Mengenang Pak Ajip Rosidi: Prabu Siliwangi Itu Mitos, Tidak Ada Wujudnya!

Uncategorized

Saleh Abdullah

Waktu makan malam tiba. Anak-anak dipanggil Ibu. Kami lalu berkumpul mengitari meja makan di rumah di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu. Dinding ruangan di mana meja makan berada penuh dengan lukisan-lukisan besar dari para pelukis besar. Satu yang saya ingat, Affandi.

Ketika itu saya masih sekolah di pesantren bersama anak-anak Pak Ajip Rosidi: Uga dan Nundang. Rumah itu jadi salah satu titik kumpul yang kami kunjungi beberapa kali ketika liburan.

Sambil makan, Pak Ajip berkata: “Saya kalau makan langsung dengan tangan sendiri. Karena tangan kita, kan, hanya kita yang pakai. Kalau sendok dan garpu dipakai banyak orang.”

Waktu berjalan, dan kami semua beranjak dewasa. Uga dan Nundang ikut Pak Ajip ke Jepang. Rumah Pasar Minggu itu tidak lagi kami kunjungi.

Lalu di prolog krisis politik jelang jatuhnya Soeharto, saya kembali melihat Pak Ajip di tempat yang sama sekali tidak saya duga: di rumah Bang Ali Sadikin di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat. Hari itu ada hajatan rutin di mana para anggota penanda tangan Petisi 50 berkumpul mendiskusikan keadaan. Pak Ajip pasti mengenal beberapa anggota Petisi 50, terutama Bang Ali yang merupakan sesama tokoh masyarakat Sunda. Gubernur DKI yang tak tergantikan legendanya hingga kini itu, memang punya perhatian luar biasa pada seni dan kebudayaan, yang bisa dilihat pada kebijakan-kebijakan daerah ketika ia memimpin Ibu Kota, di antaranya mendirikan Taman Ismail Marzuki dan memberi dukungan bagi setiap kegiatannya.

Pada masa emas TIM inilah Pak Ajip menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta DKJ sejak 1968, lalu menjadi ketua DKJ pada periode 1972-1981. Di masa Pak Ajip menjadi ketua DKJ, pada 1974, sahabatnya sesama penyair, si Burung Merak WS Rendra membaca sajak di TIM diganggu oleh intel yang melempar bom amoniak ke panggung, menghentikan acara. Bang Ali marah, WS Rendra marah, semua orang marah!

Pada masa Pak Ajip memimpin DKJ pula para pelukis muda menyelenggarakan pameran Gerakan Protes Desember Hitam pada 1974. Harus dikatakan, duet tokoh Sunda di Jakarta ini, Pak Ajip dan Bang Ali, memberi warna yang kuat dan populer pada setiap kegiatan kesenian dan kebudayaan di Jakarta pada umumnya, dan di TIM pada khususnya.

Baca Juga:  Si Doel Anak Sekolahan Episode 2, Musim 1: Semua Tentang Sarah

Bang Ali memang figur yang dianggap sangat populer dengan beberapa kebijakannya yang populis, tentu membuat Soeharto gerah. Pak Ajip menjadi saksi ketika sahabatnya itu dihabiskan karier politiknya oleh Soeharto pada 1977. Saya kira bukan sebuah kebetulan ketika Pak Ajip, yang hanya sekolah sampai SMP, membacakan pidatonya pada penganugerahan gelar doktor honoris causa dari Universitas Padjadjaran Bandung pada 31 Januari 2011—di mana seluruh prosesi acara termasuk pidato Pak Ajip menggunakan bahasa Sunda. Saat itu beliau menyinggung ihwal tidak banyaknya orang Sunda yang tampil dalam panggung politik Indonesia.

Tahun berganti, perubahan politik terjadi, diktator Soeharto tumbang. Saya pindah ke Yogyakarta. Beberapa tahun sebelum wafatnya, saya bersyukur, bersama beberapa teman dari beberapa daerah kami sempat berkunjung ke rumah Pak Ajip di Pabelan, Magelang, tidak jauh dari candi Borobudur.

