Nussa Pakai Baju Kurta karena Bajunya Praktis buat Anak Muslim Aktif – Terminal Mojok

Nussa Pakai Baju Kurta karena Bajunya Praktis buat Anak Muslim Aktif

ArtikelFeatured

Bukan jagad maya namanya kalau tidak ramai dengan keriuhan-keriuhan baru. Dan hal baru yang lagi viral adalah utasan seorang aktivis medsos tentang kostum Nussa yang disebut mengampanyekan Taliban—karena kostumnya seperti baju khas anak-anak Afghanistan. Iya, sih itu memang dominan dipakai anak-anak Afghanistan. Namun bukankah sah-sah saja ya mengadopsi jenis-jenis baju muslim di dunia. Lebih ke variasi baju aja, sih, menurut saya.

Emang nggak boleh ya pakai baju muslim yang terlihat lebih keren? Dan yang paling utama, praktis pemakaiannya untuk aktivitas keseharian. Apalagi Nussa ‘kan anaknya aktif. Ya main bola, ya lari sana lari sini. Dengan model baju muslim yang hanya sampai lutut dan tidak sampai mata kaki seperti sarung dan gamis, maka akan lebih praktis. Tentu saja dipadukan dengan celana panjang longgar. Dan itulah yang menjadi ciri khas Nussa, yakni berpeci dan berbaju muslim jenis kurta itu namanya.

Ada yang perlu dipahami, bahwa seseorang akan berperilaku seperti apa yang dikenakannya. Pas pakai baju muslim seharusnya alam bawah sadarnya mengondisikan dia auto berperilaku muslim. Bawaannya menjaga wudhu’, salat tepat waktu. Dan itu semua tercermin dalam figur Nussa di filmnya dengan baju kurtanya. Baju kurta Nussa sangat cocok dikombinasi dengan celana sirwal yang longgar di atas mata kaki.

Memang, sih pria-pria di Afganistan dan sekitarnya seperti India, Pakistan, Bangladesh identik dengan baju kurta. Nah, itu poinnya. Mayoritas pria, saya ulangi lagi, mayoritas pria Afghanistan, pake kurta. Jadi bukan hanya Taliban. Kurang bijak jika menggeneralisasi semua pria—termasuk anak-anak—yang mengenakan kurta adalah Taliban. Logika bahwa pengguna kurta adalah Taliban itu jelek aja belum. Buktinya ayah ustaz saya yang memang asli Pakistan juga memakai kurta. Dan sudah lama mengenakan kurta jauh sebelum Nussa muncul ke muka bumi.

Selain baju kurta, saya pikir kita harus tahu juga jenis-jenis baju muslim lainnya di dunia, selain baju koko dan kurta. Masih banyak berbagai macam baju muslim di dunia yang sesungguhnya dipakai juga oleh banyak orang di Indonesia, antara lain. Dan saya pikir produser Nussa juga sudah mempertimbangkan kepraktisan jenis-jenis baju muslim tersebut untuk anak muslim aktif seperti Nussa.

Sekarang coba kita bandingkan seandainya Nussa memakai baju muslim selain kurta.

Baju koko

Baju koko sebenarnya baju yang identik dengan baju laki-laki Tionghoa. Koko bermakna kakak bagi Tionghoa. Dan akhirnya baju koko menjadi baju khas pria muslim di Indonesia. Nah, baju koko ini dipakainya biasanya dipadupadankan dengan sarung. Kebayang, kan kalau Nussa yang aktif pakai sarung ke sana ke sini. Keslimpet kakinya. Apalagi main sepak bola. Kecuali buat lucu-lucuan 17 Agustusan.

Tawb atau thobes

Tawb biasa dipakai pria di Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Baju muslim ini panjangnya mulai dari bahu hingga ke kaki. Lebih repot lagi kalau Nussa pake tawb ini. Emangnya mau salat Idulfitri.

Sherwani

Sherwani mirip kurta kalau dilihat dari panjangnya yang menutupi lutut, karena memang berasal dari India dan Pakistan. Tapi sangat, repot kalau Sherwani dipakai untuk keseharian Nussa. Sebab, di negeri asalnya sherwani dipakai para aristokrat dan untuk baju pernikahan. Nussa ‘kan masih kecil.

Galabiyya

Galabiyya mirip tawb, namun lebih longgar. Galabiyya berasal dari Mesir, memiliki panjang potongan hampir sama dengan thawb sampai mata kaki. Laaah, sama aja repotnya dipakai Nussa yang lincah.

Jubba

Jubba juga mirip dengan tawb dan galabiyya yang panjangnya sampai mata kaki. Aslinya dari Turki. Ya, sama juga kepanjangan kalau dipakai Nussa.

Saya pikir sah-sah saja, sih Nussa mengenakan baju kurta. Tidak harus disikapi sebagai semiotik dan simbolis Taliban. Kecuali kalau sedang riset seperti membuat tesis, disertasi dengan paradigma kritis, pastilah akan melihat ada ideologi-ideologi yang tersembunyi di balik sebuah fenomena. Ya, bisa saja. Tapi mbok, ya diteliti dulu. Dibuat latar belakang, pertanyaan penelitian, teori yang digunakan, baik stand point theory dan teori-terori pendukung lainnya yang relate. Belum lagi metode penelitiannya, mau kuantitatif atau kualitatif, terus diseminarkan dulu. Kalau layak baru jalan. Jadi prosesnya panjang kalau mau diakui menjadi opini hasil penelitian ilmiah dan diakui semua kalangan.

Nah, itu kalau baru mau menganalisis makna tersembunyi. Tapi, ini kan perkara baju bocah doang, ngapain diributin? Nggak semua-mua punya makna tersembunyi lho, Gaes. Capek kamu dikit-dikit curiga.

Sumber gambar: YouTube Aldifer

BACA JUGA Jika Nussa dan Rara Lahir dari Keluarga NU atau Muhammadiyah dan tulisan Suzan Lesmana lainnya.

Baca Juga:  Bystander Effect, Alasan Seseorang Enggan Menolong Orang Lain di Keramaian
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.