Tidak Ikut Menjerat Gus Dur, Tapi Saya Pernah Terlibat Dalam Penculikan Gus Dur

Penculikan yang kami lakukan bukan untuk menjerat Gus Dur seperti yang dilakukan para elit politik Fuad Bawazir, Akbar Tanjung, Amin Rais dan komplotannya dulu

Featured

Saleh Abdullah

Udara sejuk sekira antara 15 dan 20 derajat celcius di Amsterdam ketika itu, Oktober 1994. Musim panas sudah usai. Musim gugur segera mulai. Sudah sejak sehari sebelumnya kami mendengar Gus Dur dan beberapa koleganya ada di Den Haag. Info yang kami dapat mereka baru datang dari kunjungan mereka ke Tel Aviv, Israel. Mereka mampir ke Belanda untuk International Conference on Islamic Revival and The West, 22-25 Oktober 1994.

Teman-teman orang Indonesia yang tinggal di Belanda sangat ingin mendapat informasi termutakhir dari Gus Dur, tentang politik dalam negeri yang ketika itu masih dikangkangi sangat kuat oleh Suharto dan slagordenya. Sebagai tokoh, di mata kami, Gus Dur bisa jadi sumber informasi penting. Apalagi kami tahu beliau punya hubungan baik dengan sumber-sumber informasi penting. Menghadiri konferensi dan ngajak ngobrol Gus Dur soal perpolitikan dalam negeri, jelas tidak mungkin. Selain suasana yang kurang mendukung, kami juga khawatir konferensi tersebut tidak steril dari para informan coronya Suharto.

Rencana penculikan Gus Durpun dibuat. Tidak, ini sama sekali berbeda tujuan dan caranya dengan para elit politik Fuad Bawazir, Akbar Tanjung, Amin Rais dan komplotannya yang ingin menjatuhkan Gus Dur ketika jadi presiden dulu, seperti terungkap dalam buku Menjerat Gus Dur yang sedang heboh itu.

Seorang teman jurnalis senior yang bekerja di Radio Nederland Wereldomroep (RNW), Tossi, mendapat tugas menculik Gus Dur usai sesi konferensi dan membawanya ke rumah Tossi, untuk kemudian kita unduh informasi dan analisanya. Begitu rencana kami. Kenapa Tossi? Selain dia punya mobil, juga karena Tossi kenal baik Gus Dur dan sering menjadikannya sumber berita RNW. Gus Dur akan berada di tangan penculik yang tepat.

Baca Juga:  Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi

Karpet dan bantal-bantal besar kami siapkan di ruang tamu rumah Tossi. Seperti para santri yang menunggu kyainya, kami siap lesehan mengaji. Usai jam 8 malam, Tossi dan Gus Dur tiba. Setelah duduk bersila lesehan di tengah-tengah bantal yang segede-gede gaban itu, Gus Dur mulai menyampaikan beberapa informasi menarik seputar LBM (Benny Murdani), Suharto dan tingkah laku anak-anaknya, ICMI dan lain-lain.

Informasi-informasi yang diceritakan Gus Dur tentu saja menarik. Apalagi kadang disisipkan dengan humornya yang khas. Rasanya kalau Gus Dur diminta bicara, hanya perlu 5-10 menit pertama, sebelum muncul celetukan humornya. Begitulah Gus Dur. Mencerahkan dan bikin ketawa sekaligus.

Tapi ketika itu Gus Dur juga nampak lelah. Perjalanan jauh, perbedaan waktu dan suhu udara, dan jetlag, pasti membuatnya lelah. Dan di sinilah keajaiban itu terjadi.

Sambil berbicara mengelus-elus dengkulnya, Gus Dur yang bersandar di tumpukan bantal besar, kadang kelihatan mulai mengantuk. Sementara 1-2 teman mulai menyampaikan beberapa pertanyaan. Di saat itu kantuk Gus Dur tampak semakin berat. Tangannya mulai terlepas lunglai dari dengkulnya. Badannya mulai lebih tersandar ke belakang. Kepalanya mulai miring ke sisi kanannya. Tiba-tiba terdengar nafas lembut teratur. Gus Dur mulai tertidur. Sementara teman yang bertanya terus saja nyerocos.

Usai teman ini menyampaikan pertanyaannya, tiba-tiba Gus Dur terbangun dan kembali duduk dalam posisi tegak. Ajaibnya, beliau langsung menjawab pertanyaan si teman seperti ia mendengar utuh semua pertanyaan ketika ia tidur tadi. Aneh, Gus Dur tadi jelas tertidur. Bagaimana ia pada waktu sama juga bisa mendengar pertanyaan? Benar-benar nggak umum… Langka ini. Dan kejadian tersebut terjadi lebih dari satu kali.

Saya lalu teringat ilmu Laduni yang kadang dimiliki oleh para ulama yang mempunyai maqam keilmuan tingkat tinggi. Inilah ilmu yang penguasaannya tidak melalui proses belajar pada umumnya, karena ia merupakan anugrah langsung dari Allah SWT. Syekh Abdul Qadir Jailani salah satu ulama yang dikenal memiliki ilmu Laduni.

Baca Juga:  Apakah Masih Ada yang Korupsi di Hari Anti Korupsi Sedunia?

Apakah Gus Dur memiliki ilmu Laduni? Biarlah jawabannya kita sisipkan pada rasa hormat dalam doa-doa kita memperingati Haul 10 tahun wafatnya. Semoga lapang, luas, dan lurus jalannya menuju haribaanNya. Diampuni segala salah dan dosanya.

BACA JUGA Gus Dur dan Radikalisme dalam Kacamata Kemanusiaan atau tulisan Saleh Abdullah lainnya. Follow Facebook Saleh Abdullah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
27

Komentar

Comments are closed.