Ketakutan yang Memuncak Bisa Menjadi Keberanian yang Menyebabkan Perlawanan

Featured

Saleh Abdullah

Beberapa penggalan kenangan tentang Arief Budiman

Awal ‘90-an saya mendapat amanah untuk mengantarkan sebuah surat ke Arief Budiman. Surat yang harus saya antar langsung karena berharap segera ada respon dari Arief Budiman. Bersama satu atau dua orang teman dari Yayasan Geni, Salatiga, saya diantar ke rumah Arief. Rumah besar dengan arsitektur bagus dengan kayu-kayu yang kokoh. Kami berbincang di ruang tamu rumah itu.

“Ini surat dari Jusfiq Hadjar di Leiden, yang ia kirim melalui faximili,” kata saya sambil menyodorkan surat tersebut.

“Ah, Jusfiq! Teman lama. Dulu kami sama-sama di Perancis. Apa kabar dia?” Arief lalu membaca surat tersebut sambil senyum-senyum. Barang tentu, karena sifat surat tersebut yang bukan personal dan dikirim lewat fax, saya sempat membacanya. Tapi saya lupa detail isi surat tersebut. Intinya hanya berkisar harapan Jusfiq agar Arief Budiman tampil memimpin gerakan perlawanan oposisi terhadap Soeharto dan Orde Baru.

Usai membaca surat itu, Arief senyum-senyum sambil menerawang menatap pohon-pohon besar di halaman rumahnya. “Saya sih setuju saja dengan esensi surat Jusfiq. Toh, kami juga sudah lama saling kenal. Hanya, teman-teman di luar negeri, terutama yang tinggal di negara demokratis seperti Jusfiq, sering tidak begitu menyadari betapa tidak mudahnya di Indonesia melakukan perlawanan. Di negara demokratis, di mana hak-hak menyatakan pendapat dan unjuk rasa dihormati dengan maksimal, tidak sesulit di Indonesia. Di sini, saya membuat tulisan kritis saja, atau memberi satu diskusi dengan pikiran-pikiran kritis, bisa disamperin intel, atau diskusinya dibubarkan polisi.”

Saya tidak menyalahkan atau menganggap Arief pengecut ketika itu, karena kami juga sangat sadar bagaimana kadar represi ketika itu. Sebagai intelektual dan akademisi, saya pikir Arief punya peran sendiri yang, setahu saya, ia jalankan terus.

Obrolan bergeser ke mana-mana di pagi yang sejuk Salatiga. Mumpung lagi hangat perbincangan tentang postmodernisme ketika itu, termasuk tulisan-tulisan kolega Arief sesama dosen Universitas Kristen Satya Wacana, Ariel Heryanto. Lalu saya lontarkanlah soal itu ke Arief. Respon pertama dia pas sama dengan apa yang sudah saya dengar dari Jusfiq Hadjar sebelumnya. Kira-kira begini: “Postmodernisme itu lahir di negara-negara yang modernisasinya sudah mencapai puncak, di semua level kehidupan. Dari cara berfikir sampai ilmu pengetahuan dan teknologi. Lah, di Indonesia ini, modern aja belum sepenuhnya, kok! Masih banyak takhayul yang hidup dan dipercaya.”

Alasan kedua Arief menolak (walau tidak ingin menghambat), yang lebih makjleb buat saya hingga hari ini: “Postmodernisme itu terlalu intelek. Tidak realistik dalam mengupas dan membedah problem ketidakadilan. Dan tidak praktis, susah diterapkan. Sampai saat ini, analisis yang bisa dengan mudah membedah dan mengupas masalah ketidakadilan, juga bisa diterapkan, hanya analisis struktural yang marxis.”

Baca Juga:  Review Suzuki Smash Titan Setelah 7 Tahun Pemakaian

Perkenalan saya dengan Arief Budiman tidak begitu intens. Saya hanya pernah 2-3 kali bertemu langsung dengannya lewat wawancara atau kunjungan seperti di atas, dan beberapa kali melihatnya sebagai pembicara dalam sebuah diskusi. Di masa itu, bagi banyak aktivis mahasiswa atau ornop seperti saya, Arief Budiman seperti ideolog kondang. Pemikir publik dan akademisi yang luas pengaruh pemikirannya. Bahkan beberapa kali Arief juga diundang ke pesantren-pesantren untuk memberi diskusi dengan santri atau kyai muda. Tapi saya diuntungkan juga karena sempat berteman dekat dengan teman-teman dekat Arief Budiman, sejak beliau aktif di angkatan ‘66, dan gerakan-gerakan protes awal Orde Baru seperti Golput, Komite Anti Korupsi (KAK), dan Anti Pembangunan Taman Mini.

Ada sebuah cerita menarik yang saya dengar langsung dari almarhum Julius Usman, rekannya di Golput dan KAK, ketika Julius dipenjara karena peristiwa Malari. Di penjara, untuk bisa dibebaskan, Julius pura-pura mengalami gangguan mental (untuk tak menyebutnya gila). Berita bahwa Julius mengalami gangguan mental sampai ke Arief Budiman. Sebagai alumni fakultas psikologi, Arief concern dan berencana menemui dan memeriksa langsung Julius di penjara.

