Jakob Oetama yang Secerdik Ular dan Selembut Merpati – Terminal Mojok

Jakob Oetama yang Secerdik Ular dan Selembut Merpati

Featured

Saleh Abdullah

“Berdasar info dari BAKIN, maka Anda saya minta untuk hanya bekerja sebagai wartawan kota. Jangan meliput berita-berita politik!” begitu kata mendiang Jakob Oetama kepada eks wartawan Indonesia Raya (diberedel Soeharto pada 1974, katanya karena kasus Malari, padahal bukan), Jus Soema di Pradja. Pesan itu dikatakan Jacob ketika Jus baru diterima sebagai wartawan harian Kompas, Februari 1976.

Sebagai wartawan hasil gemblengan wartawan kawakan Mochtar Lubis, tentu sulit buat Jus menghindar sepenuhnya dari pengamatan dinamika politik. Itulah yang bikin membuatnya mengusulkan kepada Jakob Oetama agar Kompas memuat demo-demo mahasiswa yang mulai marak di akhir 1977 dan memuncak pada 1978, memprotes Soeharto dan NKK/BKK.

Di bulan November 1977 yang mulai dibasahi musim hujan, serombongan mahasiswa UI bergerak jalan kaki dari kampus Rawamangun ke kampus Salemba. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Pahlawanku Kami Mengadu”. Jus mengusulkan Kompas memuat foto atau berita demo-demo tersebut.

Entah bagaimana ceritanya, usul Jus diterima. Halaman pertama Kompas memuat foto-foto demo mahasiswa. Menurut cerita Jus, pemuatan itu berlanjut beberapa kali. Tidak hanya foto-foto, kadang juga ada beritanya.

Jeger! Ketika eskalasi gerakan mahasiswa meningkat, belasan koran dan majalah diberedel pada 26 Januari 1978 karena pemberitaan mereka. Ketujuh harian yang diberedel adalah Kompas, The Indonesia Times, PELITA, Sinar Harapan, Merdeka, Sinar Pagi, dan Pos Sore.

“Ini gara-gara si Jus mengusulkan agar Kompas memuat berita-berita protes mahasiswa nih!” begitu kata Jakob Oetama ketika Jus memasuki ruang redaksi pada pukul 3 di hari pemberedelan itu.

Bertahun-tahun kemudian, saat Jus menceritakan momen itu kepada saya, ia berkata, “Bener kata Pak Mochtar Lubis ke gue setelah tiga bulan gue di Kompas. Pak Mochtar ketika itu nanya ke gue, ‘Gimana kamu di Kompas, tambah pinter atau tambah bodoh?’”

Sejarah mencatat, ketujuh harian tersebut setuju meminta maaf kepada Soeharto, meminta izin agar bisa diterbitkan kembali seraya ashiap untuk tunduk patuh pada kekuasaan. Surat perjanjian yang ditandatangani para pemimpin redaksi tujuh harian tersebut bertanggal 26 Januari 1978.

“Kapal kita sedang karam, Jus,” Jus mengenang perkataan Jakob Oetama kepadanya ketika Jus memprotes perjanjian tersebut. Menurut Jus, Kompas tidak melakukan kesalahan. Jus akhirnya memutuskan keluar dari Kompas demi mempertahankan pendiriannya. Ia mungkin satu-satunya biji saga yang mencoba tetap keras di antara sekian banyak jurnalis ketika itu.

Perlu dua tahun setelah peristiwa itu baru Jakob Oetama, mungkin, baru bisa memahami dan menerima sikap Jus. Menurut beberapa wartawan Kompas kolega Jus, sejak saat itulah Jakob mulai merasa dekat dengan Jus.

“Si Jus itu jadi teman ngobrol Pak Jakob, terutama kalau beliau sedang menghadapi masalah,” kata mendiang wartawan Kompas dan diplomat August Parengkuan.

Wartawan senior Kompas sampai menganggap Jakob Oetama punya hubungan spesial dengan Jus. Jakob Oetama sering curhat ke Jus tentang banyak hal. Termasuk hal yang, menurut Jus, “paling ditakuti Jakob Oetama” ketika itu: kasus tabloid Monitor.

Monitor yang dipimpin mendiang Arswendo Atmowiloto pernah memuat angket “Kagum 5 Juta” yang memicu reaksi keras umat Islam karena dianggap melecehkan Nabi Muhammad saw. Jakob Oetama kuatir sekali dengan protes tokoh-tokoh Islam. Secara khusus ia meminta Jus, yang jadi “pengangguran” setelah keluar dari Kompas, untuk menemaninya dalam sebuah perjalanan. Hanya untuk curhat.

Jus bisa memahami perasaan Jakob Oetama. Ia berupaya menenangkannya agar tak perlu merasa kuatir.

“Tenang aja, Pak. Tidak akan terjadi apa-apa lah. Saya jamin! Percaya deh.”

Saya kira Jus benar. Kalau melihat bagaimana kekuasaan Soeharto bekerja di semua lini kehidupan kala itu, rasanya tidak mungkin akan ada reaksi seperti gelombang demo berjilid-jilid dari umat Islam. Bahkan Soeharto dengan tangan besinya sudah berkali-kali memukul umat Islam.

