bisa berseberangan dengan doktrin keagamaan. Contohnya? Ya teori evolusi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan. Doktrin keagamaan menetapkan bahwasanya manusia diciptakan oleh Tuhan, diturunkan ke bumi secara berpasangan, Adam dan Hawa, yang kemudian berkembang biak, sampai akhirnya keturunannya memenuhi bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi seberang, teori evolusi berkata bahwa semua spesies adalah hasil evolusi, atau perubahan berangsur-angsur dalam waktu yang amat panjang, dari nenek moyang yang sama (common ancestors).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Thomas Huxley, sobat sejatinya Darwin, kemudian menerapkan gagasan Darwin pada manusia. Kesimpulannya, sesuai ilmu paleontologi dan perbandingan anatomi, terbukti kuat bahwa manusia dan kera memiliki nenek moyang yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Naaah. Ini nih yang sering dibilang orang-orang \u201cmasa kata teori evolusi manusia itu keturunan monyet?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, sebab Darwin merumuskan teorinya pakai pendekatan saintifik, disusun berdasarkan bukti-bukti empiris, teori evolusi kemudian diterima secara luas di kalangan akademisi. Evolusi adalah fakta, dan menjadi konsep dasar dalam ilmu pengetahuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kamu bisa membayangkan ya. Betapa dilematisnya guru-guru di Indonesia, khususnya guru biologi, saat harus membahas teori evolusi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dia membenarkannya, dia sebenarnya sedang memaparkan sesuatu yang bertentangan dengan doktrin agamanya. Dan jika dia memaparkan asal-usul manusia versi agamanya, bukankah itu pendekatan yang tidak saintifik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu mau dikemanakan pendidikan karakter ini?? Kenapa sih teori evolusi mesti kedengarannya ateistik banget? Why? WHY???<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dilema itu pupus saat Harun Yahya muncul di tengah publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa dia?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama aslinya Adnan Oktar. Penulis buku dan penceramah asal Turki. Ngakunya sih ilmuwan. Dia terkenal karena getol menolak teori evolusi. Dia setarakan tuh, teori evolusi sama sampah. Menurutnya, gara-gara teori evolusi pula di bumi terjadi banyak pembantaian massal sampai terorisme. Pokoknya segala kenestapaan duniawi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hm. Keras juga ya Bang Jago satu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, Harun Yahya menganggap teori evolusi sebagai kibul-kibul semata. Semua makhluk lahir ada karena campur tangan Tuhan. Istilahnya kreasionisme, gagasan yang menitikberatkan pada keyakinan bahwa kehidupan di bumi adalah hasil dari \u201ctindakan Tuhan\u201d, dan sudah tercantum dalam ayat suci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya apalagi manusia ya kan, masa nenek moyangnya dari monyet?!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Narasi Harun Yahya otomatis disamber sama banyak orang. Dia dianggap sang pencerah bagi banyak pengajar di Indonesia. Kini pendirian mereka kokoh, teori evolusi tetap disampaikan di kelas, tapi bukan untuk diamini kebenarannya, melainkan untuk dipatahkan melalui argumentasi Harun Yahya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harun Yahya dianggap sebagai pahlawan karena menyediakan jembatan atas kekalutan yang selama ini mereka hadapi. Harun Yahya membuktikan: sains dan agama tidak harus saling mengalahkan, dan bisa berjalan beriringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin tidak hanya guru saya yang mengajarkan pemikiran Harun Yahya. Ada banyak guru lain di luar sana yang juga terpesona dengan Bang Jago kelahiran Ankara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya, pemikiran Harun Yahya memang berkembang di kalangan masyarakat umum, mahasiswa, ilmuwan, sampai profesor. Serius. Oh iya, satu lagi, lembaga penyedia layanan motivasi yang jaringan pelanggannya adalah sekolah-sekolah di Indonesia. Ahoy~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya: validkah narasi anti-teori evolusi ala Harun Yahya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu sekadar yakin dan percaya, narasi itu bisa kamu anggap sebagai kebenaran. Tapi, proses menentukan kebenaran dalam sains tidak hanya didasarkan pada keyakinan. Satu teori mesti mengikuti kaidah penelitian yang amat ketat sebelum bisa difatwakan sebagai fakta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu bagaimana jika teori itu dirumuskan dari keyakinan personal, dengan cara mencomot fakta-fakta tertentu yang mendukung argumentasinya (cherry picking), kemudian dirumuskan memakai sistem cocoklogi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya itu namanya pseudosains. Artinya, satu klaim yang tampak seperti ilmiah, padahal tidak. Kenapa? Sebab <\/span><b>pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, tidak melalui kaidah penelitian ilmiah, sehingga <\/span><b>kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak bisa dibuktikan keotentikan ilmiahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, isi karya-karya Harun Yahya hanya sebatas pseudosains. Sekilas memang tampak masuk akal, tapi sebenarnya dihasilkan dari metode yang melenceng dari kaidah ilmiah. Orang membahasakannya sebagai sesat pikir, alias logical fallacy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ya, guru-guru yang ngefans sama Harun Yahya pada dasarnya sedang mengajarkan pseudosains pada peserta didiknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya tidak semua peserta didik akan tumbuh dengan menyadari bahwa yang ia pelajari bukan sebenar-benarnya ilmu ilmiah. Ia akan menjadikan metode mencari kebenaran ala pseudosains sebagai kerangka berpikir, bahkan bertindak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan akhirnya, di matanya kebenaran akan kian kabur, semakin terdistorsi, apalagi di era post-truth seperti sekarang ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI, Harun Yahya baru saja dihukum penjara lebih dari 1.000 tahun karena bersalah atas 10 dakwaan. Antara lain pelecehan seksual terhadap anak, memimpin geng kriminal, perkosaan, pemerasan, penipuan, spionase politik dan militer, dan penyiksaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan saya pun penasaran, gimana respons guru saya pas baca berita itu ya?<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/w\/index.php?search=adnan+oktar&amp;title=Special%3ASearch&amp;fulltext=Search&amp;ns0=1&amp;ns6=1&amp;ns12=1&amp;ns14=1&amp;ns100=1&amp;ns106=1#\/media\/File:Religious_Leaders_Meeting_Adnan_Oktar.JPG\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mudik-di-masa-pandemi-lebih-horor-ketimbang-menetap-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mudik di Masa Pandemi: Lebih Horor Ketimbang Menetap di Jakarta<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/awal-hasan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Awal Hasan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>FYI, Harun Yahya baru saja dihukum penjara lebih dari 1.000 tahun karena bersalah atas 10 dakwaan. Gimana respons guru saya ya?<\/p>\n","protected":false},"author":362,"featured_media":100975,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[10119,10120],"class_list":["post-100969","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-harun-yahya","tag-teori-evolusi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100969","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/362"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100969"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100969\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100975"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100969"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100969"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100969"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}