Apa Bedanya ‘Akbar Tandjung Connection’ dengan ‘HMI Connection’?

Beranikah HMI yang sekarang memegang kepengurusan, memutus ‘Akbar Tandjung Connection’ dalam proses kaderisasi?

Featured

Avatar

Terima kasih pada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang telah menjadi salah satu inisiator genosida 1965, sekaligus melengserkan Soekarno. Coba tidak ada HMI, Indonesia pasti sudah murtad (baca: komunis).

Bagaimanapun, HMI merupakan organisasi mahasiswa yang paling tua di Indonesia. Lho kok bisa? Ya bisa dong. Indonesia belum diakui kedaulatan secara utuh saja, HMI sudah lahir. Hebat toh?

Artinya, ini bisa dibilang bahwa tidak ada sejarah Indonesia tanpa kehadiran HMI. Organisasi ini telah eksis dan survive sejak periode mempertahankan kemerdekaan hingga sekarang lho! Nice. Perjalanan bangsa Indonesia dikawal oleh anak-anak muda yang tergabung dalam organisasi HMI. Dari permulaan menjadi organisasi independen, menjadi underbow Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) di bawah rezim Soekarno, menjadi anak kandung Golkar pada Orde Baru, hingga mendistribusikan kadernya ke pelbagai partai politik di era reformasi, telah HMI lakukan.

Menguatnya panggung politik HMI diawali dengan masuknya HMI dalam tubuh aliansi yang mengatasnamakan dirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada periode setelah meletusnya G30S/1965. KAMI mengusung isu Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Pertama menuntut pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, kedua perombakan kabinet Dwikora, dan ketiga menuntut untuk menurunkan harga pangan yang saat itu sedang melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi (jangan sambil nyanyi bacanya!)

Celakanya, pelengseran Soekarno secara sistematis oleh barisan KAMI diikuti oleh pembunuhan massal. Mereka yang dituduh komunis, atau yang diindikasi menjadi simpatisan PKI dibunuh tanpa pengadilan dan sepihak!

Nah, sejak pembentukan KAMI yang salah satunya di inisiasi oleh kader HMI, muncullah nama-nama tokoh baru yang melanjutkan tongkat estafet pemerintahan di bawah rezim Orde Baru. Siapakah ia? Jeng jeng. Ya benar, Akbar Tandjung (ambil sepedanya!).

Nama Akbar Tanjung kini sedang ramai diperbincangkan ulang oleh publik. Bagaimana tidak? Ia didakwa terlibat langsung terhadap upaya pemakzulan presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur setelah reformasi. Ini diulas dengan data sejarah yang kompeherensif melalui buku yang berjudul Menjerat Gus Dur karya Virdika Rizky Utama.

Baca Juga:  Ormek Kayak HMI dan PMII yang Akurnya Cuma Lewat Ucapan "Selamat Ulang Tahun" Itu Kenapa, sih?

Sontak, buku itu direspons oleh banyak pihak salah satunya yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan dalam artikel Mojok.co yang berjudul Salah Ya Kalau Presiden Gus Dur Dilengserkan ‘HMI Connection’?. Tidak lama kemudian tulisan Muhidin dibalas dengan artikel yang berjudul Gus Dur Bukan Dilengserkan ‘HMI Connection’ tapi ‘Akbar Tandjung Connection’.

Membaca dan mencermati artikel kanda Safar Banggai saya menjadi bingung sendiri. Bagaimana tidak? Apa yang membedakan antara ‘HMI Connection’ dengan ‘Akbar Tandjung Connection’? bukankah mereka sama dan saling melengkapi bagai Soju ketemu Yakult. Nikmat, Lur!

Memahami HMI memang pusingnya bukan main. Sebagai seorang yang pernah aktif di dunia gerakan mahasiswa, tentu banyak sekali rekan sejawat yang berasal dari organisasi HMI. Mereka beragam, tapi ya begitu, yang baik minoritas, dan yang culas menjadi mayoritas di tubuh HMI.