“Pak Jakob itu orang Jawa yang baik secara pribadi. Kalaupun ada kekeliruannya, mungkin karena ia terlalu memikirkan ribuan karyawannya,” begitu kata Jus. Oleh karena keprihatinan itu juga, masih berdasar cerita Jus, Jakob Oetama tidak setuju majalah sastra Horison yang ketika itu dipimpin mendiang Hamsad Rangkuti hendak diambil alih orang-orang Tempo pasca majalah ini diberedel pada 1994.

Horison berada di bawah Yayasan Indonesia yang dipimpin oleh Mochtar Lubis dan Jakob Oetama (menggantikan mendiang P.K. Ojong). Ketika Tempo berniat mengambil alih Horison, Hamsad dijanjikan akan diberi “uang usir” sebesar 10 juta rupiah. Hal inilah yang dibicarakan Hamsad ke Jakob Oetama. Secara halus, Jakob bertanya ke Hamsad: “Apa uang 10 juta itu cukup buat Bung? Bung sudah punya rumah, mobil?”

Berkat nasihat-nasihat Jakob ke Hamsad, pengambilalihan Horison urung terjadi.

Perasaan halus kejawaan ini pula yang membuat Jakob Oetama tidak nyaman ketika dimarahi lewat enam lembar pesan faksimile yang ia terima suatu ketika.

Cerita di tahun 1994 itu seperti ini. Setelah majalah Tempo diberedel, para pemilik dan pekerjanya menggugat pemberedelan tersebut ke PTUN. Proses sidang sudah sampai di tahap mendengarkan saksi-saksi. Satu pertanyaan yang ingin didengar jawabannya oleh majelis hakim adalah: apakah Menteri Penerangan meminta izin Dewan Pers terkait keputusannya melakukan pembredelan?

Orang-orang Tempo ketika itu merasa akan sangat penting bila Jakob Oetama, sebagai ketua Dewan Pers, bisa memberi kesaksian. Tidak mudah untuk memintanya hadir di persidangan. Wartawan Tempo Almarhum Yusril Jalinus lalu menghubungi Jus Soema di Pradja untuk melobi Jakob Oetama. Jus lalu menelepon Jakob menyampaikan harapan Tempo. Masih tidak mudah karena Jakob rupanya sudah diwanti-wanti Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika, Subrata, bahkan oleh Menteri Penerangan Harmoko langsung.

Tapi Jus punya mantra ajaib yang sama sekali di luar dugaan Jakob.

“Pak Jakob ingat saja apa yang dibilang Alkitab, Matius 10 ayat 16: ‘Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebab itu, hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.’”

“Heh!? Mulai kapan kamu baca-baca Alkitab?” tanya Jakob.

“Waduh, Pak Jakob… saya sering membaca Alkitab, Taurat, Al-Qur’an, Pak….” (Dalam hati Jus tertawa sendiri. Jangankan Alkitab dan Taurat yang tidak pernah ia lihat barangnya, bahkan Al-Qur’an yang ia punya pun jarang-jarang disentuh.)

Akhirnya Jakob menjadi selembut merpati dan bersedia hadir ke PTUN dengan satu syarat: Jus harus hadir menemaninya. Jus datang, tapi hanya menunggu di luar ruang pengadilan. Dari apa yang Jus dengar, Jakob Oetama memberikan kesaksian menguntungkan Tempo. Bahwa Harmoko tidak pernah berkonsultasi ke Dewan Pers terkait rencananya melakukan pemberedelan. Atas kesaksian itu, majelis hakim yang dipimpin Benjamin Mangkoedilaga memenangkan Tempo.

Usai persidangan, Jakob Oetama meminta Jus menemuinya di kantor besok pagi. “Ada hal penting yang mau saya bicarakan,” katanya. Jam 8 pagi esok harinya Jus datang.

“Jus, saya ini orang Jawa. Saya tidak bisa menerima makian dan kata-kata kasar yang beberapa waktu lalu dikirimkan ke saya lewat faksimile sebanyak enam halaman. Enam halaman, Jus! Saya dituduh macam-macam, termasuk dianggap tidak mendukung kebebasan pers.”

“Siapa yang kirim, Pak?”

“Tapi untungnya dia sudah minta maaf langsung ke saya, usai pengadilan kemarin.”

Jakob Oetama menyebut sebuah nama. Seseorang yang pernah menjadi menteri dan beberapa jabatan elite strategis di era Reformasi, serta berasal dari luar Jawa.

Saya sendiri tidak mengenal Pak Jakob, hanya sering mendengar cerita-ceritanya dari Jus Soema di Pradja. Itulah mengapa saya terkejut ketika keluar dari penjara Kejaksaan Agung sebagai tahanan politik pada 1996, setiba di rumah kontrakan saya mendapat sebuah parsel besar bertuliskan: “Welcome home Saleh”. Pengirimnya: Harian Kompas. Saya tidak tahu harus berterima kasih ke siapa. Tapi karena Anda, Pak Jakob, adalah pimpinan seluruh grup Kompas, saya merasa harus berterima kasih ke Anda.

Selamat jalan, Pak Jakob….

Foto diri Jakob Oetama pada 1971, via Wikimedia Commons

BACA JUGA Mengenang Pak Ajip Rosidi: Prabu Siliwangi Itu Mitos, Tidak Ada Wujudnya! dan tulisan Saleh Abdullah lainnya.

Baca Juga:  Jurnalisme Sensasional: Bikin Judul Click Bait, Ngutip Komentar Bukan Ahli, Ngurusin Urusan Orang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
16


Komentar

Comments are closed.