Bung Jokowi, Saya Sangat Meragukan Komitmen Situ Tentang Demokrasi

Demokrasi gotong royong yang digagasnya, menunjukan bahwa Jokowi sama seperti Soekarno dan Soeharto dulu—tidak suka oposisi, karenanya kaga demen dikritik

Featured

Saleh Abdullah

Di Indonesia tak ada oposisi. Demokrasi kita gotong royong.”

Begitu kurang lebih pernyataan Jokowi beberapa waktu lalu, yang dilansir beberapa media online. Pernyataan tersebut ia ungkapkan merespon pertanyaan tentang beberapa wakil partai, yang sebelumnya berada di posisi vis a vis dengannya ketika pilpres, tapi kini memilih berada di satu sofa empuk kabinet.

Tanpa perlu berkeringat, pernyataan Jokowi jelas arahnya. Selain merangkul dan menyumpal semua yang rewel dan bawel, juga agar di Parlemen tidak ada atau semakin sedikit partai yang reseh.

Seperti dalam falsafah Jawa, mematikan huruf hidup itu dengan dipangku. Maka berilah masing-masing mereka kursi. Dijamin layu, lemes, letoy, lalu mampus.

Lewat pernyataan itu pula Jokowi seperti tidak ingin diganggu oleh berisiknya kritik.

Kita sudah lihat dan saksikan bagaimana kejamnya rejim ini menghadapi demo-demo mahasiswa dan pelajar kemarin. Saya adalah orang tua dari seorang mahasiswa demonstran yang gendang telinganya rusak parah, dipukuli aparat.

Maka sulit bagi saya untuk percaya komitmen Jokowi pada demokrasi, seperti pernah ia nyatakan, setelah bertemu dengan 40 orang tokoh, beberapa waktu lalu.

Pernyataan terakhir di atas mengkonfirmasi bahwa Jokowi tidak ingin diganggu. Mungkin tanpa ia sadari, ia berada di barisan apa yang dikatakan Norman Vincent: “The trouble with most of us is that we would rather be ruined by praise than saved by criticism.”

Ya, kebanyakan elit politik lebih suka dibuat busuk oleh pujian, katimbang diselamatkan oleh kritik.

Diktator Sukarno dulu, setelah membubarkan konstituante yang terpilih lewat Pemilu paling demokratis menurut kesaksian Herbert Feith, mencabut UUDS 50 yang memuat semua pasal Deklarasi HAM Universal jauh sebelum negara-negara lain lakukan, lalu membuat wacana Demokrasi Terpimpin, dengan menganggap demokrasi itu kebarat-baratan. Beberapa intelektual, wartawan, aktifis yang nekat berhadapan dengan Sukarno ditangkap dan dipenjara.

Baca Juga:  Hal-Hal Baik yang Harusnya Dapat Kita Petik dari Liga Inggris

Kediktatoran Sukarno diikuti oleh KW duanya, Suharto. Tiran yang bertanggung jawab atas pembunuhan jutaan manusia ini, merasa paling pancasilais dari siapapun. Dalam fantasinya mungkin saja Suharto merasa sebagai burung garuda pancasila beneran yang di dadanya tertatto kelima sila itu. Demokrasi Pancasila jadi jualannya. Yang berani mengritiknya, ditangkap dan dituduh subversif dengan ancaman hukuman maksimal, mati!

Pokoknya Suhartolah yang maha benar atas segala pancasilanya. Yang lain minggir!

Bujuk buneng, setelah masa Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pancasila beserta kedua dikator tirannya lewat, muncul KW tiganya, Demokrasi Gotong Royong, made in pak Widodo.

Ketiga orang di atas punya kesamaan barang dagangan, yang cuma digonta ganti adalah merek dagangnya. Tidak suka oposisi, karenanya kaga demen dikritik, dan menganggap bahwa demokrasi barat tidak cocok di negeri ini.

Terus ngapain antum semua masih kebarat-baratan dengan tetap menggunakan kata demokrasi? Kata demokrasi itu jelas barat banget, Abdulloh…

Supaya gak dibilang munafik, jangan pake kata demokrasi, lah. Kecuali kalo kalian punya gejala bipolar semua.

Dalam demokrasi, kritik harus diakomodir. Salah satu kendaraannya ya oposisi. Gak suka oposisi, jelas artinya gak suka dikritik. Logika elementer gitu mah, Mukidi juga ngerti. Coba aja telusuri lagi makna demokrasi yang kelahiran dan ari-arinya memang ditanam di barat itu.

Jadi, demokrasi ya demokrasi. Peun! Titik! Penambahan ajektif terpimpin kek, pancasila kek, atau gotong royong, cuma akal-akalan licik untuk mengurangi makna dan pengejawantahan prinsip dan nilai demokrasi itu sendiri.

Anehnya, dari seabrek parpol negeri ini, yang mestinya menjalani tanggungjawab pembawa aspirasi arus bawah itu, kok malah diem aja menggadapi wacana demokrasi gotong royong itu? Emangnya kalian mengorganisir diri dalam partai kalian itu buat mancing di pikiran yang butek doang?

Baca Juga:  Yang Heboh dan Menyedihkan dari Banjir Jakarta: Jokowi, Coki, Yuni Shara, dan Foto Ketimpangan

Atau mungkin karena bokong kalian sudah dipaku dan dipangku, maka kalian sudah ga bisa lagi berdiri tegak lurus?

BACA JUGA Dari Masinton Hingga Surya Paloh: Citra Politisi Penyebar Kebohongan atau tulisan Saleh Abdullah lainnya. Follow Facebook  Saleh Abdullah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
24

Komentar

Comments are closed.