{"id":100482,"date":"2021-01-16T08:02:42","date_gmt":"2021-01-16T01:02:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=100482"},"modified":"2021-01-16T05:38:28","modified_gmt":"2021-01-15T22:38:28","slug":"kata-halus-bahasa-sunda-dan-artinya-yang-bisa-buat-mencela","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kata-halus-bahasa-sunda-dan-artinya-yang-bisa-buat-mencela\/","title":{"rendered":"Kata Halus Bahasa Sunda dan Artinya yang Bisa buat Mencela"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap bahasa yang ada di dunia punya kata-kata kasar untuk mencela orang lain. Dalam bahasa Sunda yang menjadi bahasa percakapan sebagian besar warga Jawa Barat, ada dua kata kasar yang biasa digunakan untuk mencela orang lain. Tingkat kekasaran dua kata ini adalah level dewa. Dua kata tersebut yaitu an***g atau g****g. Bagi yang tinggal di daerah Jawa Barat, pastinya sudah sangat akrab dengan kedua kata tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Sunda sebenarnya punya juga kata-kata halus yang bisa digunakan untuk mencela orang lain. Jadi kalau kamu bukan orang Sunda bertemu dengan orang Sunda yang benar-benar ngeselin atau menunjukkan perilaku yang nggak kamu harapkan, sebaiknya hindari mengucapkan kata an***g atau g****g. Tentu saja karena dua kata ini bernada kasar sehingga kurang nyaman didengar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, untuk mencela orang lain, sebaiknya ucapkan kata-kata celaan halus yang sesuai. Kata-kata ini pun lebih nyaman didengar dibandingkan kata an***g dan g****g. Berikut kata-kata bahasa Sunda dan artinya yang bisa digunakan untuk mencela orang lain dengan potensi baku hantam yang minim.<\/span><\/p>\n<p><b>#1 Borokokok<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBorokokok\u201d adalah ucapan yang ditujukan kepada orang yang punya karakter pemalas, tidur sepanjang hari, atau ogah-ogahan. Kata \u201cborokokok\u201d yang terdengar lucu ini bisa juga digunakan kepada pria yang punya karakter playboy. Jadi, kalau kamu bukan orang Sunda bertemu dengan orang Sunda yang punya karakter pemalas, ogah-ogahan, tidur sepanjang hari, atau playboy, kamu bisa meledek dia dengan ledekan, \u201cDasar si borokokok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai catatan, \u201cborokokok\u201d adalah karakter yang begitu melekat dengan Si Kabayan. Yak, salah satu tokoh dalam dongeng legendaris masyarakat Sunda.<\/span><\/p>\n<p><b>#2 Ontohod<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOntohod\u201d artinya keparat atau kurang ajar. Kata ini ditujukan kepada orang-orang yang punya kelakukan sangat tak menyenangkan atau ngeselin. Baik untuk pria atau wanita. Daripada menyebut an***g atau g****g kepada orang yang kelakuannya tak menyenangkan, lebih baik menyebut \u201csi ontohod\u201d kepadanya. Menyebut \u201csi ontohod\u201d kepada seseorang yang perilakunya kurang menyenangkan jauh lebih halus dibandingkan menyebut si an***g atau si g****g kepada mereka. Sebagai catatan, kata \u201contohod\u201d sudah terdaftar dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan memiliki arti sebutan untuk orang yang tidak tahu malu.<\/span><\/p>\n<p><b>#3 Belekok<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jawa Barat, ada satu kata kasar yang artinya bodoh, bego, bodoh, atau dungu. Kata ini yaitu \u201cbelegug\u201d. Tingkat kasar kata \u201cbelegug\u201d sama dengan tingkat kekasaran kata an***g atau g****g. Selain kata \u201cbelegug\u201d, ada kata \u201cbelekok\u201d yang artinya sama. Selain terdengar lucu, kata \u201cbelekok\u201d terdengar lebih halus daripada kata \u201cbelegug\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kamu ingin benar-benar melampiaskan rasa kesal karena bertemu dengan orang Sunda yang bodoh, bego, atau dungu, sebaiknya ucapkan \u201cbelekok\u201d. Mengucapkan kata \u201cbelegug\u201d, rawan memicu emosi orang yang kita sebut \u201cbelegug\u201d. Bisa saja, gara-gara kata \u201cbelegug\u201d malah berujung baku hantam karena terpancing emosi.<\/span><\/p>\n<p><b>#4 Koplok<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201ckoplok\u201d bermakna sama dengan kata g****g. Namun, kata \u201ckoplok\u201d nadanya lebih halus. Dengan kata lain, kata \u201ckoplok\u201d adalah penghalusan bunyi dari kata g****g. Jadi, kalau kamu udah benar-benar kebelet nggak tahan ingin melampiaskan emosi kepada seseorang dengan melontarkan kata g****g, sebaiknya ganti kata g****g dengan kata \u201ckoplok\u201d. Tentu saja, untuk menghindari konflik lebih lanjut.<\/span><\/p>\n<p><b>#5 Boloho<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti kata \u201cborokokok\u201d yang diulas sebelumnya, kata \u201cboloho\u201d mungkin terdengar lucu atau unyu bagi sebagian orang. Padahal, makna kata ini sama sekali nggak ada kaitannya dengan karakter lucu atau unyu. Makna kata ini sama dengan kata \u201cbelekok\u201d, yaitu, bodoh, bego, dan dungu. Kalau kita bosan mengucapkan \u201cbelekok\u201d kepada rekan orang Sunda yang kemampuan otaknya pas-pasan, bisa mengganti kata \u201cbelekok\u201d dengan kata \u201cboloho\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b>#6 Cileupeung<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain \u201cbelekok\u201d dan \u201cboloho\u201d, masih ada satu kata lain yang maknanya sama, yaitu, kata \u201ccileupeung\u201d. \u201cCileupeung\u201d artinya bodoh, bego atau dungu. Dibandingkan kata \u201cbelegug\u201d, kata \u201ccileupeung\u201d juga terasa jauh lebih halus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian, kata-kata halus dalam Bahasa Sunda dan artinya yang bisa digunakan untuk mencela orang lain. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan tentang kekayaan budaya Indonesia, khususnya kekayaan budaya di tanah Jawa Barat. Semoga tulisan ini bisa juga membantu bagi yang akan atau belum lama tinggal di daerah Jawa Barat.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-misuh-untuk-sehari-hari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Panduan Misuh yang Halus, Baik, dan Benar untuk Dipakai di Kehidupan Sehari-hari <\/a>dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rahadian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rahadian<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berikut kata-kata bahasa Sunda dan artinya yang diam-diam bisa digunakan untuk mencela orang lain dengan potensi baku hantam yang minim.<\/p>\n","protected":false},"author":506,"featured_media":101535,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10133],"class_list":["post-100482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-sunda-dan-artinya"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100482"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100482\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/101535"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}