{"id":100209,"date":"2021-01-12T12:19:46","date_gmt":"2021-01-12T05:19:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=100209"},"modified":"2022-01-20T16:13:40","modified_gmt":"2022-01-20T09:13:40","slug":"orang-brebes-pasti-bisa-bahasa-ngapak-tentu-tidak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-brebes-pasti-bisa-bahasa-ngapak-tentu-tidak\/","title":{"rendered":"Orang Brebes Pasti Bisa Bahasa Ngapak? Tentu Tidak!"},"content":{"rendered":"<p>Masalah dengan stereotip orang Brebes pasti bisa bahasa ngapak ini bermula ketika suatu kali saya mengikuti seleksi staf sebuah komunitas. Dalam rangkaian seleksinya, ada dua tahap seleksi yang harus dihadapi, yaitu seleksi berkas dan wawancara. Pada tahap seleksi berkas, tidak ada masalah yang dihadapi. Hanya CV yang perlu diunggah dalam formulir dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Setelah selesai mengisi, kirim!<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahap berikutnya adalah wawancara. Mendebarkan dan perlu persiapan. Sebelum jadwal wawancara, saya mempersiapkan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang biasa diajukan dalam wawancara, seperti deskripsi diri, analisis SWOT, alasan mendaftar, dan alasan kelayakan untuk dipilih menjadi staf.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada mulanya, pewawancara meminta saya memperkenalkan diri. Tentu saja saya menjawab identitas singkat saya, termasuk tempat tinggal saat ini. Oleh karena dalam masa pandemi, semua dilakukan dari rumah, termasuk wawancara ini menggunakan media WhatsApp video call. Saya menjelaskan bahwa saat ini tinggal di Brebes, Jawa Tengah bersama orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengerti bahwa orang-orang terbagi menjadi dua kubu dalam mendefinisikan Brebes. Kubu pertama adalah kubu orang-orang yang tidak tahu, dan kubu kedua inilah yang menjadi ancaman bagi saya. Kubu kedua mengenal betul bahwa Brebes adalah sentra produksi telur asin dan bawang merah. Namun, bukan itu yang saya khawatirkan, melainkan logat dan bahasa lokalnya yang terkenal seantero negeri, NGAPAK!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pewawancara saya ini masuk ke kubu kedua. Kemudian ia bertanya-tanya tentang aksen bahasa ngapak yang tidak saya punyai. \u201cLho, kok nggak pakai bahasa ngapak?\u201dAlih-alih mendapat pertanyaan yang membuat saya berpikir, malah mendapat pertanyaan retoris, hmmm.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yaaa bagaimana, ya? Meskipun sudah lama tinggal di sini, saya tetaplah pendatang. Apalagi dalam komunikasi sehari-hari tidak menerapkan bahasa ngapak tersebut. Kalaupun menggunakan bahasa Jawa, saya diajarkan untuk menggunakan bahasa yang halus yang tidak ada unsur-unsur ngapaknya sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari yang saya tangkap selama ini, orang-orang selalu berekspektasi tinggi terhadap orang-orang daerah ngapak. Mereka ingin ditunjukan aksen khas ngapak hingga kosakatanya yang unik. Sebagai informasi, meskipun sama-sama berlabel \u201cngapak\u201d, masih tetap ada perbedaan penggunaan kosakata di tiap-tiap daerahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya untuk mendefinisikan lapar, daerah Tegal-Brebes menamainya \u201cngelih\u201d sama seperti bahasa Jawa ngoko pada umumnya, sedangkan daerah Purwokerto menyebutnya \u201ckencot\u201d. Nah, itu yang sering dipukul rata. Sebagai pendatang, saya juga heran ketika pertama kali mendengar istilah \u201ckencot\u201d. Bahkan saya mengetahui artinya justru dari orang Jawa bagian timur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa perantau yang banyak berkenalan dengan orang-orang baru, seolah saya dijejali oleh harapan-harapan mereka yang merengek ingin dipenuhi. Coba bayangkan, setiap menyebutkan kata Brebes, lagi-lagi yang diminta adalah contoh bahasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCoba dong ngomong ngapak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBahasa ngapaknya blablabla itu apa, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBahasa ngapaknya \u2018aku lapar\u2019 itu \u2018enyong kencot\u2019 bukan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan rentetan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hadeeeh~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini ya, Mas, Mbak, nggak semua orang yang dari daerah ngapak mesti ngapak tulen. Waktu SD pernah belajar perpindahan penduduk, kan? Ada transmigrasi, urbanisasi, dan sebagainya, kan? Nah, saya salah satunya yang terlibat di perpindahan penduduk tersebut. Jadi, saya bukan warga asli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu, perlu tabayyun lagi, ya! Pastikan bahwa yang ditanya adalah benar-benar tulen, sebab kasihan bagi yang pendatang. Mereka memikul beban yang sama beratnya dengan orang-orang asli ngapak, padahal tidak seharusnya demikian. Bahkan daerah Brebes yang kalian pikir full<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ngapak pun, punya daerah yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantarnya. Pusing nggak tuh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang tinggal di suatu daerah, bukan berarti dia asli dari daerah tersebut. Alih-alih ditanya tinggal di mana, saya lebih suka ditanya asli mana. Dengan itu, saya bisa menjelaskan sedikit di mana saya lahir, hingga akhirnya menceritakan kepindahannya. Hal ini lebih menyenangkan daripada lebih awal dicap sebagai warga ngapak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sih tidak masalah kalau dicap warga ngapak, tapi saya nggak bisa memenuhi ekspektasi mereka. Daripada kena harapan palsu, mending tau duluan ya, kan? Ibaratnya putus duluan lebih baik dibanding tau kejelekannya di akhir. Ehhh nggak nyambung~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, nggak semua orang yang dari Brebes punya aksen dan bisa bahasa ngapak. Ada yang pendatang, juga ada yang justru pakai bahasa Sunda. Jadi, jangan langsung tembak, \u201cKamu ngapak, ya?\u201d gitu dong. Kalian harus tau asal usulnya dulu sebelum ngasih label. Ibarat belanja, ya pakailah prinsip periksa sebelum membeli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu, asalnya dari mana? Kenalan dong, hehehe~<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yogyakarta-yang-istimewa-tengah-putus-asa-ditelanjangi-covid-19\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Yogyakarta yang Istimewa Tengah Putus Asa Ditelanjangi Covid-19<\/a><\/strong><strong>\u00a0dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/wafiyah-wahyuningsih-wilma\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wafiyah Wahyuningsih Wilma<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Asal Brebes nggak otomatis bisa ngapak, asal sayang belum tentu jadian. Nggak nyambung, ben.<\/p>\n","protected":false},"author":1234,"featured_media":100661,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3203,2856],"class_list":["post-100209","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-ngapak","tag-brebes"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100209","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1234"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100209"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100209\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100209"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100209"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100209"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}