Tulisan kanda Safar Banggai memang sepenuhnya tidak salah. Tapi, jangan lupa bahwa dalam tubuh HMI itu, yang menjadi stakeholder mayoritas diisi oleh mereka yang mempunyai libido politik tinggi. Gampangane, mereka yang culas, berkuasa ditubuh HMI.

Bayangkan, salah satu kakanda pernah bercerita kepada saya bahwa untuk sekadar berebut posisi ketua cabang salah satu kota di tempat saya tinggal saja, para calon berani merogoh kocek puluhan juta rupiah. Uang tersebut didapat dari para kakanda yang menjabat di wilayah setempat. Apa kurang fair jika dakwaan ‘HMI Connection’ itu menjurus kepada para kakanda yang oportunis?

Bingung toh? Sama saya juga! Itu belum lagi ditambah sebuah fakta bahwa aktivis HAM Munir merupakan kader HMI, lalu aktivis ’98 dari Universitas Airlangga yang dihilangkan oleh rezim Orde Baru, Herman Hendrawan, juga pernah aktif di organisasi HMI. Mereka orang baik? Tentu saja!

Di sisi lain, HMI melalui akun media sosial Instagram @officialpbhmi dengan bangganya masih meliput diskusi eksklusif dengan senior tercinta mereka, ya, Akbar Tandjung. Apa salah jika muncul sebuah persepsi yang mengatakan Akbar Tandjung sama dengan HMI, HMI sama dengan Akbar Tandjung? Saya semakin bingung sebenarnya organisasi macam apa HMI ini. Di satu sisi, sekumpulan orang baik yang berperan penting dalam membela kebenaran tetap diingat (dan menjadi klaim) oleh kader HMI. Di sisi lain, panggung sentral organisasi HMI masih saja diisi oleh orang-orang culas semacam Akbar Tandjung dan para penerusnya.

Baca Juga:  Tak Selamanya Teologi Menyebabkan Benturan Keras: Buktinya di Indonesia Teologi Malah Dijadikan Guyonan

Jadi gampangane kanda Safar Banggai, tulisan kanda yang bermaksud meluruskan fakta dalam tubuh HMI itu tidak berdampak signifikan. Malah itu bisa saja digunakan oleh kanda-kanda yang punya libido politik tinggi sebagai klaim bahwa mereka (numpang) progresif.

Fakta ‘Akbar Tandjung Connection’ itu jangan dijadikan dalih bahwa HMI itu organisasi murni untuk bangsa, tapi justru adanya fakta bahwa terdapat parasit di internal HMI, bisa dijadikan sebuah tantangan ke depan. Beranikah HMI yang sekarang memegang kepengurusan, memutus ‘Akbar Tandjung Connection’ dalam proses kaderisasi?

((((((((((untuk bangsa)))))))))))))

Hemat saya, selama pembangunan relasi HMI-KAHMI masih berkaitan erat dan mempunyai titik temu kepentingan dengan ‘Akbar Tandjung Connection’, ya jangan salah apabila kritik pedas masih mengantre untuk menggempur organisasi HMI. Jika benar klaim bahwa pembentukan dan pemikiran kader-kader HMI itu murni untuk bangsa, alangkah baiknya, ada keberanian dari kanda internal HMI untuk mendegradasi peran Akbar Tandjung-Akbar Tandjung muda, Anas Urbaningrum-Anas Urbaningrum muda, supaya terlahir sebuah generasi emas HMI yang melahirkan Munir-Munir muda, ehem, untuk bangsa Indonesia yang kita cintai.

Hidup Rakyat! Eh salah, maksudnya, YAKUSA!

BACA JUGA Salah Apa HMI Kok Dihujat? atau tulisan Appridzani Syahfrullah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
19

Komentar

Comments are closed.