The New Normal Itu Simulakra yang Tidak Berkarakter dan Tidak Visioner – Terminal Mojok

The New Normal Itu Simulakra yang Tidak Berkarakter dan Tidak Visioner

Artikel

Sudah jelas, tak pelak lagi, Covid-19 adalah musuh yang mempunyai kekuatan dan daya tembus yang tidak mudah dilawan. Negara-negara kuat, yang kekuatan angkatan bersenjatanya begitu digdaya, juga slagorde ilmuwannya yang berkaliber huh-hah, belum ada yang mampu meredam serbuan pasukan Covid-19. Batas-batas negara ambyar, rontok tak berdaya.

Banyak negara mulai bingung dalam menerapkan aturan. Banyak aturan seperti tarik-ulur (mulur mungkret). Serbasalah. Dibetot terlalu kuat, ekonomi rawan ambruk. Dikendorin dikit, berisiko pada kesehatan dan kehidupan manusianya. Susah dan bingung. Terlalu mikirin ekonomi dengan mengendorkan PSBB (relaksasi), berisiko dan bakal menuai badai kritik. Terlalu mengetatkan PSBB, para negara yang lelet ambil tindakan pencegahan dini bisa ngos-ngosan bajetnya dengan risiko cekak lalu gali lobang tutup lobang. Betul-betul situasi simalakama. Situasi yang kemudian sudah mulai mengarah pada simulakra (simulacrum).

Simulakra mulanya adalah konsep yang diperkenalkan Jean Baudrillard dalam era postmodernisme. Diawali dengan pemikirannya tentang era hiperrealitas di mana kepalsuan berkelindan dengan keaslian, fakta menilep realitas, kebohongan ngendon bersama kebenaran. Kondisi hiperrealitas itu kemudian melahirkan model-model realitas sebagai sebuah simulasi (simulacrum). Mandat KPK itu memberantas tindak korupsi. Tapi ada stafsus diduga melakukan manuver untuk mengarahkan uang triliunan demi kepentingannya sendiri, didiamkan saja. Dan ketika si stafsus mengundurkan diri, tanda baru dimunculkan bahwa ia gentleman dan pengunduran dirinya diterima begitu saja, tanpa diusut sebab musababnya. Case closed. Padahal pada masa sebelumnya ada menteri yang dianggap melakukan kesalahan administrasi saja diusut KPK sampai dijebloskan ke bui. KPK sekarang tak berbuat apa-apa atas tindakan si stafsus dan semua orang diam seperti menerima, itulah contoh simulakra sejumbuh-jumbuhnya.

Di tengah ketidakjelasan masa bebas Covid-19, kita lalu diperkenalkan wacana The New Normal, mengiringi saran agar “hidup berdamai dengan C-19.” Baik, mari kita lihat plan-plan.

Sulit untuk tidak percaya bahwa wacana The New Normal bertujuan agar ekonomi segera pulih. Tidak ada yang salah kalau itu memang tujuannya. Bagaimana mungkin hidup tanpa ekonomi. Tapi coba lihat penjelasan The New Normal itu, di mana semua orang disarankan untuk mempunyai gaya hidup baru yang lebih sehat, lebih higienis. Rajin-rajin cuci tangan pakai sabun, termasuk mandinya. Selalu pakai masker. Ke mana-mana bawa disinfektan dan hand sanitizer, dan sebagainya.

Buat rakyat miskin mayoritas yang baru kehilangan sejumlah mata pencariannya, apa semua itu mudah? Emangnya gonta-ganti masker nggak pake uang? Beli sabun, sanitizer, dan disinfektan pake daun mangga? Dan di tengah kondisi ekologi yang terus-menerus dirusak, hutan-hutan diberangus untuk perkebunan dan pertambangan, dan sumber-sumber air bersih terus dianeksasi perusahaan-perusahaan pembotolan (dengan plastik) air mineral, emang ngga bakal terjadi krisis air bersih nantinya? Sekarang aja di beberapa daerah banyak yang sumber air bersihnya mengandalkan hujan, kok. Cuci tangan dan mandi pake air laut?

Kata normal berakar sama dengan pengertian norma (regulasi, standard, aturan mapan). Berasal dari bahasa Latin normalis berarti sesuai aturan. Lalu ke mana pengertian The New Normal ini mau diarahkan? Kalau memang mau disesuaikan dengan pengertian dasarnya, ya diurus juga dong piranti-piranti pendukung keadaan The New Normal itu. Jangan cuma njeplak terus rakyat dibiarkan mencari dan mengupayakan sendiri makna dan implementasinya. Hentikan semua kegiatan deforestasi, lakukan penghutanan berskala besar. Moratoriumkan semua perusahaan perkebunan dan pertambangan. Ambil lahan-lahan mereka dan hutankan. Hentikan semua konversi lahan-lahan pertanian. Kembalikan lahan-lahan itu ke rakyat untuk dihutankan atau ditanami pohon-pohon keras atau perkebunan pangan rakyat. Mumpung udara sudah mulai dibersihkan oleh bala tentara Covid, perbaiki ekologi segera. Buat aturan-aturan yang membatasi pencemaran demi ekologi yang bersih dan sehat. Gratiskan bibit-bibit tanaman, atau setidaknya dijual murah terjangkau. Bibit-bibit tanaman itu bagian dari kehidupan. Masak sih masih mau terus-menerus memperdagangkan kehidupan?

