Kill The Messenger: Cara Para Elit yang Terhormat "Menghajar" Mahasiswa di ILC – Terminal Mojok

Kill The Messenger: Cara Para Elit yang Terhormat “Menghajar” Mahasiswa di ILC

Buat orang sekaliber menteri, dosen, guru besar, politisi, pernyataan serangan itu sama sekali tidak bijaksana apalagi dikeluarkan mulut terhormat mereka di forum publik seperti ILC

Artikel

Saleh Abdullah

“People would say bad things about you, because it is the only way their insignificant self can feel better than you.” (Tanpa nama).

Acara ILC beberapa waktu lalu, beberapa wakil mahasiswa “dihajar” dengan cara, yang menurut saya, tidak mencerminkan kematangan dan sikap konstruktif sama sekali.

Pertama, para nara sumber “hebat” dan dihormati itu, setidaknya oleh ILC, mengatakan: “saya juga dulu pernah aktif seperti kalian. Demo sana-sini.” Yang kedua, beberapa dari narsum itu, termasuk mantri Yasonna Laoly dan Harkristuti Harkrisnowo mengatakan, kurang lebih, “kalian baca lengkap belum sih RKHUP itu? Kalian kuliah hukum bukan? Kalian sudah bahas apa yang kalian kritik itu?”

Pernyataan-pernyataan ofensif dari “orang-orang terhormat” kepada para anak muda yang sedang tumbuh, di forum “para pakar” dan elit, yang disaksikan jutaan mata.

Menurut saya, buat orang sekaliber menteri, dosen, guru besar, politisi, pernyataan serangan itu sama sekali tidak bijaksana yang ke luar dari mulut-mulut para terhormat. Atau dengan kalimat lain, pernyataan serangan itu sama sekali tidak mencerminkan bobot kualitas wawasan para pengucapnya.

Atau beginikah memang kultur diskusi kita? Semurahan inikah? Ad hominem, kill the messenger, adalah cara yang bahkan lumrah diucapkan oleh mereka yang bergelar profesor, ahli, wakil rakyat?

Mereka pasti mengenal dengan baik prinsip Kebebasan Menyatakan Pendapat bagi siapapun. Tapi saya ragu mereka paham dan menghayati bahwa di dalam prinsip itu, jelas-jelas terkandung esensi penghormatan terhadap perbedaan pendapat.

Arti menghormati itu bukan cuma memberi kebebasan berpendapat bagi setiap orang. Tapi juga menghormatinya secara bijaksana, dengan tidak mengejek, mengerdilkan, apalagi membodoh-bodohi yang menyampaikan pendapat berbeda.

Maka carilah kata-kata yang konstruktif dalam berdebat, kalau kalian memang punya maqom sebagai ahli yang dihormati. Sinisme sama sekali bukan cerminan sikap konstruktif. (*)

Baca Juga:  Kenapa Aksi Massa Bisa Berujung Keos?

BACA JUGA Generasi K (Keminter dan Karatan) Harusnya Berkaca Dulu Sebelum Nyinyiri Aksi Mahasiswa atau tulisan Saleh Abdullah lainnya. Follow Facebook  Saleh Abdullah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.892 kali dilihat

70

Komentar

Comments are closed.