8 Alasan Membenci Mahasiswa Ambis. Makanya Jangan Saklek! – Terminal Mojok

8 Alasan Membenci Mahasiswa Ambis. Makanya Jangan Saklek!

Artikel

Muhammad Sachrul Basyari

Apakah kamu pernah menemukan mahasiswa yang berusaha keras menjadi sosok yang aktif, rajin, pintar, dan selalu mendapatkan nilai bagus? Ya, seperti itulah kira-kira apa yang dinamakan ‘mahasiswa ambis’. Memang, tidak ada yang salah untuk menjadi mahasiswa yang teladan dan mendapatkan pencapaian yang baik di perkuliahan. Tapi, cara ngambis yang tidak baik akan membuatmu dibenci oleh orang-orang.

Sebenarnya motivasi mahasiswa menjadi sosok yang ambisius itu tidak selalu negatif, ya. Ada beberapa teman saya menjadi mahasiswa ambis karena tuntutan keluarga, ingin memperbaiki nasib hidupnya, memberi teladan pada adik-adiknya, mempertahankan beasiswa, dan masih banyak yang lainnya.

Saya sendiri pernah berusaha menjadi sosok mahasiswa ambis tanpa memikirkan pandangan teman-teman sekelas terhadap diri saya sendiri. Memang nggak ada yang salah, tapi ambisius yang keterlaluan bakal bikin nggak punya teman.

Misuhin teman yang nilainya lebih kecil

Pernah nggak sih kamu misuh-misuh ke teman gara-gara nilai suatu matkul tidak sesuai ekspetasi? Hati-hati, siapa tahu temanmu itu mendapatkan nilainya lebih kecil. Alih-alih bersimpati kepadamu, ia bisa jadi malah merasa jengkel atau memandangmu tidak bersyukur atas pencapaian nilai yang bagus baginya. Mending misuhin mereka yang nilainya lebih bagus. Siapa tahu berujung baku hantam.

Perfeksionis dalam kelompok, duh ribet!

Namanya juga “kelompok”, pasti ada lebih dari satu kepala di dalamnya. Mulai dari yang rajin hingga yang malas harus kerja bareng-bareng. Namun, sering kali ada salah satu dari anggota kelompok yang sangat menuntut hasil yang sempurna sampai-sampai hasil kerja anggota lain dihapus begitu saja karena tidak memenuhi kriteria. Kalau dibiarkan si mahasiswa ambis menjadi toxic dalam kelompoknya. Anggota lain bakal merasa kinerja mereka buruk dan males kerjasama lagi. Membuat kesepakatan untuk saling koreksi rasanya lebih bermanfaat daripada saling menyalahkan.

Terlalu saklek alias serba sesuai aturan, nggak pengertian banget pokoknya

Sering kali mahasiswa ambis suka cepu soal deadline. Bagaikan alarm yang membuat dosen teringat tenggat waktu pengumpulan tugas. Hal ini tidak hanya sekadar menunjukkan tingkah saklek, tapi juga kurang simpati terhadap mahasiswa lainnya. Harus diketahui bahwa latar belakang kehidupan setiap mahasiswa dalam satu kelas itu berbeda-beda. Mungkin ada yang sambil bekerja part-time, mengurus adik-adiknya di rumah, terkendala gawai rusak atau kuota internet habis sehingga lupa atau tidak bisa menyelesaikan tugas secara optimal dan tepat waktu. Alih-alih ‘membunuh’ teman, lebih baik mengingatkan yang lain tentang tenggat waktu pengumpulan tugas via grup chat kelas dan menawarkan bantuan jika ada yang terkendala.

Baca Juga:  Tips Travelling (Nekat) untuk Mahasiswa Low Budget

Menyimpan informasi sendiri, circle-nya first!

Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba penanggung jawab matkul menyampaikan materi perkuliahan atau kisi-kisi dari dosen saat semalam sebelum ujian sedangkan dia dan kawan-kawannya sudah mendapatkan dan mempelajarinya terlebih dahulu. Ada yang seperti itu? Ada. Terlebih kalau penanggung jawab matkul adalah seorang yang ambisius. Cuma circle-nya dan dia sendiri yang dikasih bocoran demi mendapatkan nilai bagus di kelas.

Pelit ilmu, kuburannya sempit!

Orang-orang di sekitar mahasiswa ambis ini mungkin pernah merasa ingin mengajaknya diskusi untuk memecahkan kisi-kisi ujian. Tapi sungkan karena dia akan banyak ngeles. Terkadang diberi bocoran jawaban yang kurang tepat biar si ambis jadi peraih nilai tertinggi di kelas. Atau, teman sekelompok si ambis terlihat redup saat presentasi karena hanya si ambis yang menguasai materi sedangkan yang lain tidak diajak memahami materi. Dia hanya ingin terlihat bersinar sednirian. Hal ini sering membuat beberapa mahasiswa jengkel. Pinter kok nggak bagi-bagi, sombong amat~

Sikut sana, sikut sini

Terutama mereka yang mutual-an dengan akun medsos si mahasiswa ambis, pasti menyaksikan bagaimana keseharian status atau stories-nya. Nilai si ini lebih besar, auto dinyinyirin. Si itu akrab dengan dosen, langsung ngatain caper. Sepertinya tidak bisa tenang melihat orang lain lebih sukses dan bahagia, ya.

Ekspresi wajah dan nada bicara yang menyebalkan

Hati-hati, hal inilah yang paling instan membuat orang-orang membenci si ambis. Tingkah laku seperti senyum meremehkan, memincingkan mata, nada sanggahan yang ngegas, atau bahkan melotot kepada teman yang sedang berpendapat akan membuat seseorang terkesan sebagai mahasiswa ambis yang jahat. Mana ada yang mau berteman dengan orang model begini. Gunakanlah cara yang etis layaknya orang berpendidikan. Toh, membangun citra yang galak nggak akan membuat kadar kepintaran meningkat, kok.

Ingin terkesan men-skakmat teman yang sedang presentasi

Apakah mungkin seorang yang tidak bisa mengendarai sepeda dipaksa bersepeda dengan lancar saat itu juga? Alih-alih memaksanya bersepeda, lebih baik membantu atau memberi saran agar ia lancar mengendarai sepeda. Menurut saya, seperti itu pula seharusnya suasana kelas ketika teman sedang presentasi. Bukan berarti tidak boleh kritis, namun sampaikanlah dengan cara yang etis dan jangan memaksa apabila temanmu benar-benar mentok tidak bisa menemukan jawaban saat itu juga. Toh, selalu ada sesi diskusi sebagai ruang bagi audiens untuk menambah atau menyanggah jawaban dan waktu lain untuk berdiskusi kembali. Diskusi itu soal menemukan formulasi, bukan saling menjatuhkan harga diri. Masak mahasiswa ambis begini aja nggak bisa bedain.

Baca Juga:  Saya Anak STIS dan Beginilah Enaknya Masuk Sekolah Kedinasan

Itulah sekilas tentang delapan alasan yang paling sering saya dengar dari teman-teman di kampus mengapa mahasiswa ambis dibenci oleh mahasiswa lainnya. Buat calon ambis mending pikir-pikir dulu aja!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.