Pertemuan yang renyah. Pak Ajip yang hanya bercelana pendek tanpa alas kaki masih tampak segar dan sehat. Bicaranya sangat blak-blakan dan tajam. Beliau berbicara soal buku, karya sastra kontemporer, kebudayaan Sunda, juga politik tentu saja. Salah satu buku yang sempat beliau singgung, dan sangat sukai, adalah buku Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia karya Nurhady Sirimorok (Ady), terbitan Insist Press. Pak Ajip tidak segan memuji buku tersebut sebagai kritik sastra kontemporer terbaik yang pernah dia baca. Karena buku tersebut menggunakan pendekatan berbeda dalam menelaah novel-novel Andrea Hirata. Sebuah pendekatan yang nisbi baru dalam kritik sastra.

Hal lain yang luar biasa, Pak Ajip masih tetap mengasah keahliannya menulis, dengan menulis dua buku biografi dalam setahun. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Sunda klasik, yang mana orang yang bisa menggunakannya “di jagat raya ini hanya tinggal tujuh orang, termasuk saya!” kata beliau. Berdasar pengetahuannya tentang bahasa Sunda klasik tersebut, masih menurutnya, setelah mempelajari beberapa artefak kebudayaan Sunda, beliau sampai pada kesimpulan bahwa Prabu Siliwangi itu hanya mitos yang dibuat-buat dan tidak ada wujudnya.

Baca Juga:  Pak Muhadjir Effendy kan Menko, Nggak Mungkin Sepolos Itu lah Memandang Kemiskinan

Ketika seorang akademisi meragukannya, Pak Ajip berkata: “Anda bisa bahasa Sunda kuno? Kalau bisa, saya akan tunjukkan bukti-buktinya.”

Berat…. Menguasai suatu bahasa, kan, salah satu kunci penting pengetahuan to?

Kegelisahan Pak Ajip terhadap penggunaan bahasa Indonesia juga beliau tumpahkan di dalam bukunya Bus, Bis, Bas. Sore itu, sambil menceritakan latar belakang ia menulis buku tersebut, beliau tidak sungkan menumpahkan kejengkelannya melihat banyak orang, dari para seleb hatta presiden SBY yang kerap mencampuradukkan bahasa Indonesia dan asing (Inggris). Seolah mereka tidak yakin bisa menjelaskan apa yang ada di pikiran mereka dengan bahasa Indonesia. Aneh! ketusnya.

Kemarin, 29 Juli 2020, Pak Ajip wafat. Wilujeng angkat, Pak Ajip. Mudah-mudahan ditampi di tempat nu mulya di sisi Alloh, dihapunteun dosa-dosana, ditampi amal imanna. Amiiin. Punten, saya tutup tulisan ini dengan penggalan puisi Bapak.

Hanya Dalam Puisi

…..

Tidakkah telah menjadi takdir penyair
Mengetuk pintu demi pintu
Dan tak juga ditemuinya: Ragi hati
Yang tak mau
Menyerah pada situasi?

Dalam lembah menataplah wajahmu yang
sabar.
Dari lembah mengulurlah tanganmu yang
gemetar.

Dalam kereta api
Kubaca puisi: turihan-turihan hati
Yang dengan jari-jari besi sang Waktu
Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur
Ke ruang mimpi yang kuatur
sia-sia.

Aku tahu.
Kaupun tahu. Dalam puisi
Semuanya jelas dan pasti.

Ajip Rosidi, 1968

Sumber gambar: Foto diri Ajip Rosidi pada 1967, Wikimedia Commons

BACA JUGA Jejak Ajaib Ajip Rosidi: Nikah Muda Tanpa Ijazah SMA Bikin Produktif Nulis dan tulisan Saleh Abdullah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
44


Komentar

Comments are closed.