Kasta Media Sosial Itu Semu, Berhenti Berdebat Soal Siapa yang Paling Asyik

Artikel

Muhammad Sachrul Basyari

Banyak si kucing yang tiba-tiba jadi singa kalau di media sosial. Nggak heran, soalnya realitas di media sosial itu beda banget sama di dunia nyata. Sekarang orang-orang bahkan seolah bikin batasan aneh dan kasta media sosial yang sebenarnya semu.

Kalau saya pikir sih, media sosial itu seperti “dunia ajaib” di mana manusia bisa menembus segala keterbatasan untuk meraih apa yang diinginkannya. Lha iya, di sana kita bisa mengasah kreativitas tanpa fasilitas mahal, mendapatkan relasi hebat tanpa privilese keluarga, berbagi ilmu secara efektif tanpa aturan yang ribet, hingga menjadi tajir melintir gara-gara hal sepele. 

Contohnya tentu saja Mang Oleh yang sedang viral di media sosial. Keterkenalannya berimbas pada penjualan odadingnya yang jadi laris manis hanya gara-gara sebuah kalimat ikonik, “…rasanya? Anjing banget!”

Siapa sangka kalimat yang terkesan kasar dan tak patut dicontoh itu membawa keberuntungan? Itulah ajaibnya media sosial. Saya harap keberadaan media sosial tetap membawa keseruan dan keuntungan bagi kita semua, ya.

Seiring berjalannya waktu, berbagai jenis media sosial bermunculan dengan keunggulannya masing-masing. Misalnya, Facebook dengan tampilan yang lengkap dan profesional, Twitter yang lebih simple dan asyik untuk menyampaikan uneg-uneg, Line yang minimalis namun fiturnya lengkap, Instagram seru untuk berbagi foto, TikTok untuk berbagi video, dan masih banyak lagi. Apa pun macamnya, pada dasarnya itu semua sama-sama media sosial.

Coba perhatikan, di setiap media sosial, setidaknya yang saya sebutkan tadi, pasti ada fitur post dan comment, hampir di semua aplikasi media sosial pun punya fitur chat dan like/love. Artinya, fungsi media sosial itu serupa. Namun, entah siapa yang pertama kali mencetuskan adanya kasta media sosial. 

Pernah dengar stigma anak Facebook? Ya, itulah contohnya. Facebook diidentikkan dengan penggunanya yang kebanyakan nggak kekinian, jadul, dan nggak bisa move on. Dulu, saking malunya kalau sampai ketahuan masih main Facebook, saya kadang buka aplikasi ini secara sembunyi-sembunyi biar nggak kelihatan teman di sekitar. 

Teman saya pernah ngomong begini, “Ih, kok kamu masih main FB sih? Alay banget!” katanya sambil memicingkan mata. Segitu jijiknya kah kalau saya masih main Facebook?

Memang sih, banyak aib yang tersimpan di akun Facebook saya. Mulai dari foto selfie pertama sampai status-status hasil pemikiran pribadi yang saat itu masih bocah. Bayangkan, karya-karya saya versi bocah dijadikan penilaian untuk diri saya yang sekarang, gila kali. 

Kebetulan media sosial yang pertama kali saya gunakan sejak kecil ya Facebook. Kalau saat itu saya memulai dari Twitter, pasti sama saja kok: Twitter akan menjadi tempat aib-aib saya versi bocah tersimpan. Nggak mungkin kan masih bocah punya pemikiran elegan hanya karena menggunakan aplikasi Twitter?

Hal yang sama menimpa TikTok pada awal kemunculannya di Indonesia. Orang-orang menganggap remeh media sosial yang satu ini karena dianggap sebagai tempat berbagi konten video yang lebay. TikTok seolah berada paling bawah dalam kasta media sosial. 

Sampai-sampai, Bowo si artis TikTok dibenci banyak orang karena video-videonya di aplikasi ini. Sekarang berbanding terbalik, TikTok justru menjadi media sosial yang profitable sehingga dijadikan tempat promosi barang dagangan oleh banyak pengusaha. Barangkali di antara kalian ada yang pernah meremehkan TikTok tapi sekarang promosi bisnisnya di TikTok, hehehe.

Berbanding terbalik dengan anak Twitter yang jumawa entah sejak kapan. Tahu-tahu ada sebuah kiriman di Facebook yang kira-kira isinya begini, “Males bercandaan di Facebook, pada baperan. Nggak kayak anak Twitter, nggak baperan karena terbiasa nge-jokes secara savage. Twitter keras, Bos!” 

Lha saya heran, terus kenapa? Kalau seseorang merupakan anak Twitter bukan berarti dia bebas bikin orang lain tersinggung, kan? Bilang saja nggak mau menjaga sikap, nggak usah sembunyi di balik nama “anak Twitter”. Media sosial nggak punya kasta.

Saya tekankan kembali, pada dasarnya semua media sosial itu sama: ada fitur post dan comment, beberapa di antaranya ada pula fitur chat, dan like/love. Semua media sosial menghadirkan fitur tersebut, selain untuk memudahkan hubungan komunikasi, juga supaya hukum aksi dan reaksi tetap berlangsung. Jadi, kalau kirimanmu menuai banyak kontra, itu artinya aksimu tidak disukai oleh kebanyakan orang. Titik. Bukan karena kamu anak Twitter sedangkan mereka anak Facebook, atau semacamnya. Masa di zaman bebas begini media sosial saja dibedakan berdasarkan kasta yang sebenarnya semu belaka.

BACA JUGA 4 Makna Kata ‘Baperan’ yang Toksik Sekali ya, Saudara-saudara dan tulisan Muhammad Sachrul Basyari lainnya. 

Baca Juga:  Seberapa Nyinyir Kamu di Media Sosial?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
14


Komentar

Comments are closed.