Di Balik Penangkapan Dua Menteri, Jangan-jangan Jokowi Adalah… – Terminal Mojok

Di Balik Penangkapan Dua Menteri, Jangan-jangan Jokowi Adalah…

Artikel

Saleh Abdullah

“The lord works in mysterious ways,” kata Joliet, ketika keluar dari penjara, kepada adiknya Elwood, dalam film komedi musik Blues Brothers. Kita tidak pernah tahu rahasia Tuhan di balik sebuah peristiwa. Kita tidak bisa mengakses laporan Raqib dan Atid. Amien Rais mungkin bisa. Kita big no. Semua peranti modern seperti mesin pencari internet, tidak bakalan bisa nembus. Sudahlah.

Sejak Jokowi memiliki jabatan publik dari kepala daerah sampai menduduki singgasana di utara tugu Monas itu, tak sedikit ia diterjang kritik, hoaks, dan fitnah. Dari keturunan aseng lah, PKI lah, sampai antek pemerintah RRC. Majalah Tempo ikutan mem-Pinokio-kan dia di sampil majalahnya yang kemudian digoreng-rebus sana-sini.

Tapi, Jokowi bagai penangkal petir tangguh. Semua ia hadapi dengan gontai. Postur tubuh semampai itu tetap berdiri tegak lurus menghadapi badai serangan. Betul-betul bak bambang yudhoyono alias ksatria yang memenangi medan laga’.

***

Dalam konsep penanggulangan bencana, apabila sebuah komunitas bisa beradaptasi (to adapt) terhadap ancaman bencana, lalu menyerapnya (to absorb) dan mengubah ancaman itu untuk dimanfaatkan (to transform), bisa dikatakan komunitas tersebut telah bersifat tangguh (resilient). Sifat yang sama, resilient, juga dimiliki Jokowi. Suka tidak suka kita harus akui itu, yang mana tecermin dalam sekian bukti ini.

Pertama, to adapt dan to absorb. Jelang pilpres 2014, Jokowi diserang dari berbagai arah. Isu PKI mungkin yang paling gencar. Tapi, apakah ketika menang Jokowi lalu membuat pembalasan, dengan menagih janji Amien Rais untuk jalan kaki Jogja-Jakarta, misalnya? Nggak tuh. Begitu kalemnya ia sampai saya curiga, diam-diam Jokowi ngomong ke satu-dua orang dekatnya:

“Itu Pak Amien kan cuma mau nunjukin, demi kesehatannya, beliau sangat suka olahraga jalan kaki. Rada ekstrem sih kalo mesti jalan kaki Yogya-Jakarta. Tapi kan, poinnya olahraga. Bagus itu. Orang tua harus rajin olahraga, tho? Namanya niat baik, sudah dapat pahala satu ketika diniatkan, jadi dua pahala kalau dilaksanakan. Kalau tidak dilaksanakan, ya rapopo. Kan, sudah dapat satu….”

Lalu misalnya lagi, ketika diledek secara implisit oleh Prabowo sebagai “tampang Boyolali”, yang mana maksudnya nggak pantas jadi orang kaya dan bakal diusir kalau masuk hotel, Jokowi mana ada mara-mara. Justru air tuba dibalas air susu. Prabowo diajak boncengan di kabinet. Adem. Walaupun dampaknya konstelasi cebong kampret jadi limbo sih. Nginyem semua. Mau ikut gabung berintegrasi, gengsi. Apalagi level cebong baru di level to adapt. Padahal mah, yang namanya makhluk amfibi, wataknya memang beradaptasi di darat dan di air. Basic.

Kedua, mulai to transform. Anak dan mantu ikut kontestasi di pilkada, serangan lain segera menerpa. Jokowi dituding nepotis lewat cara membangun dinasti. Tapi bapak dan anak ini kompak menjawab. Keduanya beranggapan pilkada tuh kontestasi doang. Rakyat tidak suka, gampang, jangan dipilih. Dikritik bahwa secara etika hal tersebut salah, juga tidak mempan. Alasannya karena secara prosedural tidak ada yang dilanggar. Semua fain-fain aja. Mau diborong semua anggota keluarga nyalon di semua pilkada seluruh Indonesia, emang menyalahi aturan? Lagian sejak kapan di Indonesia ada pengadilan etika? Siapa hakim etikanya? Jaksa penuntutnya? Lawyer spesialis etika ada? UU etikanya ada? Kritikan mental.

Ketiga, to transform. Ini perkara omnibus law. Di sini para cebies memanfaatkan momentum konsolidasinya kembali. Secara kompak mereka menyerukan untuk menghentikan protes jalanan yang menolak omnibus law. “Sampaikan dengan cara intelek dong. Jangan merusak. Tulis argumenmu. Gunakan jalur hukum lewat judicial review (ciye… tho’at hukum),” seru para buzzeRp dan influenceRp.

