Anies Baswedan Mau Selamatkan Kehidupan kok Dianggap Ngejatuhin Presiden? – Terminal Mojok

Anies Baswedan Mau Selamatkan Kehidupan kok Dianggap Ngejatuhin Presiden?

Uncategorized

Saleh Abdullah

Keputusan Gubernur DKI Anies Baswedan menerapkan kembali PSBB Jakarta menuai badai counter attack. Politisi Gerindra Arief Poyuono, yang kayaknya punya dendam masa lalu, malah menuding Anies pengin menggulingkan posisi Presiden Jokowi. Bukan main memang politisi ini. Tau betul caranya memancing dengan otak yang keruh.

Mungkin masih merasa kurang puas dengan serangan itu, Poyuono juga usul agar Anies dinonaktifkan dari jabatannya. Udah kayak ngejatuhin orang lalu ditibanin tangga. Kalo semua itu benar-benar terjadi, Anies bakal bernasib kayak Barca di Liga Champion dan epilog-epilognya. Terus jutaan suara pemilih yang milih Anies di Pilkada DKI mau dianggap apa, Rief? Belum pernah ya rumah situ dimassa jutaan orang?

Bukan cuma para politisi, termasuk para orang-orang PSI dan beberapa menteri yang vis-à-vis sama rencana Anies, para netijen juga ikut masuk gelanggang. Baz-buz sengatan ditebar di berbagai media sosial. Barisan sakit hati yang begitu menyayangi dan merawat dengan baik kekecewaan mereka karena Anies Baswedan menang di pilkada DKI sambil menolak move on merasa mendapat umpan lambung untuk menyerbu Anies.

Sudah tiga tahun sejak pilkada 2017 itu berlangsung, kenapa pikiran dan perasaan yang gabener itu terus dipelihara?

Saya perlu ngejelasin posisi saya ketika nulis ini. Satu kemungkinan kecil pun tidak ada pada saya untuk memilih Anies Baswedan ketika ia nyalon di pilkada DKI. Tidak mungkin!

Ha, gimana, paspor saya aja Yogyakarta, gimana bisa saya punya hak politik di DKI. Tapi tidak bisa sama sekali itu membuat saya kehilangan hak mengemukakan pendapat dan kritik tentang sepak terjang Anies di panggung politik. Saya sudah melakukannya, bahkan berkali-kali. Done!

Jadi kalau ada pembaca yang nganggep tulisan ini indikator bahwa saya simpatisan Anies, sini yok kita sleding-sledingan.

Balik lagi. Pilkada DKI berlangsung sesuai demokrasi elektoral yang disepakati. Anies menang. Mekanisme pengaduan dibuka untuk mereka yang susah ikhlas menerima kemenangan Anies, termasuk buat mereka yang ketidaksukaan di otaknya masih segede Gajah Mada. Selesai, bungkus! Suka nggak suka, kita kudu menerima fakta Anies pemimpin sah dan legitim di DKI.

Tapi, emang ya, syahwat politik tuh kayak karat yang susah diamplas. Seperti virus corona, karat syahwat kebencian dan ketidaksukaan itu tetap menyebar dan disebartularkan. Begitulah contoh nyata sebuah bahaya laten bekerja. Mungkin mereka dilahirkan memang dengan bakat membenci yang kaga bole kendor. Mereka yang sering ngeledek lawan-lawan untuk pindah ke jazirah Arab, kalo nggak suka dengan Anies, kenapa kagak pindah aja dari DKI ke Gabon sana?

Watak dan sikap seperti itulah yang berpotensi merusak nilai-nilai demokrasi dan HAM. Hasil pemilihan demokratis, di mana semua piranti demokrasi elektoral digunakan, hasilnya sulit atau tidak mau diterima dengan legawa. Ngelempar bumerang ke mereka yang antum tuduh antidemokrasi dan HAM, bumerangnya malah balik ketelan sendiri terus nyangkut di tenggorokan.

Astaga, bahkan di saat-saat kita sedang menghadapi bahaya tak kasat mata paling mematikan, kurva sikap membenci itu masih aja susah hilang atau grafiknya turun! Kadang landai sebentar, tapi lalu naik lagi, dan bisa berpotensi semakin kencang. Lama-lama grafik penderita Covid bakal kesalip nih.

Sebaiknya Anies Baswedan emang bersikap “keras kepala” aja dalam menerapkan kebijakan PSBB Jakarta. Sebuah keputusan yang, seperti mengikuti anjuran Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, “extraordinary” demi keselamatan rakyat, kok malah dianggap ingin menjatuhkan Presiden? Give me a break!

Seperti kadang kita curiga, walau juga bisa ditelusuri kaitannya ketika ada elite politik meng-endorse sebuah kebijakan, pasti ada udang di balik fuyunghai. Tapi pada rencana Anies untuk menerapkan PSBB Jakarta lagi, saya tidak atau belum melihat adanya hasrat kepentingan tertentu di balik rencananya itu. Anies, saya kira, sadar banget kebijakannya bakal menyengat kontroversi. Ia juga pasti sudah bisa menduga akan mendulang badai serangan balik, dari yang kadar serangannya seolah rada-rada “masuk akal” sampai yang masya Allah.

Husnudzan saya sih, dan semoga benar, Anies mengutamakan keselamatan nyawa banyak orang. Keselamatan warganya, keluarga, dan teman-teman yang kita cintai bersama.

Oke, mungkin ada yang beranggapan bahwa ini adalah situasi dilematis: mau ekonomi tidak semakin buruk atau mengendalikan bencana dengan akibat ekonomi jadi lebih buruk lagi. Situasinya di-framing sedilematis begitu. Mungkin saja praktiknya memang dilematis. Banyak pengusaha sudah mulai lempar handuk kok. Tapi pada akhirnya harus ada yang diprioritaskan. Dan dalam situasi gawat seperti ini, yang utama di atas segalanya adalah keselamatan jiwa manusia, keselamatan hidup rakyat. Jadi kalau Anies berupaya melakukan tindakan “extraordinary” demi menyelamatkan kehidupan warganya lalu dikecam sana-sini, yang mau ngelawan dan ngerusak arahan-arahan Jokowi sebenarnya siapa, Rief, Arief?

Di dalam prinsip-prinsip hak asasi manusia, ada hak-hak yang tidak boleh ditangguhkan (non-derogable rights) pemenuhannya dalam keadaan apa pun, yaitu hak-hak dasar terkait kehidupan manusia yang harus dihormati dan dipenuhi perlindungannya. Ingat ya, dalam keadaan apa pun.

Sebagai orang Yogya yang tidak punya hak politik di DKI, sebagai orang yang sering punya kritik terhadap Anies, dan yang utama: karena sebagian besar keluarga dan teman-teman tercinta kita hidup di Jakarta, dari kaki Gunung Merapi saya ingin katakan:

Saya mendukung rencana PSBB Anies Baswedan. Total!

Foto oleh Crs Indika via Wikimedia Commons

BACA JUGA Di Politik, Kalau Tidak Bisa Membuat Orang Yakin, Bikin Mereka Bingung! dan tulisan Saleh Abdullah lainnya. Follow Facebook Saleh Abdullah.

Baca Juga:  Salat Jumat Dua Kloter Beserta Segala Drama yang Menyertainya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
21


Komentar

Comments are closed.