Kasus Pandji Pragiwaksono, Latihan Berpikir untuk Iqbal Aji Daryono

Kasus Pandji Pragiwaksono, Latihan Berpikir untuk Iqbal Aji Daryono

Featured

Saleh Abdullah

Pertama, saya juga perlu menyatakan, kayak Iqbal, saya juga nggak kenal siapa itu Pandji Pragiwaksono. Nggak kenal dia. Bukan follower dia. Nggak berteman di medsos. Nggak pernah nonton acara dia di mana pun. Saya punya prioritas-prioritas dalam hidup ini. Dan Pandji tidak termasuk. Blas.

Kalo Iqbal saya kenal lah. Beberapa kali ketemu, beberapa kali makan dan ngopi bareng. Ngobrol tentang kehidupan. Berteman di Facebook, dan ini: kami sama-sama pendukung kretek Nusantara. Jadi dalam berhadapan dengan Pandji yang anti-kretek, saya dan Iqbal mestinya satu server. Bedanya saya dan Iqbal, terkait tulisan dan sikap Iqbal kemarin di Mojok: “Saya Warga Muhammadiyah, dan Saya Membela Pandji Pragiwaksono”. Di sini kita beda, Bal.

Saya tidak membela Pandji. Saya membela mereka, siapa pun dan apa pun basis ormasnya, yang menyerbu Pandji.

Intinya, Iqbal bilang Pandji kan cuma ngutip pernyataan Tamrin Tomagola yang mengatakan bahwa NU dan Muhammadiyah itu elitis, tidak seperti FPI yang membumi. Intinya begitulah. Lengkapnya baca aja tulisan Iqbal Aji Daryono di Mojok.

Penjelasan-penjelasan Iqbal soal siapa itu Tamrin, siapa itu Pandji, juga oke. Saya setuju. Bedanya, emangnya kenapa kalau para pengkritik Pandji tidak mempersoalkan pandangan Tamrin itu sendiri dan malah lebih fokus nembak si juru kutip Pandji? Di mana salahnya?

Emangnya kalau misalnya saya bikin skripsi atau tesis dan ngutip pendapat Rosa Luxemburg tentang perjuangan kelas, lalu ketika ujian skripsi, di hadapan para dosen penguji, bila ada dosen yang tidak sepakat dengan pendapat Rosa Luxemburg yang saya rujuk, Ibu Rosanya mesti dihidupkan lagi dan diuji pemikirannya, Bal? Gimana kalau kita pakai saja slogan “matinya penulis” Roland Barthes?

Oke, Iqbal mungkin akan bilang, “Bu Rosa dan Pak Roland kan sudah almarhum. Pak Tamrin masih ada tuh bulak-balik ngajar di UI Depok!”

Sebetulnya Iqbal dalam tulisannya juga tidak melulu nyalahin semua moncong meriam yang diarahkan ke Pandji. Geser dikit jugalah ke Pak Tamrin. Begitu kira-kira kata Iqbal. Kalau buat saya sih, ya nggak apa-apa juga ngejuju semua serbuan ke Pandji. Kalau perlu alasan penyerbuan ke Pandji ditambahin jadi begini. “Nji, lu kan pernah kuliah. Lu mestinya tahu cara berpikir akademik. Mestinya lu cek dulu dong, pernyataan Pak Tamrin itu bener nggak. Kalo perlu wasapan dulu kek ke Pak Tamrin, tanyain. Atau cari referensi lain. Lu jangan ikut-ikutan menafikan kepakaran dong, dengan asal jeplak. Kurangin penyakit para buzzeRp dan influenceRp yang cuma bikin heboh dan malas melakukan tradisi riset untuk check and recheck. Kalo udah klir, baru lu sebar. Klik bait juga lu, ah!”

Atau biar dibilang bukan bagian dari para pembunuh kepakaran, mungkin bisa juga bilang begini: “Nji, lu mirip ya dengan apa yang dikatakan filsuf Kierkegaard: people demand freedom of speech as a compensation for the freedom of thought which they seldom use.” 

Seruan di atas secara hukum memenuhi atau mendekati kaidah pembuktian terbalik dalam hukum kan? Jadi si Pandji dulu mestinya yang membuktikan apakah pernyataan Tamrin itu benar atau tidak. Jangan bebani ke para netijen yang ngeroyokin Pandji dong. Netijen mah udah sibuk memantau dan ngomel-ngomel di medsos, jangan dikasih tugas baru. Apalagi keributan ini tidak akan terjadi kalau Pandji nggak berisik, mengurangi keganjenan, dan cermat dalam bermedsos.

Dengan begitu semua jadi kena geser kan. Si Pandji kena, Pak Tamrin juga. Netijen mah, ya sesuai SOP-nya: Kayak orang lagi mancing ikan, nunggu pelampung bergerak, langsung tariiik!

Alasan tambahan lain kenapa saya setuju agar Pandji diserbu, ya karena di dunia media sosial Pak Tamrin pasti kalah abu lah dari Pandji. Kendati Tamrin lebih ilmuwan dari Pandji, tapi seperti kata Iqbal, ini masa keilmuan/kepakaran sudah mulai ditilep. Lah, Ade Armando yang akademisi aja udah mulai geser jadi seleb YouTube. Artinya lagi, kalau Youtube dianggap sebagai ladang pembantaian kepakaran seperti yang dicemaskan banyak orang, tidak sedikit lho akademisi atau pakar yang juga demen main di killing field ini. Ye nggak sih?

Makanya nggak salah mereka yang mengritik Pandji. Panggungmu killing field-mu. Mulutmu harimaumu. Siapa bermain api terbakar, bermain air basah. Air beriak tanda tak dalam. Inget kan dulu ketika kecil? Kalau ada lima anak bermain, seorang dari mereka kentut, biasanya dia juga yang pertama kali teriak, “Woi, bau kentut, nih!”

Apalagi, Bal—nah ini!—sebagai sesama pendukung Kretek Nusantara, misalnya Pandji ngutip pendapat seorang akademisi, atau katakan pendapat WHO, yang bilang, “Komunitas Kretek dan mereka yang mendukung kretek itu elitis karena hanya mendukung perusahaan-perusahaan rokok. Kami yang anti-kretek inilah yang lebih mendukung rakyat bawah dan para petani,” apa kamu akan tetap selow dengan tetap membela Pandji?

Bae-bae ah.

BACA JUGA Balasan untuk Tulisan Iqbal Aji Daryono dan Alasan Tepat Menyalahkan Pandji Pragiwaksono dan esai Saleh Abdullah lainnya.

Baca Juga:  Daripada Coach Kira, Tsubasa Cocoknya Dilatih oleh Sajuri Sahid Saja!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
16


Komentar

Comments are closed.