Diingatkan bahwa protes jalanan juga jadi sarana para intelektual babon dunia macam Foucault, Bourdieu, Sartre, Chomsky dan lainnya, dan bahwa hak menyatakan pendapat merupakan produk para intelek, para cebong beranggapan, “Nggak usah kebarat-baratan! Ini Indonesia!”

Kritik terhadap omnibus law nyaris hanya digencarkan oleh para aktivis, akademisi, dan tokoh agama. Para politisi mah bersatu dalam keragaman (beragam partainya, tapi satu koor suaranya). Tapi, sekali lagi, mungkin karena the lord works in mysterious ways tadi, ndilalah Jokowi menandatangani pengesahan UU Cipta Kerja, si omnibus law pertama, yang mana di dalamnya ada teks lucu mengundang kritik jilid selanjutnya alias aktivis mah kaga ada matinya. Pasal yang berbunyi “Minyak dan gas bumi adalah minyak bumi dan gas bumi” dianggap lucu. Bahkan ada netijen yang nambahin redaksinya jadi “Minyak dan gas bumi adalah minyak Bumi dan gas Bumi, dan bukan minyak dan gas yang ada di planet Mars.”

Saya ngebayangin Jokowi tetap santai seperti biasanya. Sambil senyum tipis-tipis blio mungkin berkata: “Ini rakyat kita pada pinter banget ya. Pada berbakat jadi editor dan penulis. Ini hal baik bagi perkembangan dunia literasi kita. Alhamdulillah.”

Keempat, nah ini. Hanya dalam hitungan belasan hari saja, dua menterinya ketangkap basah melakukan tindak korupsi dan dicokok KPK. Rekor! Selain rekor ringkas dan cepatnya KPK bergerak, juga hanya Kementerian Sosial ini yang para menterinya mencatatkan hattrick korupsi. Bachtiar Chamsyah (PPP), disusul Idrus Marham (Golkar), lalu Juliari Batubara (PDIP). Dua menteri terakhir bahkan di periode Jokowi semua. Bisa jadi ini kayak “kutukan” mendiang presiden Gus Dur, yang dalam periode singkat masa kepresidenannya yang fenomenal, mematikan “lumbung yang sudah dikuasai tikus” ini.

Bisa jadi kedua menteri itu, KKP dan Kemensos, salah dalam menafsirkan lontaran marah Jokowi beberapa waktu lalu agar para menterinya bekerja keras dan, kalau perlu, extraordinary dalam penanggulangan Covid-19. Saking semangatnya, extraordinary ditafsirkan sebagai tindakan ekstralegal, nabrak hukum. Jokowi mungkin kesal. Lagi pusing mikirin penanggulangan Covid-19, kok malah ada yang nilep bantuan kemanusiaan. “Yang paling menyakitkan dari sebuah pengkhianatan ialah ketika pelakunya orang dekat sendiri,” kata sebuah kutipan anonim.

Begawan ekonomi dunia Amartya Sen menganggap bahwa implementasi pemberantasan korupsi mesti bekerja di dalam struktur dan sistem demokratik. Di sini para aktivis bisa punya alasan yang tidak menonjok ruang hampa: “Kalau ngikutin anjuran Sen, ketika korupsi masih marak mulai dari level bawah sampai ke level lingkaran ring satu, berarti demokrasi belum bekerja dong…,.” 

Tapi Jokowi ada keturunan Boyolali. Tahu kan muasal kata Boyolali? Mbok yo lali. Sudah, lupakan peristiwa buruk itu. Saya membayangkan, dengan kadar bias yang tinggi tentu saja, Jokowi akan berkata: “Sudah, sudah. Mari kembali kerja, kerja, kerja secara extraordinary. Life must go on. Biarkan KPK bekerja dengan baik. Saya dan Pak Luhut tidak akan intervensi.” 

Ha, terus apa hikmah terselubung dari penangkapan dua menteri kemarin? Ya agar publik kembali memberi kepercayaan tinggi pada KPK. No worries, KPK masih punya tanduk. Apalagi ketuanya pernah bilang akan memberi ancaman hukuman mati bagi koruptor dana bencana.

Semua kemampuan Jokowi dalam beradaptasi, mengabsorbsi, dan mentransformasi ancaman (persoalan) politik menjadi keuntungan politik, akan memperlihatkan betapa tangguhnya ia. Mirip slogan Pegadaian: “Mengatasi masalah tanpa masalah.” Dan kalau semua itu berhasil berjalan mulus, jangan-jangan Jokowi adalah Imam Mahdi yang dijanjikan.

Siapa tahu kan?

Foto oleh Pemprov DKI Jakarta via Wikimedia Commons

BACA JUGA Jokowi Duluuu Banget Pernah Bilang: ‘Periode Pertama Infrastruktur, Kedua SDM, dst.’ dan tulisan Saleh Abdullah lainnya. Follow Facebook Saleh Abdullah.

Baca Juga:  Arteria Dahlan Tak Layak Dapat Gelar Terhormat Bukan Karena Dia Cucu PKI
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.