Pak Muhadjir Effendy kan Menko, Nggak Mungkin Sepolos Itu lah Memandang Kemiskinan

Uncategorized

Saleh Abdullah

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy jadi sasaran tembak gara-gara pernyataannya saat jadi pembicara kunci dalam sebuah webinar. Ini gara-gara ia mengatakan “Sesama keluarga miskin besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru.” Para netijen yang memang lagi memiliki waktu berlimpah di masa pandemi ini, barang tentu gatel dan sontak menyerang pernyataan sang Menteri.

Ha, lagi ngomongin soal angka kemiskinan yang masih nyundul langit di Indonesia, kok, sempat-sempatnya ngomong kayak gitu? Pak Muhadjir Effendy nggak inget apa dulu ada buku yang juga bikin heboh bertajuk Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai karya Soegiarso Soerojo?

Jangan sampai kebablasan ngurusin kawin mawin, Pak. Nanti ditegur Komnas HAM, lho.

Kendati secara faktual bisa jadi pernyataan beliau bisa dibuktikan, tapi mbok ya arif dan bijaklah dalam berkata-kata, Pak. Sudah dari jaman baheula Aristoteles mengingatkan bahwa “Poverty is the parent of revolution and crime”. Bahaya tuh, Pak! Lagian, kayaknya tidak kurang-kurang kok pernyataan dan pemikiran inspiratif dari tokoh-tokoh dunia yang menganggap bahwa akar kemiskinan itu berkelindan dengan kebijakan negara. Masa didomestikasi ke hanya soal kawin-mawin, sih? Akibat struktural kok, direduksi jadi kultural? Baik, coba kita lihat tiga pernyataan inspiratif berikut.

#1 Uskup Agung Olinda dan Recife, Brazil, Dom Hélder Câmara

Mendiang Uskup Agung Dom Hélder Câmara, seorang perintis penting Teologi Pembebasan di Amerika Latin, punya ungkapan yang dikenal dunia: “Ketika aku memberi makan orang miskin, mereka menyebutku Santo. Ketika aku bertanya kenapa orang miskin tidak mempunyai makanan, mereka menyebutku seorang komunis.”

#2 Bapak Afrika Selatan Nelson Mandela

Bapak Afrika Selatan Nelson Mandela juga pernah bilang: “Kemiskinan bukanlah kecelakaan. Seperti perbudakan dan Apartheid, kemiskinan dibuat oleh manusia dan hanya bisa diubah oleh tindakan nyata manusia.”

#3 Ekonom Amartya Sen

Peraih Nobel Ekonomi atas karyanya Ekonomi Kesejahteraan Amartya Sen mengatakan: “Kemiskinan bukan semata perkara kekurangan atau tidak punya uang, tapi itu perkara tidak adanya kemampuan untuk mewujudkan potensi penuh seseorang sebagai manusia.”

Baca Juga:  Kemiskinan dan Kesusahan itu Cuma Berlangsung 40 Hari Saja, kok

Ke mana arah tudingan Amartya Sen? Ke orang kebanyakan, atau ke para penggenggam kuasa?

Kalau melihat ke pemikiran-pemikirannya—yang menganggap bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa pembangunan manusia, tidak akan berkelanjutan dan tidak etis—saya yakin Amartya Sen, lewat pernyataannya di atas, sedang mengarahkan tudingannya ke tanggung jawab para pelaku pemerintahan. Dan pernyataan Amartya Sen bahwa pertumbuhan ekonomi jumbuh dengan pembangunan manusia. Kok ya kayak negur Pak Muhadjir Effendy yang ngurus bidang pembangunan manusia ini?

Tiga orang terkemuka di atas masa hidup dan pemikirannya sudah jauh lebih dulu daripada ketika Pak Menteri dilantik jadi menteri atau di hari ketika blio membuat pernyataan di atas. Lalu coba bandingkan bobot tiga pernyataan tersebut dengan pernyataan Pak Menteri. Bisa nyengir seharian kita.

Mencoba nyari alesan Pak Muhadjir Effendy sampai ngomong gitu

Saya sih nggak begitu yakin bahwa Pak Menteri sedang menyampaikan analisisnya ihwal susah dan ruwetnya menurunkan angka kemiskinan Indonesia yang, seperti terus menanjaknya kurva korban Covid-19 di negeri ini, memang ruwet dan bisa berdampak ke mana-mana. Ruwet, ruwet, ruwet!

Saya percaya Pak Menteri setuju dengan esensi tersembunyi dari tiga pernyataan tiga tokoh di atas, bahwa mengurangi tingkat kemiskinan itu bukan cuma perkara mengubah perilaku kawin mawin atau me-lockdown hasrat besanan sesama orang miskin. Husnuzan, saya percaya Pak Menteri bukan tipe orang yang dianggap Amartya Sen sebagai orang yang tidak punya kemampuan melihat persoalan. Nggak, lah. Level menko lho ini. Bidangnya strategis, pun.

Lalu ke mana arah atau apa maunya Pak Menteri lewat pernyataannya itu? Pertama, secara sederhana aja, merujuk pada pernyataan Uskup Dom Hélder Câmara di atas, Pak Menteri mungkin kuatir kalau bilang ada persoalan struktural penyebab kemiskinan, bisa-bisa dituduh komunis pulak. Mau dituduh agen aseng dan halal dibabat?

Kedua, kalau ngikutin apa yang dibilang Nelson Mandela dan Amartya Sen untuk mengambil langkah konkret struktural pengentasan kemiskinan, bisa panjang urusan. Itu sama aja dengan mengurangi jatah preman beberapa elit politik. Ntar ada yang mara-mara lagi dan beneran kena reshuffle, gimana?

Baca Juga:  Orang Miskin yang Sebenar-benarnya Miskin Adalah Kaum Marjinal Tanpa KTP

Ketiga, di tengah dugaan kuatir banyak pihak di mana pandemi Covid-19 bahwa pertumbuhan ekonomi yang minus akan berlanjut dengan resesi seperti yang sudah dialami beberapa negara, perlu ada semacam “relaksasi” gitu. Iya, sudah seringlah kita dengar yang namanya pengalihan isu itu. Bukankah kita sering melihat banyak contoh dilemparnya pernyataan dari elite politik yang rada-rada gitu, lalu membuat publik heboh? Lalu apa yang terjadi? Ya, nggak ada! Emang apa yang terjadi setelah presiden mara-mara sambil bilang akan ada kemungkinan reshuffle? Nggak ada kan? Yang ada malah anaknya nyalip calon wali kota Solo.

Ha, trus gimana menghadapi pernyataan-pernyataan kontroversial itu? Dua jurus saya tawarkan.

Satu, kita harus mulai terbiasa, terutama di masa krisis ini, menganggap pemerintah itu seperti mobil tanpa bensin. Kita bisa numpang duduk di dalamnya, tapi percayalah, mobil itu tidak bisa bergerak ke mana-mana.

Dua, kita harus mulai terbiasa mempunyai pemikiran bahwa kita tidak mudah mempercayai sebuah pernyataan yang nyeleding akal sehat. Kita bisa tetap menunjukkan sikap peduli, sambil menunjukkan sikap tidak pernah pesimistis. Kita harus realistis melihat tingkah laku para elit politik. Bisa jadi masih ada elite politik yang bagus atau sebaliknya. Santai dan realistis aja dengan fakta tingkah laku mereka. Karena kata-kata bisa berbohong, tapi tingkah laku tidak akan pernah berbohong.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Bahasa Jawa Sangat Peduli pada Jatuhnya Umat Manusia dan tulisan Saleh Abdullah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.