Dalam pertemuan itu Arief bertanya pada Julius: “Jul, kalo misalnya lu bisa dibebasin, mau gak lu demo bedua gue di Jembatan Semanggi? Kita iket badan kita dengan tali gelantungan di Semanggi dan beberin poster ‘Turunkan Soeharto’! Berani gak, lu?”

Julius menatap heran Arief Budiman ketika itu. Ia langsung menolak. “Gila lu, Rief. Lah, gua baru bebas, terus bikin aksi kayak gitu di Semanggi. Ya, pasti masuk lagi gue. Bisa-bisa malah lebih lama dibekep Harto, gue. Ogah, ah!”

Arief Budiman langsung menepuk pundak Julius. “Sialan, gue kira lu jadi sinting beneran. Waras lu, ah.”

Seperti menyadari sesuatu, Julius merajuk: “Rief, gue pura-pura doang supaya bisa dibebasin. Lu kan banyak kenalan psikolog. Bisa dong lu ngatur seorang psikolog untuk meriksa gue, dan ngatur supaya gue dibebasin.”

“Nah, sekarang lu sinting beneran nih. Lu kira gue kenal semua psikolog se-Indonesia? Lagian, kalau pemerintah mau meriksa elu, mereka akan tentukan sendiri siapa yang ditugaskan untuk meriksa elu. Bukan urusan gue.”

Kali lain, dalam rangka ikut memprotes pemberedelan Tempo, Detik, Editor pada 1994, dalam sebuah pidato di Taman Ismail Marzuki, Arief bercerita tentang bagaimana karir seorang Harmoko yang menjadi Menteri Penerangan yang melakukan pembredelan ketika itu. “Harmoko itu dulu kartunis. Tukang gambar, ilustrator. Kadang kalo tidur di atas meja di kantor. Saya pernah bangunin dia, karena tidur sampai mereka yang bekerja berdatangan. Ko, Moko, bangun lu! Udah siang…. Eh, sekarang dia berkuasa banget!” begitu cerita Arief.

Baca Juga:  Krisis Ekonomi Membayangi, Jangan Dengarkan Lagu-lagu Orba 'Ayo Menabung'!

Pada acara itu, saya ingat banget, Arief memunculkan teori “ketakutan yang memuncak, bisa melahirkan keberanian untuk melakukan perlawanan.”

Dengan caranya sendiri, Arief selalu memberi perhatian serius pada anak muda di masa-masa represif tersebut. Saya kira, Universitas Kristen Satya Wacana menjadi begitu terkenal juga karena tulisan-tulisan kritis beberapa dosennya, seperti Arief Budiman, Sritua Arief, Ariel Heryanto, George Junus Aditjondro, dan lain-lain. Salah satu tulisan Arief terakhir yang saya baca pada masa itu adalah ketika beliau mengupas Neo-Liberalisme. Neolib menurutnya, adalah bentuk penaklukan baru tanpa senjata. Inilah salah satu bentuk kolonialisme baru. Dengan uang/modal/investasi, bukan dengan senjata.

Dunia polemik juga pernah melibatkan Arief Budiman begitu intens dalam dua tema besar polemik yang lumayan panjang. Kedua polemik lewat tulisan-tulisan di mass media itu sempat dibukukan. Yang pertama polemik tentang ekonomi Pancasila. Kedua tentang sastra kontekstual. Kritik Arief pada ekonomi Pancasila, karena ekonomi Pancasila dianggap sebagai ekonomi pasar yang dikontrol negara. Tanpa kejelasan bagaimana mengontrolnya. Seperti membuat kerangkeng tapi tidak punya pengetahuan cukup tentang apa yang dikerangkeng dan bagaimana mengerangkengnya. Bukan Sosialisme, bukan pula Kapitalisme. Sementara terkait definisi dan tafsir Pancasilanya, ketika itu, sering dianggap sebagai hanya Soeharto yang paling tahu. Yang punya tafsir sendiri, bakal dilibas!

Sementara terkait perdebatan sastra kontekstual, Arief bersama Ariel membuat sebuah gebrakan dengan mengatakan bahwa sastra Indonesia tidak akrab dengan masyarakat Indonesia. Sastra Indonesia tidak punya akar di Indonesia. Ibarat pohon yang menggapai-gapai ke atas, tapi akarnya tidak tumbuh di bawah. Bisakah seorang penulis sastra daerah, yang karena tulisannya tidak dimuat di sebuah majalah sastra, lalu dianggap sebagai bukan sastrawan?

Saya kira, kedua polemik tersebut adalah polemik terpanjang yang pernah terjadi di Indonesia, dengan usia perdebatan dan polemik melewati 1 tahun, yang ikut diramaikan dengan penuh antusiasme oleh Arief Budiman. Bahkan di periode yang, katanya, sudah lebih demokratis saat ini, polemik seperti itu tidak terjadi lagi.

Selamat jalan, Arief Budiman. Terima kasih atas perkenalan yang ringkas tapi sangat membekas. Istirahatlah dengan damai.

BACA JUGA Kalo Kampung Saya Ga Lagi Dilokdon, Pengen Rasanya Lari ke Jalan Ketawa Keras-keras Baca Berita Ini dan tulisan Saleh Abdullah lainnya. Follow Facebook Saleh Abdullah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.