Baru-baru ini Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Surat Edaran No. 511.2/3149/SJ tentang Pembentukan Satuan Tugas Ketahanan Pangan di Daerah. Surat Edaran ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan, distribusi, dan stabilisasi harga 11 bahan pangan daerah di tengah kondisi wabah Covid-19. Baiklah, itu sudah merupakan tanda bahwa ada dukungan aturan (norma) untuk mendukung situasi-situasi tak menentu yang akan datang.

Tapi perspektif Surat Edaran tersebut masih menempatkan rakyat sebagai konsumen, bukan produsen. Padahal kultur agraris dan pertanian kita masih kental. Di mana-mana petani masih ada, hidup, dan kendati susah payah, tetap bertani demi menjaga kehidupan. Lah, kenapa tidak membuat Surat Edaran yang memberi dukungan pada proses produksi pertanian, kedaulatan, dan ketahanan pangan sekalian?

Intinya, agar sebuah kebijakan tidak menjadi simulakra, visi kedaulatan yang berdasar pada realitas budaya harus berdiri tegak lurus. Masak sih untuk bawang putih, gula, dan garam saja kita masih harus impor? Negara kepulauan yang kalau garis pantainya digabung jadi satu merupakan yang terpanjang kedua di dunia ini, masih harus impor garam? Dengan luasan laut dan kekayaan biotanya, Indonesia hanya berada di posisi kelima sebagai eksportir pangan laut di Asia Tenggara. Masih kalah oleh Filipina yang garis pantainya cuma 9.000 kilometer. Padahal garis pantai Indonesia panjangnya 99.093 kilometer atau 11 kali Filipina punya. Aneh!

Di masa pandemi ini, ketika pemerintah tampak bingung dengan kebijakan yang simpang siur bahkan ada yang tabrakan, bantuan-bantuan sosial disalurkan berdasar kacaunya data-data kependudukan yang tidak pernah diupdate sejak beberapa tahun lalu, rakyat di desa-desa mencoba sendiri melakukan perlindungan warganya sambil memperkuat solidaritas antarwarga. Ketua-ketua RT mendata ulang sendiri warganya. Beberapa komunitas menggalang gerakan “Rakyat Membantu Rakyat”. Petani-petani sayuran di Kulonprogo yang hasil panen sayurnya melimpah, membantu warga wilayah lain mengirim sayuran secara sukarela. Tidak sedikit juga inisiatif rumah tangga yang memproduksi pangan dan menjualnya ke warga lain. Bukan cuma membantu konsumen untuk tetap di rumah saja, juga membantu para pengemudi ojol untuk tetap mendapat penghasilan.

Rakyat bergerak sendiri dengan tekad dan segala keterbatasannya.

Modal sosial seperti itulah yang harus didukung dan diperkuat sehingga opsi kehidupan yang akan datang lebih realistis dan punya legitimasi sosial dan budaya yang kuat. Presiden pertama negeri ini pernah menggelorakan semangat The New Emerging Force untuk melawan kekuatan-kekuatan dunia. Semangat yang visioner dan belum pernah diikuti oleh para penerusnya hingga hari ini. Para politisi lebih suka berwacana yang merupakan lahan empuk lahirnya simulakra.

Gerakan sosial warga di masa pandemi ini mestinya bisa dikonsolidasikan, didukung dan diperkuat, untuk memutus (delinking) ketergantungan terhadap kekuatan-kekuatan kapitalisme internasional. Sejarah sudah membuktikan bahwa kapitalisme akan terus beradaptasi. Dan bukan tidak mungkin kapitalisme juga akan kembali beradaptasi dalam merumuskan kehidupan pasca Covid-19 nanti. Simulakra-simulakra baru akan dimunculkan.

Mari kita ganti saja simulakra The New Normal dengan wacana “Kekuatan Baru” yang lebih berkarakter dan visioner.

BACA JUGA Kalo Kampung Saya Ga Lagi Dilokdon, Pengen Rasanya Lari ke Jalan Ketawa Keras-keras Baca Berita Ini dan tulisan Saleh Abdullah lainnya. Follow Facebook Saleh Abdullah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.