Mari kita bayangkan detail keseharian ibu beranak satu.

Mengikuti dan diikuti bocil ke mana pun pergi karena si bocil nggak punya sejawat lain. Tak ada pengawal pribadi yang lebih setia daripada bocil ini. Termasuk setia ngintil sampai ke kamar mandi.

Drama kamar mandi adalah drama yang setia menemani si ibu tiap hari. Memenuhi panggilan alam paling darurat disaksikan pandangan mata berkaca-kaca setelah tangisan membahana dari sang pengawal setia adalah hal biasa. Yang belum pernah ngerasain, silakan membayangkan, hahaha.

Menyusui anak serasa nggak pernah selesai. Segala hajat diri harus ditunda demi urusan satu ini. Haus, lapar, keringatan butuh mandi, terima paket dari kurir, belanja di satu-satunya tukang sayur yang pas lewat, kebelet pipis, kebelet pup, semua ditunda sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Inilah horor yang tak pernah difilmkan.

Kalau si bocil sudah mulai makan, telapak tangan sering jadi kanebo kering karena sisa nasi yang menempel. Kaku. Acara makan ini sering juga jadi ajang adu ketangkasan si ibu masukin sendok ke mulut bocil versus ketangkasan si bocil menepisnya.

Kalau si ibu lagi ada nggak seimbang hormonnya, acara itu kadang diakhiri dengan nangis bareng. Oleh sebab yang berbeda, tentu saja.

Kalau si bocil mulai bisa pecicilan, segala kerjaan hanya bisa dilakukan menunggu dia tidur. Soalnya, meleng sedikit, si bocah bisa masuk parit.

Maka, sambil menyusui, si ibu mendata semua pekerjaan yang akan dihajar setelah si bocil lelap. Mandi, cuci baju, cuci piring, beberes, nyapu, masak, ngepel, angkat jemuran, jemur cucian, nyeterika, ngurus orderan, dandan, dan fesbukan. Semua itu akan dilaksanakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Rencananya.

Tapi rencana sering tinggal rencana. Yang terjadi kemudian, si bocil terlelap sementara, ibunya terlelap sementahun.

Atau: si ibu tepar kelaparan, si bocil yang telah kenyang punya stamina tambahan buat pecicilan maksimal.

Atau yang mendingan: si bocil tidur, si ibu nyetatus, minta pertimbangan pada dunia, mana kiranya pekerjaan yang harus diselesaikan duluan. Lalu seluruh dunia gegap gempita memberikan saran, dan si ibu berbalas komen sampai keasyikan, lalu si bocil bangun dan mulai lagi pecicilan. Sip.

Baca juga:  Mengenal Momo Challenge, Tren Terbaru yang Penuh Mara Bahaya

Semua kerjaan masih utuh, waktu yang terbuang tak bisa kembali, perut sendiri minta diisi, dan si bocil full batery buat pecicilan lagi. Asoy sekali.

Atau begitu si bocil tidur, si ibu dengan sigap membereskan segala keruwetan sampai titik iler penghabisan. Lalu semua prestasi itu di-upload di medsos, dan komen pertama ternyata berbunyi, “Gitu doang kok pamer. Biasa aja keles. Anak baru satu juga, apa susahnya?”

Si ibu jadi pengin meremas hape seorang-orangnya.

Pada beberapa orang, kadang ada horor tambahan. Bagaimana mungkin setelah semua kelelahan yang so much, so hard, and so constantly macam begini, badan malah melebar segede metromini? Bagaimana bisa? Eta terangkanlah ….

Pengalaman ibu beranak satu yang demikian memang nyata, konkret, dan empiris. Akurat, valid, dan sahih. Memang begitu adanya. Begitu memang adanya. Adanya memang begitu.

Tapi, jika validitas dan kesahihan pengalaman itu mengungkung begitu rupa, sampai si ibu berpikir, tak mungkin terjadi yang selain itu, ketika lagi mainan Facebook, lalu si ibu menemukan cerita-cerita yang berkebalikan, si ibu akan meragukannya dan membantahnya ….

***

Kisah itu adalah ilustrasi bagaimana seseorang bisa membantah pendapat dan pengalaman orang lain berdasarkan pengalamannya sendiri. Pengalamannya yang empiris, sahih, valid dijadikan tolok ukur menilai pengalaman orang lain yang juga valid, sahih, empiris. Hanya karena dunianya begitu-begitu saja, dia pikir pasti semua orang dunianya begitu juga.

Cara menilai seperti ini termasuk sesat pikir (logical fallacy). Ia juga jamak ditemukan dalam kasus-kasus seperti berikut.

Punya anak satu aja repot. Anak dua, tiga dan seterusnyanya pasti lebih repot. (Hanya karena punya anak satu repot itu nyata, bukan berarti punya banyak anak tanpa rasa repot itu nggak nyata kan?)

Ibu yang baby blues itu pasti mengada-ada. (Hanya karena udah punya lima bayi selalu happy, tak berarti ibu depresi dengan satu bayi itu ilusi.)

Baca juga:  Bermacam Cara Orang Minta Jatah Uang untuk Lebaran

Ibu yang melahirkan dengan cara caesar itu pasti karena manja. (Hanya karena melahirkan sepuluh anak dengan mudah itu nyata, bukan berarti melahirkan sekali aja susah itu mengada-ada.)

Ibu yang melahirkan secara caesar pasti karena gangguan jin. (Orang kalau mau operasi, jin pasti udah dilepas di luar, ganti pake baju operasi yang komprang-komprang itu. Jadi nggak mungkinlah jinnya ganggu.)

Perempuan yang pakai cadar itu pasti teroris. (Hanya karena teroris memakai cadar itu ada, bukan berarti muslimah bercadar yang membaktikan hidupnya tanpa pamrih untuk sesama lintas agama itu tak ada.)

Jomblo itu pasti ngenes. (Hanya karena menikah lalu bahagia setelahnya itu beneran, bukan berarti tak menikah dan tetap berbahagia itu bohongan.)

Perempuan lulusan S-3 itu pasti sombong, sengak, dan kemaki. (Hanya karena kau lulusan D-3, tak perlulah bilang begitu.)

Yang muji-muji pemerintah itu pasti buzzer bayaran. (Hanya karena kau memuji orang setelah dibayar, bukan berarti semua orang begitu, Tong.)

Yang suka ngritik Jokowi pasti hater. (Buset dah. Nggak ada statement yang lebih mentah lagi?)

Yang lolos tantangan aylaview pasti suami romantis. (Itu suami yang update, Jeng.)

Begitulah. Contoh lain, silahkan cari sendiri. Bisa nggak selesai-selesai artikel ini kalau diteruskan.

Disinyalir, para pengidap sesat pikir seperti itu merupakan kontributor terbesar segala silang sengkarut kesalahpahaman yang memicu war di dunia maya. Kalau world war sudah seabad ini baru sampai jilid dua, war yang ini ditinggal meleng dikit udah beda jilidnya. War yang topik-topiknya semakin hari semakin nggilani karena nggak penting sekaligus penting.

Begitulah. Kalau kau ketemu netizen yang jadi hakim tanpa toga, jadi tukang stempel tanpa diorder, tukang cap asal mangap, dan tukang vonis yang nggak logis, bisa jadi dialah penderita sesat pikir berjenis fallacy of dramatic instance. Kasihanilah dia. Mungkin dia hanya belum punya kesempatan untuk melihat dunia yang lebih beragam. Dan tidak ada yang lebih menyedihkan dari orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles