{"id":100911,"date":"2021-01-14T06:49:47","date_gmt":"2021-01-13T23:49:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=100911"},"modified":"2021-01-13T18:11:29","modified_gmt":"2021-01-13T11:11:29","slug":"hindari-ngomong-kalimat-goblok-yok-bisa-yok-toxic-positivity-bos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hindari-ngomong-kalimat-goblok-yok-bisa-yok-toxic-positivity-bos\/","title":{"rendered":"Hindari Ngomong Kalimat Goblok &#8216;Yok bisa yok&#8217;. Toxic Positivity, Bos!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memotivasi sih memotivasi, cuma kalau jatuhnya nggak realistis bin goblok baiknya jangan dipaksakan ke orang yang benar-benar benar butuh pertolongan nyata. Sungguh, melempar kalimat \u201cyok bisa yok\u201d kepada seseorang yang sedang galau dan bingung adalah sebuah contoh nyata toxic positivity.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah merasakan betapa kalimat \u201cyok bisa yok\u201d ini sungguh sangat nggak berguna dalam kehidupan dan dalam kegiatan memotivasi. Pertemuan saya dengan kalimat goblok ini adalah ketika saya sedang pusing-pusingnya ngerjain tugas laporan UAS alat ukur psikologi. Waktu itu saya sedang ngerjain laporan bareng kawan-kawan saya dan sialnya waktu pengumpulan laporan dipercepat. Saya yang waktu itu sedang aktif-aktifnya organisasi blas lupa bahwa tugas laporan UAS saya itu dipercepat pengumpulan. Di momen kumpul-kumpul tersebut saya praktis benar-benar dibuat pusing karena laporan saya belum tersentuh sedikit pun dan dua hari lagi pengumpulan laporan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kawan saya yang jauh-jauh hari mengerjakan laporannya dan sudah hampir selesai akhirnya mengeluarkan kalimat sialan itu di tengah kekalutan saya dengan laporan. \u201cYok bisa yok\u2026!\u201d kata dia dengan entengnya sambil lalu dan pamit pulang karena sudah selesai mengerjakan laporannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sontak saja saya mangkel banget dalam hati. Gimana \u201cyok bisa yok\u201d goblok, situ bukannya ngebantu malah pulang. Satu juta kali pun saya mendengarkan kalimat \u201cyok bisa yok\u201d juga nggak akan ada pengaruhnya. Dibantuin kek, lha ini cuma onani motivasi dengan toxic positivity. Untungnya, berkat the power of kepepet, laporan saya tersebut selesai. Tentu saja tanpa ada campur tangan kalimat \u201cyok bisa yok\u201d yang nggak guna itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian tahu toxic positivity, ya, kalimat tersebut adalah kalimat yang bikin seseorang beranggapan bahwa dengan cara berpikir positif semua masalah akan terlewati plus selesai. Padahal sebenarnya mau kamu mikir negatif atau positif kalau suatu masalah nggak diselesaikan atau dikerjakan ya gimana mau selesai?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gini lho, saya yakin kamu pernah bertemu manusia-manusia super bijak yang kerjaannya kelihatannya baik banget. Tiap kamu curhat ke dia soal permasalahanmu dia ngasih berjibun kalimat indah penuh semangat. Setiap kamu ngeluh banyaknya tugasmu, dia dengan seksinya ngomong, \u201cYok kamu pasti bisa. Yok bisa yok.\u201d Dan sudah. Nggak ada tindakan apa pun dari si motivator super duper ini. Di situlah letak masalahnya. Sebenarnya kalimat ini akan\u00a0 benar-benar efektif jika diiringi dengan sebuah tindakan yang berorientasi aksi, bukan cuma bacot doang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab pada dasarnya seseorang yang sedang mencurahkan masalahnya itu memang butuh didengarkan dan juga butuh support. Tapi, respons kita sebagai pendengar jangan kelewat baik. Buang kalimat-kalimat basi itu. Kalimat sampah yang sebenarnya nggak ngaruh jika kita sebagai pendengar nggak berusaha menolong, menawarkan suatu tindakan untuk membuat masalahnya ringan, hingga mencoba mencarikan solusi yang paling masuk akal alih-alih orang yang stres skripsi disuruh jangan menyerah. Apanya yang menyerah, Cuk, orang yang galau skripsi itu ya dibantu, dibimbing, dan kalau kamu mau cari untung ya dijokiin supaya skripsinya selesai. Bukan disuruh \u201cyok bisa yok\u201d, bisa gila iya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat macam ini juga penuh kepalsuan dan punya efek penenang yang nggak permanen. Kamu mungkin bisa tenang ketika mendengarkan atau membaca kalimat yok bisa yok dari teman atau sahabatmu. Namun, itu hanya berlangsung sekian menit hingga jam. Keesokannya tetap saja kamu bakal overthinking dengan semua masalahmu. Sebab, yang kamu terima itu hanya sebuah motivasi semu. Motivasi semu jatuhnya hanya memberikan sebuah harapan dalam jangka waktu pendek, bukan jangka panjang yang sebenarnya itulah yang dibutuhkan saat berada dalam posisi bingung berat, takut, galau, dan banyak masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya agak sedikit curiga, orang pertama pencipta kalimat \u201cyok bisa yok\u201d ini adalah seorang penipu ulung modal bacot saja yang dengan cerdiknya mengatakan dengarlah kalimat ini, maka kamu akan bisa bikin satu juta candi dalam semalam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja jika kamu disuruh bikin acara dengan modal satu juta tapi ketua pelaksana mau kita mengonsep acara dengan mengundang band sekelas Dream Theater. Lalu dengan santainya si ketua ini memotivasi kamu bahwa kamu pasti bisa dan yok bisa yok ngundang Dream Theater modal satu juta rupiah. Ya tentu kalimat motivasi goblok itu nggak akan pernah berguna jika si ketua tidak memutar otak ikut membantu menambah modal acara supaya bisa ngundang Dream Theater.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian nih ya, mengucapkan kalimat \u201cyok bisa yok\u201d kepada seseorang yang dirundung masalah\u00a0 tanpa aksi itu seperti kamu suka sama cewek tapi nggak berani nembak. Rasa cintanya ada cuma nggak ada pengaruh sama sekali ke si cewek, lha kamu nggak berani nembak gimana si cewek bisa ngerespons?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Okelah kamu protes ke saya dan menuduh saya nggak punya hati mengatakan bahwa kalimat itu nggak guna karena menurutmu kalimat itu sungguh sangat manjur menambah semangat orang yang kegencet masalah. Di pikiranmu mungkin kalimat yok bisa yok itu benar. Namun berpikirlah jika yang punya masalah itu adalah kamu. Percayalah, kalimat \u201cyok bisa yok\u201d akan terasa sangat menyebalkan di telingamu jika kamu punya masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, kadang seseorang yang punya masalah lalu curhat kepada sahabat atau temannya yang dia butuhkan sederhana, hanya ingin didengarkan dengan baik tanpa adanya penghakiman balik. Itu tipe yang sederhana. Kadang ada juga tipe pencurhat yang rumit, ia perlu didengar dan juga perlu dibantu. Nah tipe kedua inilah yang sering kita kasih kalimat toxic positivity itu, yang sebenarnya percayalah, itu nggak ngaruh sama sekali. Yang mereka perlukan sebenarnya adalah sebuah kerealistisan atas masalah yang mereka sampaikan ke kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tugas kita tentu selain mendengar adalah realistis. Realistis dengan cara apa? Ya sampaikan bahwa apa yang bisa kamu lakukan untuk membantunya, jika pun kamu nggak bisa bantu, setidaknya jangan ngasih semangat penuh khayalan bahwa temanmu itu mampu ngelunasin utangnya yang satu miliar itu dalam sekali kedip. Kecuali kamu punya pesugihan katak Myoboku, ya monggo. Kalau nggak, ya paling tidak kamu cukup diam dan sedikit memberi saran yang masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, mulai sekarang baiknya kalimat \u201cpositivitas beracun\u201d itu dihapus saja. Kalau cuma ngasih motivasi begituan tanpa ada aksi nyata ya sama aja dengan teriak kerja, kerja, kerja, tapi di daerahnya pengangguran makin banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYok bisa yok\u201d, ditolong kagak, ya jadinya \u201cyok goblok yok\u201d.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cari-film-mirip-crows-zero-coba-highlow\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Cari Film Mirip Crows Zero? Coba High&amp;Low <\/a><\/strong><strong>dan artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/faridhermawan\/\">M. Farid Hermawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Percayalah, kalimat \u201cyok bisa yok\u201d akan terasa sangat menyebalkan di telingamu jika kamu punya masalah. Toxic positivity level dewa.<\/p>\n","protected":false},"author":34,"featured_media":91351,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1185,4893],"class_list":["post-100911","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-motivasi","tag-toxic-positivity"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100911","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/34"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100911"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100911\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91351"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100911"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100911"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100911"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}